Walaupun tidak tau apa yang akan terjadi di hari esok, asalkan selalu bersamamu, kupikir aku akan baik-baik saja
~Felisha Albara~
*****
Bohong kalau kubilang aku selalu bahagia pacaran sama Arbi. Aku merasakan banyak hal, terkadang aku sedih, marah, kesal, dan tertawa. Terkadang kami berkelahi, berdebat, saling mengamuk, dan saling mengomel karena perbedaan pola pikir. Tapi akhirnya selalu sama, kami berpelukan dan saling meminta maaf. Tidak peduli siapapun yang salah, karena yang kami cari bukan siapa yang salah, tapi apa yang salah agar bisa kami perbaiki bersama. Ini lah suka duka sebuah hubungan yang sebenarnya.
Setelah berpacaran, Arbi jadi berubah sekali. Dia mulai bisa mengeskpresikan perasaannya dan menunjukkan sifat aslinya padaku. Ternyata dia nggak sedewasa kelihatannya, terkadang dia bisa berubah jadi kekanakan dan manjanya nggak ketulungan. Tapi aku senang, karena dia jadi lebih jujur dengan apapun yang dirasakannya. Nggak cuma menyembunyikan semuanya dibalik senyuman kayak dulu. Tapi kadang hal itu terasa menyebalkan juga, sih.
Pernah satu kali, aku sama Arbi makan di warung sate madura. Kami memesan porsi yang sama, yaitu seporsi sate dan sepiring nasi. Di piring nasi, juga disajikan tiga potong mentimun dan sepotong tomat. Karena aku sangat suka makan sate madura dengan mentimun, jadi aku menyisakan sepotong mentimun untuk kumakan di akhir nanti. Tapi, saat aku hampir menghabiskan makananku dan akan mengambil mentimun itu, Arbi lebih dulu mengambil dan melahapnya.
Aku melotot marah dan mengomel padanya, dia cuma menatapku dengan wajah tak berdosa sambil bilang gini, "kirain sengaja nggak kamu makan"
Karena jengkel, aku meninggalkannya di warung sate.
Semalaman dia sibuk menelfonku, tapi aku nggak mengangkatnya sampai dia mengirim pesan whatsapp yang mengatakan kalau dia juga bakalan marah sama aku.
Besoknya, melalui ojek online dia mengirimkan gift box yang dibungkus cantik banget ke rumahku. Saat kubuka ternyata isinya dua kilogram mentimun. Nggak, dia nggak mengirim itu untuk meminta maaf. Dia mengirim itu untuk menunjukkan kalau dia juga kesal karena aku marah padanya cuma karena mentimun. Dan kelakuan lucunya itu bikin aku ketawa. Akhirnya hari itu aku menelfonnya duluan untuk meminta maaf.
Iya, kami nggak pernah berantem untuk waktu yang terlalu lama.
Ada juga satu perkelahian kami yang kuingat. Waktu itu untuk merayakan dua bulan hubungan kami, Arbi menjemputku dengan hoverboard tepat jam satu siang saat matahari sedang terik-teriknya. Dia mengajariku mengendarai benda aneh itu di taman komplek, aku terjatuh beberapa kali tapi Arbi nggak menyerah untuk mengajariku. Katanya, "kegagalan adalah ibu dari keberhasilan".
Iya, pacarku emang serandom itu. Ngapain juga dia susah payah mengajariku naik hoverboard? Itu kan nggak termasuk dalam mata pelajaran apapun di sekolah. Dan yang lebih membuatku jengkel, kenapa harus pas siang bolong begini, sih?
Sebenernya aku udah kepanasan, capek, kesal dan pengen ngomel ke dia, tapi aku males membayangkan kalau nanti dia ngambek lagi. Jadi aku menuruti saja kemauannya.
Puji tuhan, hari itu Tuhan berpihak kepadaku. Saat aku hampir mengomel, mendadak kapten tim basket sekolah menelfonnya dan menyuruh dia segera kesekolah untuk rapat dadakan. Setelah menitipkan hoverboardnya kepadaku dan menyuruhku membawa benda itu kesekolah besok, dia langsung pergi kesekolah.
Sepeninggalan Arbi, aku langsung berlari menuju starbucks dan membeli bubble tea. Ah, rasanya melegakan sekali.
Setelah menghabiskan bubble tea, aku langsung pulang dan melupakan hoverboard Arbi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lurus (END)
Teen FictionGue cuma pengin punya kisah hidup yang mudah dan sederhana. Semudah dan sesederhana menggambar garis lurus. Tapi...GIMANA CARA MUDAH DAN SEDERHANA UNTUK MEMILIH SALAH SATU DARI DUA COWOK SUPER OLENGABLE INI? Felisha Albara~ ______ Inget Felish? Iya...
