Senyum lo cantik, ketawa lo apalagi!
~Arbi~
*****
Aku mengerang jengkel saat melihat Ziel yang entah sudah keberapa kalinya mondar mandir di koridor lantai dua rumahnya sambil membuka dan menutup pintu kamar Azlan.
Kurasa cowok gila itu memang lagi kangen banget sama abangnya.
"mau berapa kali lagi sih lo buka tutup pintu itu? Nggak bakalan Azlan tiba-tiba muncul di kamarnya" ketusku.
Ziel mendengus keras, membuka pintu kamar Azlan lebar-lebar kemudian masuk. Aku mengikutinya, kulihat Ziel menjatuhkan dirinya ke atas ranjang Azlan. Matanya mengawang, menatap langit-langit kamar abangnya yang sekarang sangat kosong. Hanya ada ranjang, lemari dan meja komputer yang sudah nggak ada komputernya.
Aku ikut berbaring di samping Ziel, kumiringkan tubuhku agar bisa melihatnya.
"belum genap sebulan bang Azlan pindah, lo udah kangen?" tanyaku.
"udah hampir sebulan, gue nggak pernah pisah segini lama nya sama Azlan. Hampa banget hidup gue kalau nggak ada yang gue gangguin di rumah" katanya.
"emang lo biasanya ngapain sama Azlan?" tanyaku lagi.
"biasanya gue buka pintu kamarnya sambil bawa bantal, terus gue lempar dia yang lagi duduk di depan komputer. Ntar dia ngejengkang sambil maki-maki gue, dan gue ngakak sambil lari ke kamar" ceritanya.
"ternyata lo emang punya DNA dajjal, ya?" komentarku.
Ziel terkekeh.
Aku mengulurkan tangan, mengusap-usap pipi Ziel.
"udah sih, jangan kangen terus. Kan masih ada gue, nih" hiburku.
"lo beda sama dia, kalau sama Azlan gue bisa mendiskusikan hal yang nggak bisa gue omongin ke elo" katanya.
"contohnya apa tuh?" tanyaku antusias.
"rencana buat mendeportasi lo ke mars" sahutnya datar.
Jengkel, elusan ku di pipinya berubah jadi geplakan.
Ziel mengaduh sambil menepis tanganku dari pipinya.
Aku mengubah posisi, ikut berbaring terlentang menatap langit-langit.
"kalau kangen kenapa nggak main ke tempat dia aja, sih? Kan nggak jauh juga" kataku.
"nggak bisa, ntar dia GR kalau gue keseringan kesana" Sahut Ziel.
Aku mendecih, dasar cowok! Gengsi nya di luar angkasa.
Kami saling diam hingga beberapa saat sampai kupikir Ziel ketiduran.
"gimana hubungan lo sama Arbi?" tanya nya tiba-tiba.
"apa nya yang gimana?" tanyaku balik.
"ada perkembangan?" tanya nya lagi.
"selain pulang sekolah bareng, malam mingguan dan telfonan sebelum tidur, kayaknya nggak ada lagi" jawabku.
"bego banget, lo! Itu mah sama aja lo udah pacaran sama dia" celetuk Ziel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lurus (END)
Fiksi RemajaGue cuma pengin punya kisah hidup yang mudah dan sederhana. Semudah dan sesederhana menggambar garis lurus. Tapi...GIMANA CARA MUDAH DAN SEDERHANA UNTUK MEMILIH SALAH SATU DARI DUA COWOK SUPER OLENGABLE INI? Felisha Albara~ ______ Inget Felish? Iya...
