0.2 | Titik Terendah

18.8K 802 18
                                        

Hari ini cuaca tampak lebih gelap dari biasanya hingga menutupi matahari dengan awannya yang menghitam, menandakkan akan turun hujan. Keadaannya serupa dengan perasaan seseorang yang  tengah berjongkok di antara dua gadukan tanah liat yang sudah ditumbuhi beberapa rumputan liar. Kedua bahu yang tanpa henti bergetar semenjak satu jam yang lalu dan mengeluarkan tangis pilu membuat orang yang mendengarnya langsung bisa menebak dan merasakan duka yang mendalam di dalam dirinya.

Setelah Tassa mengetahui tentang kedua orangtuanya, ia memohon merengek agar diantar ke pemakaman dengan kondisi tubuh yang sebenarnya belum begitu stabil. Dan sekarang gadis itu tampak seperti mayat hidup yang duduk diantara dua gadukan tanah itu.

"Kenapa ... kenapa kalian tega tinggalin Acha? Acha gak bisa sendiri ... Acha gak mau, gak kuat kalau gak ada bunda dan ayah ...," rengeknya sesengukan. Entah berapa kali kalimat itu keluar dari bibirnya, yang pasti sekarang suaranya hampir tidak terdengar. 

Dinar yang ikut berjongkok menemaninya berusaha membujuk gadis itu untuk segera pulang karena melihat keadaan Tassa yang tidak bisa dikatakan baik untuk saat ini. "Sayang ... Ayo nak kita pulang. Acha udah kelihatan gak sehat, kamu perlu istirahat sayang," bujuknya lagi.

"Acha mau disini sama ayah dan bunda ... Acha gak mau pulang," tolaknya menggeleng hebat. "Ayah sama bunda pasti juga kangen kan saya Acha? Kita udah lama gak ketemu. Ayah Bunda, Acha mau ikut!"

Diana menggeleng, " Sayang kamu gak boleh ngomong gitu, ucapan adalah do'a. Masa depan kamu masih panjang. Ada bunda Dinar, Ayah Danu dan Denta yang menemani kamu."

"Tapi Acha mau sama Ayah dan Bunda," Tassa menatap nanar nisan keduanya. "Tapi mereka tinggalin Acha," tangisnya semakin menjadi. Dada gadis itu naik turun. Paham akan kesedihan anak sebatang kara itu, Diana dengan segera memeluknya memberikan semangat dan dukungan.

Denta yang sendari tadi diam menemani keduanya di belakang, menunduk  menatap Tassa. Keningnya berkerut melihat tidak ada pergerakan keedua bahu itu lagi. Bahkan isakannya tidak lagi terdengar. Denta yang masih di seberang sana---menatap Tassa heran. Perasaannya tiba-tiba was-was. "Bunda? Dia gak gerak!" ucap Denta spontan.

Diana sedikit bergerak, matanya melebar, "Eh! Denta tolong Bunda! Acha pingsan!" ucap Diana yang hampir saja terjatuh di atas tanah akibat beban tubuh Tassa.

Tidak menunggu lama, Denta langsung mengangkat  tubuh Tassa yang kurus itu menuju mobil yang terparkir di depan komplek pemakaman. Ketika sampai di mobil, Denta mendorong masuk Tassa hati-hati di kursi belakang. Ketika ia menyentuh Tassa tadi, Denta bisa merasakan suhu tubuh gadis itu lebih hangat. Lantas ia menempelkan punggung tangannya pada kening gadis itu. Mengecek kembali, takut dirinya salah.

"Panas," gumamnya.

Denta seketika panik. Sakin paniknya, ia memaksa lewat disela kursi untuk duduk di kursi kemudi. Ia langsung melajukan mobil itu membelah jalan dengan keadaan jendela depan terbuka.

Mobil Denta melaju di atas rata-rata tanpa menyadari telah melewati jalan yang seharusnya ia hindari saat ini, melongos melewati sekumpulan anak motor yang tengah menongkrong dipinggir jalan. Wajah mereka melongo melihat mobil mewah itu lewat. Hingga salah seorang mereka berseru ketika melihat bahwa Denta-lah yang mengendarai mobil mahal itu karena kacanya yang terbuka.

"WOI, ITU KETUA GENG PHOENIX!!!" teriak salah satu dari mereka.

Sontak Denta terkejut ketika suara itu tanpa sengaja masuk ke indera pendengarannya. Ia melirik kaca spion, terlihat sekumpulan motor berlomba-lomba mengejarnya. Ia berdecak kesal, "Sial!"

Umpatan Denta jelas mengundang perhatian Dinar yang memangku Tassa di belakang. Ia menoleh ke belakang melihat ada banyak kenderaan yang mengikuti mobil mereka, "Denta, apa - apaan ini?! Kenapa mereka ngikutin kita?!" Dinar panik dan semakin panik ketika mereka mulai melemparkan batu hingga membuat kaca belakang mbil retak. "DENTA!" 

DENTARA(SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang