Resiko jadi pacar selebriti
~Felisha Albara~
*****
"aaah kesel banget gue!" Ziel membanting handphone nya ke atas sofa, tepat di sebelahku yang sedang duduk di sofa ruang tengah rumah Ziel. Tante sama om lagi pergi, jadi sepulang sekolah tadi Ziel mengajakku untuk menemaninya di rumahnya.
"kenapa lo?" tanyaku.
Dia ikut menjatuhkan dirinya di sampingku, menduduki handphone nya.
"hp lo kedudukan, bego!" tegurku.
"biarin! Biar meledak sekalian" ketusnya.
"lo kenapa, sih? Muka kusut, ngomong ngegas. Lagi PMS?" tanyaku.
"gue sebel sama cowok lo! Bisa-bisanya akun instagram dia followers nya naik terus, sekarang udah 10 juta. sementara punya gue stuck aja di 6 juta" omelnya.
"dih, lo sirik karena cowok gue lebih populer?" ledekku.
Ziel mendengus.
"apa sebaiknya gue debut jadi penyanyi juga, ya?" katanya tiba-tiba.
Aku mendecih.
"ngaca dulu kalau mau ngayal! Suara menggelegar macam guntur petir kok halu mau debut jadi penyanyi! Paduan suara gereja aja ogah nerima lo"
Ziel cemberut.
"jujur amat lo! Bikin makin badmood"
"ya abisnya lo kalau ngomong ga pakai saringan dulu" kataku.
"tauk ah! Pokoknya gue kesel banget sama cowok lo!" ketusnya sebelum bangkit dan berjalan menuju dapur.
Aku mengangguk setuju.
"sama. Gue juga kesel kok sama dia"
Gimana aku nggak kesel? Ini sudah tiga hari sejak Arbi menghilang. Dia nggak datang kesekolah, juga nggak datang kerumahku. Ya walaupun di sekolah memang udah nggak ada kegiatan belajar mengajar karena kami tinggal menunggu upacara kelulusan, tapi memangnya dia harus izin nggak masuk selama itu? Memangnya dia nggak pengin kesekolah buat sekedar ketemu aku? Atau minimal menghubungiku kek. Nggak perlu video call, dapet sms singkat dari dia aja aku udah seneng banget, kok. Memang ya, Arbi nih ngeselin banget. Bisa-bisanya dia menghilang dariku kayak gini.
Aku sampai bikin janji sama diriku sendiri, kalau sampai genap enam hari dia nggak menghubungiku bakalan kuanggap kita putus. Di hari kelulusan nanti, nggak akan kusapa dia. Biarin.
Untungnya itu nggak sampai kejadian. Karena di hari ke empat ini, dia menelfonku. Rasanya girang banget dapat telfon dari pacar. Cepat-cepat kuambil handphone yang sejak tadi kugeletakkan di atas meja di hadapan kami.
"halo sayang" sapa nya saat aku baru mengangkat panggilannya.
Aku tersenyum mendengar suara yang setengah mati kukangenin ini. Tapi, akhirnya aku berusaha untuk nggak baper. Aku harus mempertahankan kejudesan, biar dia tau kalau aku lagi marah. Susah payah kukontrol suaraku.
"kenapa?" ketusku.
"kamu galak banget?" tanya nya, suaranya terdengar tanpa rasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lurus (END)
Teen FictionGue cuma pengin punya kisah hidup yang mudah dan sederhana. Semudah dan sesederhana menggambar garis lurus. Tapi...GIMANA CARA MUDAH DAN SEDERHANA UNTUK MEMILIH SALAH SATU DARI DUA COWOK SUPER OLENGABLE INI? Felisha Albara~ ______ Inget Felish? Iya...
