Pagi, Al!”
Al baru saja sampai di sekolah tapi dia langsung disambut senyuman manis dari Varsha. Hari ini Al berangkat lebih cepat namun ternyata Varsha lebih cepat darinya. Bukan tanpa alasan Al berangkat lebih cepat, sejak semalam teman-temannya meneror dirinya karena mereka belum mengerjakan PR.
"Apa kabar, Al?! Baik, kan?! Kamu udah sarapan belum?!"
“Al! Jawab dong! Diem aja kayak tembok! Mana temboknya jalan lagi! Al, aku lagi ngomong loh! Dosa tau nyuekin cewek cantik!”
Al menghentikan langkahnya lantas membalikkan badan. Varsha yang terkejut akan hal itu langsung memundurkan langkahnya dua kali. Setelah itu, Varsha tersenyum manis pada Al.
“Diem. Pusing kepala gue denger lo ngomong terus,” ucap Al ketus.
“Asal kamu mau jadi pacar aku! Gimana? Mau, kan? Mau, kan? Mau dong pasti!”
“Urat malu lo dimana sih? Udah putus, heh? Nggak usah kejar-kejar gue kayak gini!”
Varsha menunduk lesu. “Aku, kan, suka sama kamu,” lirihnya.
“Kalo lo suka sama gue nggak usah pake cara rendahan kayak gini! Cara lo bukannya buat gue suka sama lo, gue malah semakin ilfeel sama lo! Sikap lo ini justru buat lo jadi makin rendah di mata gue!”
Varsha memejamkan matanya erat sembari menggigit bibir bawahnya kuat. Ucapan Al begitu menusuk hatinya. Apa iya dia rendah di mata Al?
Setelah terdiam beberapa saat, Varsha mendongak menatap Al dengan senyum. Senyum yang dipaksakan.
“Maaf kalo aku pake cara rendahan kayak gini. Aku cuma mau ungkapin perasaan aku ke kamu. Itu aja kok. Maaf sekali lagi,” lirih Varsha.
Sesaat kemudian, Varsha melangkah meninggalkan Al yang terdiam di tempatnya. Apa kata-katanya terlalu kasar? Dan kenapa hatinya justru terasa sakit?
***
Al melangkah tanpa minat memasuki kelasnya. Hatinya masih terasa tidak tenang. Rasa bersalah menghantui dirinya bersamaan dengan rasa sakit yang tiba-tiba dia rasakan. Al melukai hati Varsha tapi kenapa justru hatinya yang merasa sakit?
“AKHIRNYA YANG DITUNGGU-TUNGGU DATANG JUGA!!” seru Dava yang pertama kali melihat kadatangan Al. Dava mengulurkan tangannya. “BAGI LKS!”
“Malak lo,” ucap Al datar yang hanya dibalas cengiran oleh Dava.
“Sini lah, Al, jangan pelit-pelit, gue belum ngerjain tugas nih. Gue nggak mau jadi ikan asin pagi ini,” bujuk Dava.
Al berjalan menuju mejanya lantas memberikan LKS biologi pada Dava. Namun, sebelum buku itu sampai ke tangan Dava, Aiden lebih dulu mengambilnya.
“WOI GUE DULUAN!!” seru Dava tidak terima.
Al mendudukkan tubuhnya di kursi lantas menghela napas pelan membuat Ares yang duduk di belakangnya terkekeh pelan.
“Kenapa lo?” tanya Ares tanpa menoleh pada Al. dia masih sibuk menyalin jawaban El yang dia dapatkan lebih dulu dari Al di rumah.
“Varsha belum sampe?” tanya Al membuat senyuman geli tercetak di bibir Ares. Kini Ares telah menatap Al sepenuhnya. Melupakan tugasnya.
“Kenapa lo nyariin Varsha? Tumben?”
“Tadi gue kayaknya ngomong terlalu kasar sama dia. Gue jadi kepikiran.”
“Itu sih fix lo suka sama Varsha."
“Gue nggak suka sama Varsha.”
Ares terkekeh pelan. “Halah ngeles aja lo. Jujur aja sama hati lo. Lo suka, kan, sama Varsha?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvarsha
FantasíaSetelah kedatangan Varsha Callista Valencia, Alfarellza Keandre Asvathama harus terjebak dengan gadis cantik yang terus mengejar dirinya tanpa malu tapi sialnya gadis itu justru selalu membuat hatinya menghangat. Tapi Al tetaplah Al. Bagi dirinya...
