1.4 | BELUM BISA MEMUTUSKAN

7.5K 401 13
                                        

HAPPY READING
.
.
.

"Pada dasarnya. Apa yang sudah kumiliki harus kujaga dengan baik."

-Dentara Aksapranaja-

"Bunda mau ajak aku kemana?"

Tadi ketika di rooftop setelah beberapa menit kedatangan Bartan membawa tissue basah, Dinar menelpon Tassa dan mengatakan jika dirinya sedang menuju ke sekolah. Wanita itu meminta agar Tassa membolos untuk hari ini karena ada hal penting. Tassa tidak ingin orang - orang melihatnya dan Dini menyarankan untuk memanjat pagar dibantu oleh Bartan. 

"Kita ke rumah sakit sekarang. Bunda mau konsul penyakit kamu sama dokter Dafa." Dinar mengemudi dengan fokus menatap lurus jalanan dengan kecepatan normal. 

Diam-diam Tassa menghela napas. Konsul penyakit, dua kalimat sederhana yang mematikan bagi Tassa. Se-sekarat itukah dirinya saat ini? Mengapa rasanya begitu sulit untuk menerima dan membuka mata bahwa semua ini benar adanya? Tassa berharap ini hanyalah mimpi. Rasanya terasa tidak adil, kala melihat semua orang di sekitar kita baik-baik saja dan kita sendiri terus mendapat luka. 

Dinar melirik Tassa dari ekor mata. Ikut merasa iba dengan menantu satu-satunya itu. Dinar tahu betul perasaan Tassa, gadis itu merasa tertekan sekarang karena terus mendapatkan tekanan bertubi-tubi. Umurnya masih terlalu dini mendapatkan semua ini.

"Acha,"

Sang empu yang di panggil menoleh perlahan.

"Kamu udah kasih tau Denta?"

Sesaat Tassa terdiam. "Belum," katanya pelan.

Kening Dinar berkerut, "Kenapa?" tanyanya melirik Tassa sebentar.

"Acha ...," Tassa meneguk ludah, bingung harus mengatakan apa.  Memberi tahu Denta tidak pernah terlintas dipikirkan Tassa, bahkan Tassa berharap suaminya itu tidak akan pernah tahu penyakitnya. Katakan saja Tassa itu egois karena tidak mau melibatkan Denta. Tassa hanya tidak mau Denta kerepotan mengurusnya yang sakit dengan usianya yang masih muda. "-Acha belum siap Bunda," lirih Tassa.

Mobil Dinar berhenti di pinggir jalan. "Acha... sayang ...," panggil Dinar bersamaan dengan kepalanya yang menoleh pada Tassa. Dinar menggantung ucapannya, menatap Tassa lekat dengan sorot binar mata sedih. Namun, bibirnya tersenyum hangat.

Tassa yang menyadari itu membuang muka. Entah sejak kapan, tapi Tassa benci ditatap seperti untuk pertama kalinya. Ia merasa menjadi mahkluk lemah yang teramat menyedihkan.

Tangan Dinar terulur mengusap kepala Tassa, "-Bunda paham perasaan kamu. Bunda kasih kesempatan buat kamu kasih tau Denta sendiri, karena itu memang hak kamu. Tapi ... jangan terlalu lama menyembunyikan hal ini sama Denta." Dinar menarik kembali tangannya. Ia menarik napas sebentar lalu kembali menghadap ke depan. "Kalau kamu gak berani kasih tau Denta, Bunda bisa bantu."

"Acha bisa Bunda, cuman Acha perlu waktu...," 

Memberitahu dari mulut sendiri itu terasa lebih baik daripada Denta tahu dari mulut orang lain. Memang berat, Tassa akan mencoba memberanikan di suatu hari nanti. Tassa tidak dapat mengambil keputusan pada hari apa dan tanggal berapa ia memberitahu Denta, karena Tassa meramalkan dirinya akan menjadi pengecut hingga akhir. Apalagi jika perasaannya sudah terlalu dalam. Semenjak merasakan perasaan berbeda saat  berada di dekat Denta, Tassa sadar bahwa dirinya tanpa sadar telah jatuh cinta pada Denta. Semakin dalam perasaan Tassa, maka semakin besar rasa takutnya. Ini memang terlalu cepat dan singkat, tapi bolehkah Tassa menjadi egois sekarang?

DENTARA(SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang