"Aku percaya diriku kuat, hanya saja keadaan meruntuhkannya. Hingga membuatku jatuh karena mulai terasa lemah dan ingin menyerah."
.
.
.
Tassa terus melangkah menyusuri setiap ruangan. Suara heels yang ia pakai terdengar jelas karena suasana yang sepi. Semua orang sibuk di aula merayakan acara perayaan pernikahan kakek mertua dan nenek mertuanya.
Sebelum pergi, Tassa sempat melihat jam dinding besar yang terpajang di aula yang menunjukan pukul sebelas malam. Selama itu pula, ia tidak melihat Denta sendari satu jam yang lalu. Dan sekarang Tassa berniat mencari pemuda itu karena Bella ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Denta?"
"Ta, Kamu dimana?"
"Denta? Ini Acha. Oma sama yang lain nyariin Kamu."
"Ta ... Denta ... Denta ....?"
Suara lembut Tassa mengalun menggema mengisi setiap kesunyian. Kepalanya celingukkan mencari keberadaan Denta yang tidak kunjung menyahut panggilannya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki di ruangan yang tidak jauh dari tempat Tassa berdiri terdengar samar-samar.
"Denta?"
Tassa mencondongkan sedikit badan ke depan dengan mata menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka itu. Ah, pasti Denta ada disana, pikirnya.
Satu langkah
Du--
Tek
Tassa tersentak kaget ketika gelap menyambutnya dalam satu detik kemudian. Lampu yang Semula nya menyala memberi penerangan kini tidak terlihat lagi. Ia berdiri mematung di tengah jalan dengan kedua tangan mulai meraba dinding.
Tek
Satu detik setelah suara itu terdengar, Lampu dari sebuah ruangan yang Tassa lihat tadi menyala. Hanya disana. Tassa bisa melihat secercah cahaya keluar dari celah pintu yang sedikit terbuka itu.
"Denta?" Tassa kembali bersuara menyebut nama suaminya. Matanya bergerak liar menatap sekitar dan kembali terfokus pada ruangan itu.
"Denta kamu di dalam?!" Tassa mengeraskan suara. Wajahnya tampak berbeda dari sebelumnya, tampak ragu.
Gadis itu masih berdiri menatap pintu ruangan itu sembari mengigit bibir bawahnya. Entahlah, melihat lampu ruangan itu kembali hidup membuat rasa cemas dan ragu timbul dalam dirinya.
"Denta?!" panggil Tassa lagi.
Tap tap tap
Hanya suara sepatu yang terdengar.
Tassa menahan napas dua detik. Pasti itu Denta, batinnya.
Ia menarik napas pelan. Lalu berjalan ke arah pintu dengan langkah ragu. Ketika hendak menggapai pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka perlahan--seperti di buka oleh seseorang dari dalam.
Tassa meneguk ludah. Rasa gugup menyerangnya dengan keringat dingin mulai keluar dari kulitnya.
Tidak. Ini tidak benar. Tassa menggeleng kecil dengan cepat. Entahlah, Ia merasa bahwa semua ini bukan hal baik. Karena perasaannya mulai tidak enak, Tassa memutar tubuh.
Baru saja satu langkah, tiba-tiba ...
BRUKK!
BRAKK!
Rambut Tassa ditarik dari belakang dengan keras hingga ia melangkah mundur dan tersungkur ke lantai ketika sebuah tangan menariknya dengan kasar.
"AAAAARRRGGGH!" Tassa mengerang.
KAMU SEDANG MEMBACA
DENTARA(SELESAI)
Acak"Setiap langkah, setiap detik, percayalah. Satu perlawanan dari seseorang sedikit pun akan aku pastikan hidupnya tidak tenang jika berani melukaimu." -Dentara Aksapranaja "Manusia itu hanya titipan. Mereka bisa saja kembali tanpa kamu ketahui, jadi...
