Bagian 17

3.1K 176 3
                                        

Sean

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang dan aku baru selesai meeting bersama staf inti yang akan bekerja dalam pembukaan cabang baru restoranku nanti. jelas aku sudah terlambat dari janji temuku dengan khanza, tapi syukurnya khanza mengatakan kalau ia masih ada urusan,jadi aku bisa bernafas lega.

aku sudah mengirimkan pesan pada khanza kalau selesai salat dhuhur aku akan menjemputnya. dan disinilah aku sekarang berdiri di tengah restoran yang sialnya milik rival-ku yang sudah kalah telak. Mengingat wajah pongah adit dulu, aku jadi penasaran bagaimana muka piasnya ketika tau aku dan Khanza akan menikah hehee pasti seru!

"Permisi mas, khanza-nya ada?"

Karna sedari tadi aku sudah celingak-celinguk mencari keberadaan khanza tapi tidak juga ketemu, jadi bertanya adalah solusi yang tepat apalagi ponsel khanza pun susah dihubungi.

"Oh mba Khanza lagi di private room sama pak Adit pak" jawabnya sambil menunjuk lantai atas.

mendengar jawaban waiter itu seketika membuat dadaku bergemuruh. gulungan emosi dari dalam mendesak ingin keluar. jadi tanpa mengatakan apapun lagi bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih, aku segera beranjak tapi langkahku terhenti karna cekalan seseorang. wajahku yang sudah menggelap karna emosi pasti makin busuk saat waiter ini mencoba menghalangiku.

Woy calon bini gue lagi sama kucing garong noh!.

Mungkin orang lain akan berpikir kalau sikapku ini berlebihan. But I dont care, if you love someone you feel that you have it and try take care of it itulah yang sedang kulakukan,menjaga milikku. kalau orang lain yang saat ini bersama khanza, mungkin aku tidak akan seperti orang kebakaran jenggot. Tapi ini menjadi masalah besar karna yang bersamanya itu adit,dan mereka cuma berdua disaat aku tau jika si garong itu punya perasaan pada khanza. triple kill!?

"Maaf pak,saat ini mereka tidak ingin diganggu"

Apa-paan pelayan ini! ucapannya justru makin membuatku berang dan ingin segera menyusul mereka. Tidak akan kuberikan sedikit pun celah untuk adit mendekati khanza. aku yakin waiter ini pun bisa merasakan aura gelap dalam diriku.

"Saya sudah buat janji dengan mereka" desisku tajam. setengah berbohong.

Mungkin karna takut waiter itu akhirnya memilih percaya saja. jadi ketika melihat anggukan ragu si waiter, aku langsung meninggalkannya secepat yang aku bisa. Jika boleh aku ingin berlari, tapi sepertinya akal sehatku masih dominan untuk tidak berlari di tengah orang yang mungkin saja Sebagian mereka ada yang mengenalku.

pergerakan tanganku yang ingin meraih handle pintu terhenti ketika ucapan adit sayup-sayup terdengar karna pintu yang tidak tertutup rapat.

"Apa selama ini perlakuanku ke kamu tidak membuatmu sadar kalau aku juga mencintaimu zaa? Dari awal aku tidak pernah memandangmu seperti seorang adik. bahkan ketika aku melihatmu masih memakai baju sekolah"

aku tau saat ini aku salah karna mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi sorry jika menyangkut Khanza itu sudah termasuk teritoriku. jadi sebagai calon suami aku sangat berhak tau, dan berkat menguping aku sudah bisa menyimpulkan, jika si adit ini bukan hanya sekedar bos bagi khanza mengingat mereka sudah mengenal cukup lama. bukan tidak mungkin mereka tidak pernah saling tertarik damn! memikirkan hal itu membuat dadaku kembali bergemuruh.

"Aku kurang apa khanza hm? perhatian? kamu yang paling tau bagaimana perhatianku padamu selama ini dan juga anak-anak. peduli? bahkan aku lebih peduli padamu daripada diriku sendiri zaa. Cinta? tanpa bicara pun kamu sudah bisa melihatnya di mataku zaa. I love you so much. hingga membuatku terus berusaha melakukan apapun demi kebahagiaanmu termasuk menyelamatkan fathur . tapi apa yang kamu bilang tadi? kamu hanya menganggapku kakak hahah seriously!. kamu sudah dewasa untuk paham maksud dari semua kelakuanku selama ini ke kamu itu cinta ke pria untuk wanitanya , bukan kakak adik yang kamu agung-agungkan itu!"

cinta untuk khanzaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang