Aku datang, untuk memelukmu

151 32 20
                                        

Aku datang, untuk memelukmu

~Felisha Albara~

*****

"nih, kado buat lo" aku meletakkan paperbag ke pangkuan Mika saat kami lagi duduk berdua di taman fakultas.

"apa ini?" tanya Mika sambil membuka paperbag itu.

"cari tau sendiri, dong!" suruhku.

Mika mengeluarkan totebag berbahan kulit dari dalam paperbag yang kukasih. Matanya langsung berbinar dan menoleh kepadaku.

"ini pasti mahal banget" kata Mika.

Aku mengangguk, membenarkan.

"kenapa kamu kasih aku barang mahal gini, sih? Aku jadi nggak enak" katanya.

"biar lo makin semangat ngampusnya" balasku

"ih, Felish"

Mika memelukku, membuat aku sedikit terkejut. Aku belum pernah dipeluk sama seorang teman begini, aku jadi bingung harus merespon gimana. Dengan canggung, kuangkat tanganku untuk menepuk-nepuk punggung Mika.

Mika melepaskan pelukannya, membuatku akhirnya bernafas lega.

"makasih, Fel. Tapi lain kali jangan kasih aku barang mahal lagi, ya? Aku takut orang-orang berfikir aku memanfaatkan kamu" kata Mika.

Aku mengangguk.
"nggak usah dengerin kata orang, tapi kalau lo memang nggak nyaman ya oke, gue nggak akan ngasih barang mahal ke lo lagi. Kecuali kalau memang ada sesuatu yang perlu dirayakan"

Mika terkekeh.
"aku pengin banget bisa punya pikiran yang sangat sederhana kayak kamu gitu, Fel. Kamu nggak peduli sama pendapat orang tentangmu, kamu cuma memikirkan apa yang mau kamu pikirkan"

"itu barusan pujian?" tanya ku.

Mika tertawa.
"kamu lucu banget. Aku jadi semakin sayang sama kamu" katanya.

Sayang? Aku belum pernah disayang sama teman sebelumnya. Yang dimaksud sayang sama teman itu yang kayak apa? Bukan yang kayak aku sayang ke Arbi atau ke Ziel, kan?

Mika menyentuh tanganku.
"oh iya, Fel. Aku punya sesuatu juga buat kamu" kata Mika.

Aku mengerutkan dahi.
"apa?" tanyaku.

Mika membuka ranselnya, mengeluarkan sesuatu dari sana kemudian menutup lagi ransel itu.

Mika meraih tangan kiriku, memakaikan sesuatu ke pergelangan tangan kiriku kemudian tersenyum. Setelah itu, dia juga memakai sesuatu yang sama ke tangannya sendiri.

Aku menatap pergelangan tanganku. Sebuah gelang yang terbuat dari manik-manik berwarna-warni melingkar di tanganku.

"ini nggak mahal, tapi aku bikin sendiri" kata Mika.

Dia mendekatkan kedua gelang kami.
"taraaa, ini couple" katanya.

Gelang itu terbuat dari manik-manik plastik yang kelihatan murah banget. Rangkaiannya nggak beraturan, ikatan benangnya juga nggak rapih. Gelang yang kurang bagus, bahkan lebih ke jelek untuk standar barang yang biasa kupakai. Tapi aku justru tersenyum saat gelang jelek itu melingkar di tanganku. Hatiku benar-benar senang dan tersentuh. Ini mahal banget bagiku, bahkan jauh lebih mahal daripada totebag  yang tadi kuberikan kepada Mika, yang dibayari oleh Arbi.

Garis Lurus (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang