Varsha berlari memasuki rumah sambil berteriak mengucapkan kata daddy. Saat mendengar suara langkah kaki dari tangga, Varsha segera mengalihkan pandangannya. Ayahnya sedang menuruni tangga untuk menemuinya, Varsha tersenyum. Tapi, senyum Varsha lenyap ketika melihat koper yang ada di tangan ayahnya.
“Dad, Daddy mau kemana?” tanya Varsha saat ayahnya sudah selesai menuruni satu per satu anak tangga.
“Pergi.”
Varsha memegang lengan ayahnya untuk mencegahkan langkah kakinya. “Daddy mau pergi kemana? Dad… Daddy baru aja pulang masa pergi lagi?”
“Saya sudah tidak ada urusan di sini.”
Ayah Varsha melepaskan tangan Varsha secara kasar, lalu melangkah cepat meninggalkan Varsha.
“Dad, jangan tinggalin Varsha.”
Varsha berjalan cepat menyusul langkah kaki ayahnya. Air mata yang baru saja berhenti kini kembali mengalir deras. Berkali-kali Varsha berusaha menggapai tangan ayahnya, tapi ayahnya selalu menepis.
“Mommy udah tinggalin Varsha, Daddy jangan tinggal Varsha juga.”
Sesaat setelah keluar dari rumah, ayah Varsha menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan menatap Varsha yang menatapnya penuh harap.
“Ibu kamu saja sudah tidak peduli lagi dengan kamu, jadi harusnya kamu bersyukur saya masih mau menanggung kamu bukannya malah meminta ini itu ke saya.”
“Dad….”
Varsha terisak mendengar ucapan ayahnya.
“Asal kamu tahu, kehadiran kamu tidak pernah saya harapkan. Kamu itu hanya sebuah kesalahan. Kamu yang sudah merusak semuanya.”
Varsha menutup mulutnya untuk mencegah isakannya terdengar. Tubuhnya seketika lemas membuatnya harus bersandar pada dinding rumah agar dapat tetap berdiri.
“Pa! Ayo! Katanya mau beliin aku sepatu futsal baru!”
Varsha dan juga ayahnya menoleh pada mobil ayah Varsha yang terparkir di depan rumah. Seorang anak laki-laki duduk di kursi yang berada di samping kemudi.
“Iya, sebentar.”
Ayah Varsha kembali menoleh pada Varsha yang hanya bisa menatapnya lemah. Hati Varsha benar-benar hancur melihat semua ini. Dia hanya bisa menangis terisak menahan rasa sakit yang membuncah di hatinya.
“Kamu tenang saja, saya akan tetap membiayai hidup kamu seperti biasanya,” ucap ayah Varsha sebelum berbalik badan dan melangkah menuju mobilnya.
Varsha sudah tidak bisa lagi mencegah ayahnya untuk pergi. Tubuhnya terlalu lemah, bahkan kakinya sudah tidak sanggup lagi menopah beban tubuhnya. Perlahan, Varsha terduduk lemah di teras dengan air mata yang mengalir tanpa henti.
Mobil ayah Varsha perlahan melaju, lalu hilang saat memasuki jalan raya di depan. Varsha hanya bisa menatap semua itu dengan nanar. Varsha berteriak keras. Kedua tangannya terkepal kuat.
“Kenapa kayak gini? Varsha salah apa?”
***
Tidak ada yang bisa Varsha lakukan sekarang selain duduk dengan kedua kaki ditekuk di pojok kamar yang sekarang sudah gelap karena hari yang sudah berganti malam. Sejak tadi pagi, Varsha tidak henti-hentinya menangis mengingat semua yang terjadi hari ini. Hari Varsha selalu berat, tapi kali ini terasa lebih berat.
Varsha kehilangan arah.
Varsha kehilangan pegangan.
Varsha kehilangan semuanya.
Varsha memegangi kepalanya yang terasa pening akibat terlalu lama menangis. Varsha sudah lelah menangis, tapi air matanya tidak mau berhenti. Semua ini begitu menyakitkan baginya.
Varsha mulai memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan. Sejak pulang dari jogging, Varsha tidak melakukan apapun termasuk mengganti bajunya yang terkena air hujan. Bahkan baju itu kini sudah kering dipakai.
Secara perlahan, Varsha mulai merasakan tubuhnya tidak enak. Dingin, pusing, bahkan mual. Varsha memeluk tubuhnya semakin erat.
Varsha meraba lantai di sampingnya, lalu mengambil ponsel yang sedari tadi tergeletak di sana. Sinar ponsel menyinari wajah Varsha saat ponsel itu dinyalakan. Varsha mencari nomor Al, lalu menghubunginya.
