"Setiap langkah, setiap detik, percayalah. Satu perlawanan dari seseorang sedikit pun akan aku pastikan hidupnya tidak tenang jika berani melukaimu."
-Dentara Aksapranaja
"Manusia itu hanya titipan. Mereka bisa saja kembali tanpa kamu ketahui, jadi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Uuuu😚
HAPPY READING!
_______
"Tidak semua hal kehidupan mudah untuk diceritakan. Semuanya memiliki privasi."
________
"Bunda, Denta duluan ya?"
"Eh, kamu mau kemana?!" Dinar mengeraskan suara ketika melihat Denta langsung melenggang pergi.
"Mau ke basecamp!" sahut Denta meninggalkan mereka berdua.
"Dasar Denta." Dinar menggelengkan kepala. Ia menoleh, menatap Tassa, "Bunda gak habis pikir sama Denta. Udah nikah, masih aja suka keluyuran bareng temennya yang bujangan."
"Mungkin karena Denta masih remaja Bunda," balas Tassa menatap kepergian Denta. Keningnya berkerut melihat Denta kembali masuk, menghampiri mereka.
Dinar menghela napas, "Padahal Bunda udah peringatin dia jangan terlalu sering main geng - gengan. Bunda takut terjadi apa-apa."
"Iya - iya, Bunda. Iya ...,"
Refleks Dinar menoleh. Terlihat Denta berdiri di samping kursinya. "Ngapain kamu balik lagi? gak jadi kumpul sama geng-gengan kamu Itu?"
"Lupa pamis sama istri dan bunda," ucapnya terkekeh pelan membuat Dinar memutar bola mata malas. "Kok geng - gengan? Itu bukan geng-gengan Bunda, tapi kelompok."
"Kelompok yang suka buat onar."
Denta mendengus kesal mendengar itu, "Kita gak bikin onar, tapi kita membantu pihak yang berwajib untuk membasmi hama masyarakat."
"Heleh, gaya membasmi!" cemooh Dinar jengah seraya memutar bola mata malas. "Itu cuma alasan kamu, aja. Ngapain juga, coba, bantu pihak berwajib? Itu tugas mereka, bukan tugas kamu. Mereka di gaji setiap bulan, kalo kalian ambil alih kerjaan itu, kerjaan mereka apa? Kalian dapatnya muka bonyok setiap minggu. Bukannya untung malah buntung!" omel Dinar.
Tassa yang sendari tadi melihat interaksi anak dan ibu itu terkekeh pelan mendengar omelan Dinar.
Menghela napas, Denta berdecak pelan meyadari Tassa yang menertawakannya. Habis sudah image yang ia jaga selama ini akibat Dinar. "Gimana mau Bunda aja. Intinya Denta tetap gak mau keluar dari geng itu, mereka udah Denta anggap kayak keluarga sendiri."