Varsha dan Gisel berjalan beriringan sambil membawa tumpukan buku cetak biologi yang bejibun banyaknya. Meskipun sudah dibagi dua, tetap saja Varsha kesulitan membawa buku-buku itu.
Seharusnya Varsha sendiri yang harus mengembalikan buku-buku itu ke perpustakaan sebagai hukuman karena Varsha tidur di kelas saat jam pelajaran berlangsung. Tapi karena Gisel tidak tega, dia memutuskan untuk membantu Varsha. Salsa dan Vela sendiri sudah kabur ke kantin.
Gisel memasuki perpustakaan. Meletakkan buku-buku itu ke tempat seharusnya. Setelah itu, Varsha masuk ke dalam namun dia menabrak seseorang membuat buku-buku itu terjatuh.
Varsha berjongkok untuk mengambil buku-buku yang dibawanya begitu juga dengan orang yang ditabrak Varsha. Mereka berdua menumpuk buku-buku itu menjadi satu. Varsha mendongak lantas tersenyum. “Al?”
Al menatap Varsha lantas tersenyum tipis. “Gue aja,” ucap Al mengambil alih tumpukan buku itu lantas mengembalikannya ke tempat seharusnya. Varsha sendiri mengekor di belakang Al.
Senyum kecil tercetak di bibir Gisel melihat Varsha bersama dengan Al. dia mendekati Varsha lantas menyenggol lengannya. “Good luck.”
Sesaat kemudian, Gisel berjalan keluar dari perpustakaan meninggalkan Varsha.
“Lo kok bawa buku sebanyak itu sendirian?” tanya Al. Dia menarik sebuah kursi di ruang baca lantas mendudukinya begitu juga dengan Varsha yang duduk di sebelahnya.
“Berdua sih sama Gisel. Tadi aku ketiduran di kelas makanya dihukum gitu.”
“Lo sakit? Mau gue anter pulang aja?”
Varsha tersenyum senang. “Nggak usah. Aku nggak papa kok. Cuma ngantuk aja tadi.”
Al mengangguk singkat sambil menghela napas lega.
“Kamu sendiri kok di sini?” tanya Varsha.
“Nyari buku buat adek kelas yang ikut bimbingan fisika juga.”
Varsha manggut-manggut. “Uh baiknya,” puji Varsha dengan senyuman lebar.
“Al?”
Varsha dan Al menoleh ketika mendengar suara yang sangat familier memanggil Al. Mereka berdua menemukan Amara yang tengah melangkah mendekati mereka. Al beranjak dari tempatnya begitu juga dengan Varsha.
“Hai Varsha,” sapa Amara saat melihat Varsha. Varsha hanya tersenyum.
Amara kembali menoleh pada Al. “Tadi gue dikasih tau katanya nggak ada yang bisa anterin ke Universitas Candrakusuma buat lomba besok. Jadi, kita berangkat sendiri. Lo jemput gue ya besok ke rumah, berkas-berkasnya udah ada di gue semua,” ucap Amara yang diangguki singkat oleh Al. “Tadinya si gue mau telpon lo aja tapi hp lo ada di lab makanya gue ke sini.”
“Gue duluan ya, bye.” Amara melangkah meninggalkan Al dan Varsha kembali.
Al menoleh pada Varsha yang kini menunduk dengan raut wajah lesu. “Kenapa?”
“Kamu besok pergi ya berdua sama Amara? Berapa lama?”
“Mungkin seharian penuh. Soalnya ada beberapa babak.”
Varsha menghela napas pelan. Masih dengan raut wajah lesu.
Gemas. Al menarik pipi Varsha gemas membuat Varsha mengaduh. Senyum geli tercetak di bibir Al. “Nggak usah cemburu.”
“Enggak kok!” elak Varsha.
“Yakin?”
“Eh mmm iya aku cemburu!” Sesaat kemudian Varsha berlari keluar meninggalkan Al sendiri yang terkekeh geli.
Hangat. Itu yang hati Al rasakan saat bersama dengan Varsha. Ada rasa bahagia tersendiri bisa melihat wajah Varsha.
Di sisi lain, El, dan Aiden tengah berjalan memasuki perpustakaan. Mata mereka mendarat pada Al yang tengah tersenyum geli sendirian.
“Tuh kan bener Al di sini!” seru El. “Dimana ada Varsha di situ ada Al, kan Varsha buntutnya Al!”
Mereka berdua memang tengah mencari Al karena Al tidak bisa dihubungi. Saat di depan perpustakaan, mereka mlihat Varsha keluar dari dalam dengan pipi yang merona. El pun langsung menarik Aiden untuk masuk ke dalam perpustakaan.
Al berdehem. Memasang kembali wajah datar. Stay cool!
“Nih Al kerjain! Ntar abis istirahat kedua dikumpulin soalnya!” seru El sambil meletakkan buku berisikan lima soal fisika di meja depan Al.
“Ngapain kasih ke gue?”
“Yaelah! Kerjain napa biar kita-kita bisa nyontek! Gue ngeliat angkanya aja udah blur!” seru Aiden.
Al berdecak sebal. Meskipun begitu, dia tetap duduk lantas mengerjakan soal tersebut.
“Eh tadi lo apain Varsha kok merah gitu pipinya?” tanya Aiden sambil merangkul bahu Al namun langsung disingkirkan oleh empunya. Al mengedikkan bahu tak acuh.
“Nunggu apaan lagi sih lo? Kakak ipar udah nungguin lo nembak tau! Ya masa harus kakak ipar lagi yang nembak lo! Cih apaan!” sungut El.
“Gimana?” tanya Al yang membuat kening El dan Aiden berkerut.
“Apanya?”
“Caranya.”
Diam sejenak. Sedetik kemudian, Aiden dan El ngakak di tempat. Al mengumpat pelan dalam hati. Saking kerasnya suara Aiden dan El, mereka bahkan sampai ditegur penjaga perpustakaan.
“Gue suka nih gobloknya natural.,” ucap Aiden. “Masa nembak cewek aja bingung, sini belajar sama ‘Aa Aiden aja yang udah lulus S2 jurusan percintaan dengan gelar cum laude!”
El menggeplak kepala Aiden geram. “GOBLOK!”
“Kebanyakan diisi angka sih otaknya, makanya nggak muat buat cewek.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvarsha
FantasySetelah kedatangan Varsha Callista Valencia, Alfarellza Keandre Asvathama harus terjebak dengan gadis cantik yang terus mengejar dirinya tanpa malu tapi sialnya gadis itu justru selalu membuat hatinya menghangat. Tapi Al tetaplah Al. Bagi dirinya...
