1.1 | PELAJARAN

9.8K 463 13
                                        

HARGAI DENGAN MEMBERI VOTE!!

HAPPY READING🔥
.
.
.

Luna mematung di tempat ketika membuka pintu mendapati Denta berdiri di depan. Kakinya perlahan melangkah mundur dan berbelok hingga masuk kembali ke dalam. Tatapan dingin Denta seolah - olah membius membuat Luna terlihat gugup. Langkah Denta terhenti ketika ujung sepatu mereka saling menabrak.

Setelah pintu terbuka Naya langsung datang membantunya. "Sa lo gak papa? Diapain lo sama dia? Hah?" kata Naya panik meraba seluruh tubuh Tassa. " Anjing, paha lo bedarah gara - gara lampir itu!" mata Luna membelalak melihat beberapa bekas seperti cakaran di paha Tassa.

Terdengar suara panik Naya membuat keduanya mengalihkan perhatian pada Tassa. 

"Kamu kenapa ada disini, Ta?" tanya Luna sedikit terbata menatap Denta berusaha agar terlihat biasa saja dengan senyum tanpa rasa bersalah di bibirnya. 

Denta menatap tajam Luna. Kedua tangan Denta mengepal.

"Apa lagi yang sakit, Sa?" tanya Naya lagi seraya meraba beberapa bagian tubuh Tassa kembali. Terlihat Naya begitu khawatir dengan keadaan Tassa saat ini. Naya mengangkat datu Tassa, matanya kembali melebar, "Leher lo kenapa?!" Naya menggapai leher Tassa, namun langsung ditangkis oleh gadis itu.

Denta yang sendari tadi diam menatap Luna kali ini menunduk melihat Tassa dari ekor matanya. Keterdiaman Denta membuat Luna berpikir untuk kabur, namun Denta menahanya dengan memegang lengannya kuat.

"Aku gak papa, Nay ...," ujar Tassa refleks menjauhkan kepala menghindar dari Naya. Tapi sepertinya gadis itu tidak mau menyerah dan terus berusaha menjauhkan tangan Tassa dari lehernya.

"Astaga!" Mata Naya melebar melihat jejak tangan berwarna merah di leher Tassa kala berhasil menjauhkan tangan gadis itu. "Lo dicekik sama mak Lampir itu?!" kata Naya dengan suara keras, tampak kaget.

"Enak aja lo! bukan gue yang cekik dia!" ujar Luna panik. Tidak bisa di biarkan.

BRAKK!

Denta menendang ember yang berada di samping kaki Luna, membuatnya memekik kaget. "Denta ... kamu jangan percaya! Itu bukan aku kok yang cekik dia. Aku serius," bohong Luna mulai membela diri. Menekan ketakukannya yang saat ini melambung tinggi melihat wajah Denta yang saat ini terlihat menyeramkan.

"Udah salah, gak ngaku lagi Lo!" bentak Naya tidak terima setelah membantu Tassa berdiri.

"Nay ...,"

"Gak bisa, Sa! Orang kayak gini kebiasaan kalo dibiarin, bawaannya melunjak! Setidaknya dia ngaku kalau dia sal---"

"Gue kan udah bilang, bukan gue yang cekik dia!" teriak Luna membela dir. Lalu beralih menatap Tassa, "Lo bilang dong kalau bukan gue yang salah! Gue tau lo bukan orang bisu. Cep---"

"DIAM!" bentak Denta meninju tembok tepat di samping kepala Luna, membuat gadis itu terdiam dengan mata menutup.

"Lo berdua keluar!"

"Tap---"

Rahang Denta mengeras, "KELUAR DAN TUTUP PINTUNYA!" potong Denta berteriak. Tidak lama setelah itu suara derap langkah menjauh dan pintu ditutup terdengar begitu keras.

DENTARA(SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang