Bagian 44

6.3K 301 12
                                        

Sean

aku kira masih bermimpi atau berhalusinasi saat melihat istriku menangis disampingku,tapi ternyata ini nyata! wanita yang sangat kurindukan telah kembali. Disaat aku berada dalam titik terendah karna sangat merindukannya sampai rasanya mau mati tiba-tiba dia datang dan dalam sekejap menghilangkan semua penderitaanku beberapa hari ini.

kuhapus sisa air mata pada ke dua pipinya tanpa melunturkan senyumku,meski khanza sudah tidak menangis namun ia masih sesunggukan. Kukecup ke dua matanya yang sembab seraya mengeratkan pelukanku,setelah menyakitinya begitu dalam khanza masih sudi menangisi dan mengkhawatirkanku.

Oh Allah engkau buat dari apakah hati wanita ini ..

"Astgfirullah by,Tangan hubby berdarah?!"

khanza yang panik langsung bangun memeriksa tanganku yang ternyata berdarah karna jarum infusku yang terlepas,aku bahkan tidak menyadarinya. mungkin saat aku memeluk khanza atau ketika aku mengangkatnya entahlah..aku baru merasakan ngilu dan perihnya saat melihat lukaku yang mengeluarkan darah cukup banyak karna goresan yang ditimbulkan lumayan panjang.

"nggak apa-apa sayang"ucapku enteng.

"Tunggu disini by!"

"Sayang jangan pergi?!"cegahku mulai panik ketakutan.

khanza urung turun dari tempat tidur dan berbalik memelukku,yang langsung kubalas lebih erat agar ia tidak kemana-mana. demi Tuhan aku lebih baik kehilangan banyak darah daripada membiarkannya pergi,karna itu jauh lebih menyakitkan.

"Sebentar yah by,aku cuma ke bawah ambil kotak obat sekalian siapin makan malam buat kita" bujuknya lembut sangat lembut.

"aku takut kamu nggak kembali"

"itu tidak akan terjadi by,aku janji akan kembali kesini"

aku tetap tidak mau membiarkannya pergi,siapa yang tau jika itu hanya alasan untuk lepas dariku.jadi tanpa pikir panjang aku langsung menggeleng cepat,lalu mengeratkan pelukanku. Khanza menangkup wajahku memaksa agar aku mendongak melihatnya yang kini sedang berlutut di sampingku sembari tersenyum,senyum yang sangat kurindukan seminggu ini. dengan penuh kasih ia mengecup dahiku lama dan dalam,terus ke dua mataku,turun kehidung lalu ke dua pipi dan terakhir bibirku,disana khanza mengecupnya lama. tanpa memisahkan bibir kami aku mengangkat tubuhnya agar ia duduk di pangkuanku,karna aku tidak ingin ini hanya sebatas kecupan maka dengan pelan aku mengajak bibir manis istriku untuk saling mencecap dan memperdalam ciuman kami yang disambut baik oleh khanza.

Betapa Aku merindukan semua yang ada pada dirinya.

Kami baru berhenti saat benar-benar sudah tidak bisa bernafas,dengan terengah-engah khanza mengahapus jejak saliva di bibirku lalu mempertemukan dahi kami,"I love you hubby" bisiknya sendu.

refleks aku memeluknya erat,karna tiba-tiba Perasaanku justru tidak enak mendengar ungkapan cintanya yang sarat akan makna. Istriku tidak sedang pamit kan?.

"aku lebih mencintaimu sayang,dan bersumpah atas nama Allah kalau aku_"

"Sststt,aku percaya by,udah yah. sekarang biarin aku obatin tangan hubby dulu"

"nggak mau!"tolakku keras.

dalam pelukannya aku menggeleng kuat saat khanza berusaha melepas belitan lenganku di perutnya."Kalau hubby begini,aku beneran pergi loh"

aku langsung mendongak dengan raut ketakutan,beda sama khanza yang terlampau tenang,tapi karna ketenangannya itu pula membuatku cemas. Kami tidak dalam kondisi bisa tenang disaat ada masalah besar yang menghadang,"aku ikut ya sayang"pintaku memelas.

cinta untuk khanzaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang