My Life Without You

189 36 6
                                        

Reminder : yang belum follow aku, follow dulu ya! Dukung terus karyaku yup! luff!

*****

Gue nggak akan menunggu, gue nggak suka menunggu

~Felisha Albara~

*****

Hampir semua media infotainment negri ini mengabarkan tentang konser solo Arbi. Beberapa juga ada yang berhasil mewawancarainya secara eksklusif. Lewat media-media itu, Arbi menceritakan semua tentang schedule konsernya. Arbi juga secara tersirat mengkonfirmasi bahwa hubungan nya denganku sudah berakhir karena alasan pribadi, dia meminta pengertian semua fans nya untuk tidak mengusik atau melibatkanku dalam hal apapun.

Tentu saja berita itu disambut gembira oleh semua orang. Selain karena penyanyi idola mereka berhasil menggelar konser solo, mereka juga gembira karena hubungan kami berakhir. Semua pernyataan Arbi membuatku mendapatkan kembali kehidupan kampus yang tenang. Para fans Ziel yang ikut-ikutan mengusikku juga sudah berhenti setelah tau kalau nama belakangku dan Ziel sama. Mereka akhirnya menyadari bahwa aku dan Ziel adalah keluarga. Begitu lah bagaimana aku menjalani kehidupan damai sejak putus dengan Arbi sampai saat ini.

Tapi dari semua berita baik itu, yang membuatku heran adalah Arbi sama sekali nggak membahas tentang rencana vakumnya kepada media manapun. Mungkinkah dia berencana menghilang begitu saja dari dunia hiburan? Itu memang bukan sesuatu yang buruk karena bukan tindakan kriminal, tapi bukannya kalau dia menghilang tiba-tiba akan membuat fansnya khawatir dan kebingungan? Apa itu sikap yang baik?

Iya, aku tau kalau seharusnya aku nggak memedulikan itu lagi. Toh dia sudah bukan pacarku, jadi apapun yang menjadi keputusannya bukanlah urusanku.

"yo Albara!"

Suara Dino membuyarkanku dari lamunan. Dino menghampiri kemudian merangkul bahuku sok akrab. Terang saja langsung kutepis tangannya dari bahuku, bule gila itu terkekeh.

"kuat sekali anda" kata Dino di sela kekehannya.

"nggak sopan banget!" ketusku.

Saat ini aku lagi berdiri sendirian di rooftop gedung fakultas sastra Indonesia, aku nggak tau Dino kesini buat nyamperin aku atau memang dia nggak sengaja melihat aku di sini. Tapi kalau memang nggak sengaja,  buat apa dia ikutan ke rooftop di siang bolong yang panas begini? Bahkan Mika pun menolak saat kuajak kemari tadi, dia lebih memilih membaca buku-buku tebal yang bikin pusing di perpustakaan.

"why? Lo kan single. Bebas dong dirangkul sama siapa aja" katanya ngawur.

Aku mendecih.
"brengsek banget!"

"gue juga udah jomblo, nih" katanya.

"apakah saya terlihat peduli?" ketusku.

Dino menyentuh dadanya, membuat gesture seolah-olah tersakiti.
"so rude!"

Aku mendengus.

Dino menatapku serius.
"setidaknya lo kan bisa pura-pura peduli dan nanya kenapa gue bisa putus sama pacar gue"

"gue lebih penasaran tentang kenapa lo dateng ke rooftop siang-siang bolong gini" kataku jujur, tentu tanpa menoleh kearahnya. Sejak tadi tatapanku hanya tertuju ke halaman kampus yang terlihat sangat jauh dan kecil dari sini.

Garis Lurus (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang