Sebenarnya, kita sama-sama suka. Aku suka kamu, dan kamu suka dia.
~Felisha Albara~
*****
Setelah mengambil buku pelajaran dari loker pribadi, aku bergegas menuju kelas. Hari masih terlalu pagi, nggak ada siswa yang sudah datang ke sekolah. Gini resiko jadi introvert, datang paling awal dan pulang paling akhir, semua nya semata-mata cuma untuk menghindari keramaian di koridor.
Begitu sampai kelas, Ziel sudah duduk di mejaku sambil menggulir layar handphone. Iya, di meja bukan di kursi.
"Pagi banget datengnya, tumben" tegurku sembari memasukkan buku ke laci meja.
"Bacot!" Dampratnya tanpa mengalihkan tatapan dari layar handphone.
Aku mendengus.
"Gimana kemarin? Lecet nggak handphone 30 juta nya?"
"Sialan banget lo emang, bukan cuma lecet tapi juga pecah layarnya karena mendarat di batu gede. Balik sekolah langsung ganti hp" Ziel mencebik.
Aku tertawa.
"Salah sendiri, rusuh banget jadi manusia"
Ziel tidak merespon, dia masih asik dengan handphone nya.
Saat aku hendak duduk, cacing-caing di perutku mengeluarkan bunyi protes karena aku belum kasih mereka makan.
Aku memeriksa arloji, waktu menunjukkan pukul 06.00. Masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum bel masuk berdering, jadi kupikir aku masih punya banyak waktu buat sarapan.
Sebelum benar-benar duduk, aku sudah berdiri lagi. Niatku hendak ke kantin, tapi kayaknya aku nggak nyaman jalan ke kantin sendirian. Ziel harus menemani aku!
"Ziel" panggilku.
Ziel cuma menjawab dengan deheman.
"gue laper" keluhku.
"Terus?" Tanya Ziel.
Aku menyentuh lengan Ziel.
"Anterin gue ke kantin, yuk. Gue nggak nyaman jalan ke kantin sendirian, ntar takut ketemu orang-orang ramai di koridor"
Ziel menurunkan handphone nya dan beralih menatapku. Ekspresi nya kelihatan kesal.
"Fel, bisa nggak sih kalo di sekolah agak pinteran dikit? Kegoblokan lo itu coba deh dibagi-bagi ke orang lain, goblok nya orang sejagad raya lo habisin sendiri!"
Aku mengerutkan dahi, kok Ziel malah mengomel?
"Kok ngomel?" Protesku.
Ziel menepuk dahi nya sendiri dengan geram.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Ziel.
"Jam 6" sahutku.
"Nah, itu lo tau! Orang tolol mana yang jam 6 pagi udah dateng ke sekolahan? Ini masih terlalu pagi, Felish! Di koridor nggak ada orang sama sekali, nggak ramai kayak yang lo bilang!" Seru Ziel berapi-api.
"Lo sama gue udah ada di sekolahan jam segini, berarti kita termasuk dalam kategori 'orang tolol mana' yang lo sebutin tadi dong?" Protesku.
"Enak aja! Lo emang orang tolol, kalo gue kan bukan orang" bantah Ziel.
"Terus apaan?" Tanyaku.
Ziel tersenyum sinting.
"Dewa ketampanan"
Aku pura-pura muntah.
"Najis!" Hardikku sembari meninggalkan Ziel yang terbahak-bahak sendiri.
Ziel benar, lorong koridor masih sepi banget. Kantin pun juga nggak kalah sepi, cuma ada para pedagang yang masih sibuk membereskan dagangan mereka sementara aku udah berdiri di depan stand penjual nasi goreng. Aku memesan satu piring nasi goreng dan membeli sebotol air mineral. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih sama penjual, aku membawa makananku menuju bagian paling sudut dan terpencil di kantin ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lurus (END)
Novela JuvenilGue cuma pengin punya kisah hidup yang mudah dan sederhana. Semudah dan sesederhana menggambar garis lurus. Tapi...GIMANA CARA MUDAH DAN SEDERHANA UNTUK MEMILIH SALAH SATU DARI DUA COWOK SUPER OLENGABLE INI? Felisha Albara~ ______ Inget Felish? Iya...
