1.0 | PACAR DENTA?

10.5K 453 17
                                        

HAPPY READING!

Seringkali tragedi yang memicu adrenalin dapat membuat seseorang yang memiliki mental lemah kerap merasakan trauma akibat kejadian tersebut. Orang tersebut akan cendrung diam merenungi semuanya dengan pandangan kosong, bahkan bisa lebih parah dari itu. Seperti saat ini yang terjadi pada Naya. Saat di kamar tadi malam dia banyak bicara dan kini entah mengapa terdiam seribu bahasa dengan pandangan kosong menatap jendela. Hal itu sangat membuat Tassa sangat khawatir dengan keadaannya.

Sekarang keduanya tengah berada di dalam satu mobil yang sama sedang menuju ke SMA Dirgantara. Tadinya Naya berniat untuk membolos sekolah dan pulang ke rumah karena bajunya tertinggal, namun Tassa melarang dan meminjamkan baju seragam lamanya untuk Naya. Alhasil, keduanya berangkat ke sekolah bersama-sama.

"Keluarga Denta hangat ya, Sa. Pasti betah di rumah punya keluarga yang harmonis kayak gitu. Denta beruntung banget, gue jadi iri. Kapan ya gue bisa ngerasain punya keluarga kayak gitu?" ucapnya dengan lirih.

Tassa menatap Naya dengan kening sedikit berkerut, merasa heran mendengar ucapan putus asa itu. Memangnya ada apa? Semenjak satu tahun ini Tassa tidak pernah tahu lagi bagaimana kehidupan sahabatnya. Jangankan kehidupan sahabatnya kehidupan diri sendiri saja Tassa tidak tahu. Bangun - bangun orangtuanya sudah tiada.

Tampak Naya menghela napas, menyandarkan kepala pada sandaran kursi mobil. Kepalanya menoleh kembali menatap bangunan - bangunan pencakar langat.  "Gue sadar kalau itu cuma sekedar harapan. Berharap cuma buang - buang waktu padahal di depan mata, gue lihat sendiri kalau semuanya udah benar-benar hancur dan enggak akan mungkin bisa kayak dulu," ujar Naya menghela napas dalam.

Tassa berdehem pelan, "Kamu ada masalah, Nay?" tanya Tassa khawatir. Pasalnya tidak biasanya Naya berucap seperti itu. "Kalau kamu punya masalah, kamu boleh cerita apapun sama aku, akan dengerin semua cerita kamu kayak satu tahun yang lalu. Lama kita gak berinteraksi bukan berarti kepercayaan kita harus hilang."

Naya terdiam beberapa saat menatap Tassa. Ia membenarkan posisinya, mengalihkan pandang menatap lurus pada jalan raya. "Tadi malam nyokap sama bokap ribut. Mama minta cerai sama Papa dan mereka minta gue buat milih ...," Naya menunduk, menepuk dadanya yang kembali sesak. Ia mendongak menatap Tassa dengan kedua mata berkaca, "gue gak bisa, Sa ... gue memilih kabur dari rumah,. Sakit banget hati ini ngeliat orang tua begitu, Sa,"  kata Naya terbata - bata mulai terisak 

Mata Tassa melebar menatap terkejut Naya. Tassa ingat betul setahun yang lalu keluarga itu baik - baik saja, tidak ada tanda - tanda akan adanya badai pernikahan. Tersadar Tassa menarik Naya ke dalam pelukannya yang langsung di balas oleh gadis itu dengan erat.

"Nay, maaf ... Aku benar - benar gak tau. Aku turut ikut sedih dengar berita ini," ucap Tassa merasa tidak enak hati sambil mengusap punggung temannya itu. 

Mendengar suara tangis, supir pribadi keluarga Denta melirik ke arah Tassa dan Naya melewati spion. "Non, ada apa?" tanyanya sedikit khawatir. 

Tassa menoleh, "Gak apa - apa, Pak. Bapak fokus nyetir aja, ya?" ucap Tassa membalas. 

"Baik, Non."

Tassa mengeratkan pelukannya pada Naya, "Nangis aja, Nay. Sakit yang ada di hati kamu jangan di pendam, keluarin aja, kamu gak perlu malu sama aku, kamu harus bisa lewatin ini. Ada aku sama Rena dan Dela yang siap dengar keluh kesah kamu, Jangan sungkan minta tolong kalau kamu perlu sesuatu."

DENTARA(SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang