Cowok yang ini juga manis!

162 29 2
                                        

Kalau berduaan sama lo terus begini,
Kayaknya lama-lama jantung gue berhenti beneran deh.

~Felisha Albara~

*****

Kayaknya aku terlalu berharap, atau terlalu terbang karena harapan. Semaleman aku nungguin telfon dari Richard kayak orang bego. Mentang-mentang ini hari libur, semalem mataku sibuk ngajakin begadang sampai jam 3 pagi cuma demi melototin layar handphone yang nggak memunculkan notifikasi apapun.

Iya, aku emang bego banget karena berpikir Richard benar-benar udah memberi sinyal padaku. Padahal kan Richard cuma berbaik hati nganterin aku pulang karena mungkin dia kasihan melihat aku berdiri di halte sendirian. Dan saat dia bilang mau nelfon aku, mungkin itu cuma basa-basi. Warga Indonesia kan terkenal suka berbasa-basi demi menjaga keramah-tamahan. Terus kenapa aku malah nungguin dia sampai begadang segala?

Dan kalian pasti tau apa yang kudapatkan, aku ketiduran dan nggak bisa bangun sampai hari sudah menjelang siang.

Aku baru bisa bangun setelah mama menggedor pintu kamar berulang kali dan bilang kalau ada tamu yang menungguku di ruang tamu. Saat baru bangun, kuperiksa waktu di ponselku yang udah menunjukkan pukul dua belas siang. Wah, aku melewatkan sarapan dan bahkan udah hampir jam makan siang.

Entah kenapa aku udah nggak terlalu heran waktu mama bilang ada tamu, kayaknya aku udah mulai terbiasa sama kedatangan tamu yang sudah bisa kupastikan kalau itu adalah Arbi.

Aku langsung keluar kamar bahkan sebelum mencuci wajah. Buat apa juga aku cuci muka dulu, toh yang mau ku temui cuma Arbi.

"Fel, mandi dulu! Mau ketemu cowok ganteng kok cuma pakai piyama begini, pasti belum cuci muka juga, ngaca dulu gih, rambut kamu nggak pernah disisir tuh, mekar kayak singa" tegur mama yang berpapasan denganku di depan kamar.

"apa sih, cuma mau ketemu temen sekolah doang kok ma" tepisku sambil terus berjalan menuju ruang tamu.

Sampai di ruang tamu, aku langsung menghampiri Arbi dan berdiri di dekat cowok itu.

Mataku masih setengah terbuka, jadi aku tidak melihat dengan jelas wajah Arbi. Yang kulihat sekilas cuma cowok itu pakai hoodie putih dan rambut coklat gelapnya tertata rapih. Tunggu, coklat gelap? Sejak kapan rambut Arbi warna nya coklat gelap?

"lo ganti warna rambut, ya?" tanyaku sambil mengucek kedua mataku.

"nggak kok" sahutnya.

Deg!

Ini bukan suara Arbi, tapi. . .

RICHARD!

Aku melotot seketika, dan kudapati Richard duduk di dekatku sambil memangku bantal sofa. Cowok ganteng itu menatapku tanpa ekspresi, persis seperti biasanya.

 Cowok ganteng itu menatapku tanpa ekspresi, persis seperti biasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Garis Lurus (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang