Selama ini gue terlalu nyaman di zona aman
Sampai nggak pernah tau kalau ternyata dunia itu luas arti nya
~Felisha Albara~
*****
"Fel, laper" Ziel langsung berhambur ke tempat duduk ku setelah jam istirahat berdering.
"terus?" tanyaku sambil merapikan buku pelajaran di atas meja.
"traktir makan, kek" kata Ziel.
"ogah, lo lebih kaya daripada gue. Lo bahkan udah menghasilkan duit sendiri dari hasil menjual tampang" kataku.
"gue lupa bawa duit" cerita Ziel.
Aku mendecih. "nipu banget, lo"
Ziel tertawa. "tau aja lo kalo gue bohong"
"kebaca banget akting buruk lo" sahutku.
"gue berhemat. Endorse lagi sepi banget, Fel. Followers gue juga nggak pernah nambah lagi. Kayaknya gue butuh pesona baru supaya nggak tenggelam dari para selebgram pendatang baru. Jadi gue lagi nabung buat liburan. Siapa tau nanti pulang holiday muka gue jadi bertambah ganteng terus makin banyak followers nya" cerita Ziel.
"nggak ada hubungannya!" ketusku.
"ada Fel. Kalo suasana hati gue bagus, otomatis muka gue jadi berseri" Ziel ngeyel, aku tak menyahut.
Selesai merapikan semua buku, aku berdiri.
"mau kemana lo?" tanya Ziel.
"katanya lo laper" sahutku.
Wajah Ziel berbinar.
"lo mau beliin gue makan?"
"buruan sebelum gue berubah pikiran" kataku sebelum berjalan mendahuluinya.
Baru beberapa langkah, Ziel menyusul. Cowok sedeng itu menekuk lututnya sambil berjalan dan dengan susah payah bergelayut manja di lenganku, seolah lupa fakta bahwa tinggiku hanya sebatas dada nya. Dasar tiang lampu jalanan!
Kuarahkan tinjuku ke wajahnya.
"minggir atau gue pukul?"
Ziel langsung menegakkan lagi tubuhnya, berjalan dengan gagah di sampingku.
"lo boleh pukul badan gue di bagian manapun, asal jangan muka. Ini buat nyari duit"
Aku menatap Ziel dengan tatapan kesal.
"lo tuh keturunan ningrat, tapi kenapa sering bertingkah kayak gembel sih?"
Ziel nyengir. "ningrat-ningrat gini gue tetep manusia biasa yang darah nya merah, bukan biru. Jadi wajar kalo gue suka uang"
"serah lo, panci karatan!" rutukku.
Sampai di kantin, kami memesan beberapa makanan dan langsung makan. Ziel makan lahap banget persis orang kelaparan. Dia menghabiskan dua mangkuk mie ayam dan masih merampas setengah porsi nasi gorengku. Bener-bener ningrat rasa gembel. Setelah kekenyangan, Ziel menepuk-nepuk perutnya.
"gila, kenyang banget gue" kata Ziel.
Aku mendengus. "gimana nggak kenyang, lo barbar banget makan nya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lurus (END)
Ficțiune adolescențiGue cuma pengin punya kisah hidup yang mudah dan sederhana. Semudah dan sesederhana menggambar garis lurus. Tapi...GIMANA CARA MUDAH DAN SEDERHANA UNTUK MEMILIH SALAH SATU DARI DUA COWOK SUPER OLENGABLE INI? Felisha Albara~ ______ Inget Felish? Iya...
