Haii....👋
Bantu vote dan komentar ya😚
Share ke teman-teman literasi kalian😙 Dan ramaikan komentar
Okey?
Btw, bagi yg penasaran apa hukuman buat Naya berharap bersabar😂😋 Karena di part ini, Naya ga bakal muncul
HAPPY READING!
_________________________________________________
"Sesempurna apapun orang lain, mereka akan terlihat biasa saja di mataku dibandingkan dirimu yang dianggap biasa oleh orang lain.
Lalu untuk apa aku mencari yang luar biasa jika yang biasa bisa membuatku nyaman?"
-Dentara Aksapranaja-
"Udah dua puluh empat jam, ya," gumam Denta memecah keheningan sore.
Denta menghela napas panjang. Sorot mata sedih terpancar dikedua bola mata itu. Matanya bergerak meneliti tubuh Tassa yang ditempeli alat-alat medis. Perlahan tangannya meremas kuat alas kasur Tassa.
"Ini salah gue," lirihnya sembari menunduk. Kepalanya menggeleng pelan, "kalau aja gue lebih sering sama lo, pasti semuanya enggak akan kayak gini. Gu-gue ..." Denta tidak mampu lagi melanjutkan kata-kata.
Mengingat semua itu membuatnya sangat kecewa pada dirinya sendiri. Melihat Tassa yang kembali seperti ini membuat dadanya sesak. Dan entah mengapa, Denta merasa semua ini bukanlah hal baik. Ia selalu merasa gelisah dan tidak tenang selama Tassa mengalami koma kembali. Ada satu hal yang teramat Denta khawatirkan setelah sadar, tapi ia tidak tahu itu apa.
Satu ingatan terselip di otak ganteng Denta. Bagaimana jika Tassa tahu tentang Naya? Apa dia akan sedih. Denta tahu betul siapa sahabat Tassa yang begitu dekat dengannya. Denta tahu, gadis itu memang baik. Tapi ia juga tidak bisa diam saja. Semua yang ada di dunia ini ada timbal baliknya.
Denta memang tahu Naya menyukainya. Bahkan dari dulu. Tapi ia selalu bersikap acuh karena Denta tidak menginginkan Naya sama sekali. Ia tidak ingin menebar harapan untuk sembarang wanita. Karena wanita adalah superhero pertama. Ia tidak berhak menyakiti hati mereka jika mereka tidak membuat kesalahan. Apalagi jika menyakiti batin kaum itu.
Denta menggelengkan kepala. Memikirkan semua itu membuatnya semakin mesra kecewa. Kecewa pada diri sendiri.
Denta menatap sendu wajah Tassa. Kedua tangannya mengusap lembut punggung tangan itu. Ia kembali menghela napas. Melihat Tassa seperti ini rasanya waktu kembali terulang pada beberapa bulan yang lalu saat gadis itu juga koma.
Ingin rasanya Denta berteriak. Memberi protes pada Tassa dan Tuhan. Mengapa mereka sepakat untuk membuat Tassa koma dan membuatnya merasakan dampak yang begitu dasyat.
"Lo mau dengar sebuah cerita?" tanya Denta ketika teringat sesuatu. "Kata orang, bercerita itu bisa membantu memulihkan kesadaran orang yang sedang koma. Lo percaya?"
Hening. Hanya suara monitor detak jantung yang terdengar.
Denta tersenyum tipis. Ia sangat sadar jika pertanyaanya hanyalah sebuah angin lalu untuk Tassa.
"Gue percaya."
"Selama lo koma, gue ... gue selalu cerita."
KAMU SEDANG MEMBACA
DENTARA(SELESAI)
Random"Setiap langkah, setiap detik, percayalah. Satu perlawanan dari seseorang sedikit pun akan aku pastikan hidupnya tidak tenang jika berani melukaimu." -Dentara Aksapranaja "Manusia itu hanya titipan. Mereka bisa saja kembali tanpa kamu ketahui, jadi...
