Seseorang mengulurkan tangan kanan ke depan menjabat tangan keriput pria paruh baya yang terbaring lemah di depan, bergetar pelan. Begitu kentara bahwa dia sangat gugup saat ini. "Ananda Dentara Aksapranaja, saya nikahan engkau dengan anak saya, Tassa Aideleid Melvaro dengan seperangkat alat sholat dan emas sebesar sepuluh gram, di bayar tunai!"
Dengan satu tarikan napas panjang dalam satu detik, lalu ia berucap, "Saya terima nikahnya Tassa Aideleid Melvaro dengan seperangkat alat sholat dan emas sebesar sepuluh gram di bayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sahhh!"
"Alhamdulillah ...,"
Semua orang menunduk, tersenyum haru karena sang mempelai telah berhasil mengucapkan ijab kabul tanpa ada celah. Bersamaan dengan itu, tangan yang sedikit keriput itu tiba-tiba menyambar tangan Denta untuk di gennggamnya. Wira Adimas Melvaro, ayah dari Tassa Aideleid Melvaro. Tanganya bergetar menatap sendu ke arah Denta dengan sudut mata berair.
Denta yang tidak menduga itu terjadi, refleks mendongak. Aksi pria yang sudah berstatus ayah mertua itu hanya dirinya yang menyadarinya.
Keningnya berkerut menatap mertuanya dengan mata menyempit ketika melihat di tampak kesusahan bernapas. Merasa heran, Denta memilih membuka mulut namun diurungkan ketika pria itu berucap.
"Ayah titip Acha sama kamu, ayah yakin kamu orang yang tepat...," Suara lirih yang bergetar terbata - bata itu mengundang seluruh atensi untuk memusatkan perhatian padanya. Dada pria paruh baya itu tampak naik turun menciptakan suara napas yang keluar dari mulutnya terdengar buru - buru seolah - olah akan habis.
Denta yang sendari tadi menatapnya terdiam,dengan tatapan iba. Keningnya sedikit menyerngit ketika melihat mertuanya tersenyum tulus ke arahnya. Lalu ia kembali menunduk ketika genggaman itu terasa semakin erat mengukung tangannya. Denta bisa melihat sorot mata itu yang tampak mempercayakannya. Membuat jantung Denta berdetak cepat karena gugup.
"Denta janji. Demi Acha, Denta akan menjaga dia dengan baik walau harus mempertaruhkan darah," kata Denta.
Wira tersenyum tulus. Pada ekor matanya tampak lembab hingga setetas air membasahi pelipisnya hingga mengalir membasahi tenglia yang tampak pucat dan layu. Hingga wajah itu berubah menegang kajang - kejang dengan bola mata menatap tajam langit - langit ruangan. Melihat keadaan itu semua orang panik, beberapa orang di dalam ruangan keluar memanggil dokter. Pergerakan orang disana terhenti ketika mendengar suara monitor berbunti keras.
TBC
Note: Revisi 27 Januari 2026
KAMU SEDANG MEMBACA
DENTARA(SELESAI)
De Todo"Setiap langkah, setiap detik, percayalah. Satu perlawanan dari seseorang sedikit pun akan aku pastikan hidupnya tidak tenang jika berani melukaimu." -Dentara Aksapranaja "Manusia itu hanya titipan. Mereka bisa saja kembali tanpa kamu ketahui, jadi...