Satu detik dua detik hanya dering yang terdengar di telinga Varsha. Layar ponselnya menunjukkan kata berdering, tapi Al tidak menjawab teleponnya.
“Aku butuh kamu, Al. Plis jawab, Al.”
Sekali lagi Varsha mencoba menghubungi Al, tapi jawabannya tetap sama. Al tidak mengangkat telepon darinya.
Sekarang, Varsha berganti mencari nomor Rangga, satu-satunya orang yang mungkin bisa membantu Varsha saat ini. Tidak butuh waktu lama, Rangga menjawab panggilan darinya.
“Halo, Sha. Ada apa?”
“Ngga, tolongin gue,” ucap Varsha lirih.
“Sha? Sha, lo kenapa?”
“Tolongin gue.”
“Oke oke, gue ke tempat lo sekarang. Tunggu gue bentar ya, Sha.”
Rangga mematikan sambungan telepon itu. Ponsel Varsha terjatuh, kepala Varsha benar-benar terasa pusing. Tubuhnya lemas. Pandangan Varsha memburam, semakin lama semakin buruk, lalu semuanya gelap.
***
Rangga menoleh pada Varsha saat merasakan gerakan di bahunya. Dia dan Varsha sekarang berada di sebuah taksi yang akan mengantar mereka ke rumah sakit setelah melihat Varsha terbaring pingsan di kamarnya.
“Sha?”
Varsha memegangi kepalanya yang terasa pusing, lalu perlahan mulai membuka mata.
“Ngga?”
“Apa yang lo rasain? Pusing atau apa? Badan lo panas banget, Sha.”
Varsha mengangguk pelan. “Gue pusing banget.”
Rangga mengusap puncak kepala Varsha pelan. “Sabar ya, bentar lagi kita sampai.”
“Ngga, gue salah apa sih?” tanya Varsha lirih.
Varsha tidak sanggup menghadapi semua ini sendirian. Varsha sudah tidak sanggup. Varsha perempuan biasa yang lemah apalagi dengan semua beban hidup yang dia jalani sekarang.
“Apa salah gue kalau gue lahir di dunia ini? Gue nggak pernah minta dilahirkan di dunia ini. Kalau kehadiran gue enggak pernah diharapkan, kenapa gue harus lahir, Ngga? Kalau nggak ada orang yang peduli dan sayang sama gue, kenapa Tuhan nggak ambil nyawa gue aja? Gue nggak sanggup lagi, Ngga.”
Rangga tertegun mendengar ucapan Varsha. Dia menarik Varsha ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan Varsha yang terisak hebat.
“Lo nggak boleh ngomong gitu, Sha. Lo ada di sini karena Tuhan sayang sama lo.”
“Tapi kenapa harus gue yang alami semua ini, Ngga? Kenapa harus gue?”
“Karena lo cewek yang kuat. Lo bisa hadapi semua ini.”
“Gue nggak sekuat itu, Ngga. Gue nggak sanggup.”
***
Rangga memapah Varsha turun dari mobil, lalu berjalan pelan memasuki rumah sakit. Varsha menolak saat Rangga menawarkan diri untuk menggendongnya, jadi Rangga hanya membantu memapah Varsha.
Di sisi lain, Al baru saja keluar dari rumah sakit itu bersama dengan Shania yang berada di sampingnya. Melihat Al dan Shania, Rangga dan Varsha menghentikan langkah mereka, begitu juga dengan Al dan Shania.
Al dan Varsha hanya bisa saling menatap dalam diam dengan rasa kecewa dalam hati mereka berdua. Selama beberapa detik, hanya kontak mata yang terjadi di antara mereka sampai suara Shania lebih dulu memcah keheningan.
“Kak Al, ayo pulang. Aku capek, pengin tidur,” celetuk Shania yang mengambil alih atensi Al.
“Ayo pulang.”
Al meraih tangan Shania, menggenggamnya, lalu melangkah pergi bersama dengan Shania. Varsha merasakan tangan Rangga menegang. Varsha tahu Rangga marah.
Varsha menoleh perlahan menatap Al yang berjalan menjauh bersama dengan Shania dengan kedua tangan mereka yang saling menggenggam.
Rasanya sangat menyakitkan.
Dalam satu kedipan mata, sebulir air mata Varsha menetes.
***
See u
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvarsha
FantasiSetelah kedatangan Varsha Callista Valencia, Alfarellza Keandre Asvathama harus terjebak dengan gadis cantik yang terus mengejar dirinya tanpa malu tapi sialnya gadis itu justru selalu membuat hatinya menghangat. Tapi Al tetaplah Al. Bagi dirinya...
