Gue nggak peduli sama kemungkinan, gue cuma butuh kepastian. Karena yang mungkin, belum tentu bisa jadi pasti
~Felisha Albara~
*****
Kepalaku pusing banget, mataku panas karena nangis. Rasanya capek banget, tapi anehnya aku nggak bisa tidur.
Padahal udah lebih dari dua jam aku berbaring di atas tempat tidurku, tapi aku tetap nggak bisa terlelap.
Ziel udah pulang satu jam yang lalu setelah memastikan aku baik-baik saja. Dia nggak banyak bicara saat mengantarku pulang dari sekolah tadi, rasanya memang canggung seperti bukan bersama Ziel yang biasanya, tapi itu lebih baik. Kalaupun Ziel ngajak aku ngomong pun saat ini aku males banget menjawabnya.
Saat mama nanya ke Ziel kenapa aku kelihatan pucat, Ziel cuma bilang kalau mungkin aku lagi pms. Karena itu mama juga nggak banyak bertanya lagi, dan membiarkanku istirahat di kamar.
Ah, sepupuku itu kadang memang sedikit berguna. Ingat, cuma sedikit!
Jam dinding menunjukkan pukul lima sore, aku berniat untuk bangun dan mengganti seragamku dengan piyama. Tapi tubuhku terlalu berat rasanya.
Aku mencoba menguatkan tekad, akhirnya aku berhasil bangun dan langsung mandi supaya pikiranku lebih jernih.
Selesai mandi dan memakai piyama panjang bergambar hello kitty, aku duduk di atas ranjang.
Kutatap boneka panda dari Richard di atas ranjang. Setelah menghela nafas beberapa kali, aku keluar kamar untuk mencari kardus di gudang.
Setelah kembali dari gudang sambil membawa box besar entah bekas apa, aku mulai mengumpulkan barang-barang pemberian Richard.
Boneka panda, pot tanaman stroberi yang selama ini kurawat, jam tangan serta coklat yang dimasukkan oleh Ziel ke tasku tadi, dan juga terakhir kalung liontin bulan sabit yang selalu kupakai.
Padahal aku sangat suka kalung ini, dengan perasaan berat kulepaskan juga kalung yang paling kusuka itu.
Semua barang-barang Richard sudah kumasukkan ke kardus, walaupun aku nggak tau mau ku kemana kan semua itu, yang jelas aku nggak mau terus-terusan larut dalam kesedihan karena teringat Richard saat melihat semua benda itu.
Handphone ku berdering, kubiarkan saja sampai deringnya mati. Padahal aku nggak tau siapa yang nelfon aku. Kalau orang itu menghubungiku lagi sampai tiga kali, baru lah aku akan angkat nanti. Karena kalau orang menghubungi lebih dari dua kali itu artinya sangat penting.
Lagi, handphone ku berdering untuk yang ke dua kalinya. Tetap kubiarkan sampai deringnya mati sendiri.
Dan kemudian berdering sekali lagi, kali ini baru akan kujawab.
Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku menghampiri nakas untuk mengambil handphoneku.
Nama Richard terpampang di layar sebagai pemanggil.
Aku menghela nafas panjang, sempat ragu akan menjawab atau nggak. Otakku udah menolak untuk mengangkat panggilannya, tapi jariku berhianat. Jariku mengikuti kata hati. Dasar hati lemah sialan!
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lurus (END)
Roman pour AdolescentsGue cuma pengin punya kisah hidup yang mudah dan sederhana. Semudah dan sesederhana menggambar garis lurus. Tapi...GIMANA CARA MUDAH DAN SEDERHANA UNTUK MEMILIH SALAH SATU DARI DUA COWOK SUPER OLENGABLE INI? Felisha Albara~ ______ Inget Felish? Iya...
