"Om! Apa kau punya waktu sebentar?" Billy menoleh, dia sedang sibuk dengan dokumen.
Seorang gadis cantik dengan pakaian santai, berdiri di belakangnya. Billy menutup dokumen dari tangannya kemudian meletakkan dokumen ke tempatnya.
"Ada apa? Sepertinya genting sekali?" tanya Billy menarik pinggang gadis itu.
Tetapi sorot mata gadis itu sedang tidak ingin melakukan di saat genting seperti ini. Gadis itu mendorong Billy sedikit melonggarkan diri dari pelukannya. Billy melepasnya dan gadis itu berjalan dan duduk di sofa sambil membuka toples kue kering sebagai camilan miliknya. Billy juga ikut bergabung, mungkin belum waktu bermesraan dengan gadis di depannya.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Sepertinya penting sekali?" tanya Billy ikut mencomot kue dari tangan gadis itu.
Gadis itu tidak suka cara Billy lakukan seperti dirinya adalah simpanan napsu. Well, gadis itu tidak keberatan. Asal dia mendapatkan informasi.
"Om dekat dengan putrinya Pratama, bukan?" tanyanya sekaligus menatap lurus pada Billy.
Billy lagi asyik mengunyah kue kering terhenti, dia juga balas menatap dua manik mata gadis itu. "Langsung saja ke inti permasalahan," jawab Billy, sekarang dia tidak ingin bertele-tele lagi.
"Apa benar putri Pratama akan memegang semua perusahaan dari almarhum Om Abraham?" ucapnya.
Ruangan pribadi milik Billy hening setelah diberi pertanyaan oleh gadis itu, yang tak lain adalah Sheren. Sepupunya Sarah, adik ipar dari ayahnya Sarah.
Sheren kenal Billy, karena keluarga Billy pernah membantu keluarga Sheren saat perusahaan ayahnya hampir bangkrut atas kekalahan menanam saham dan investasi di perusahaan Felix. Walau tidak sebesar milik perusahaan Felix, setidaknya Sheren masih hidup dengan kesederhanaan namun berlaga orang kaya.
Sheren juga tidak bodoh atas kelicikan Billy malah bersekutu dengan keluarga Pratama ya tak lain juga sepupu Sheren.
Semua akan terungkap oleh Sheren. Jika satu kendala adalah menyingkirkan sepupunya dia benci. Meskipun Sheren tetap akan berjuang agar sepupunya tidak mudah termakan omongan orang.
"Itu bukan urusanmu, lebih bagus kau kuliah dan banggakan orang tuamu, sebentar lagi kau lulus, ingat janji pernah kita sepakati, aku akan menikahimu setelah kau lulus kuliah," ucap Billy berdiri dari duduknya.
Sheren mendecik dia tidak suka ada kebohongan dan ditutupi. "Jika memang benar Rachel akan menguasai semua harta dan tahta milik Alm. Om Abraham, aku yang akan menghadapi mereka!" ucapnya mengancam.
Billy mendesah, di sinilah yang tidak disukai atas keras kepala gadis itu. Sheren akan berbuat apa pun dan menembus semua kesalahan yang pernah dia tabur hingga mencoreng nama baik Sarah di kampus.
Tetapi Sheren juga sangat sulit menebak isi pikiran Sarah sekarang ini. Sheren salah, jikalau dia lakukan agar Sarah marah dan benci padanya. Ternyata tidak, Sheren salah prediksi Sarah tidak tau tentang orang tuanya sendiri. Sheren mengira keluarga Pratama akan menceritakan tentang orang tua kepada Sarah.
"Jangan pernah lakukan hal sebodoh itu. Apa kau tidak tau bagaimana pria tua bangka itu, jika ada orang lain ikut campur masalah ini?" Billy mendekat Sheren, memohon untuk tidak ikut campur permasalahan yang semakin rumit ini.
Sheren tau, dia juga tidak ingin ikut campur. Tapi dia tidak tahan jika mereka serakah demi menguasai harta dan tahta bukan milik mereka.
"Tapi mereka harus sadar, kekayaan itu tidak akan bisa ...."
"Ssstttt ...."
Billy mendengar suara derapan kaki, sepertinya ada seseorang mencoba menguping pembicaraan mereka berdua. Sheren tidak berkutik pun mengarah ke pintu, dan ada bayangan kaki di sana.
"Bersembunyilah, biar aku yang atasi semuanya," Billy beranjak tapi Sheren menahannya. Billy tersenyum dan mendekati Sheren.
"Tidak perlu dikhawatirkan," Billy mengecup bibir Sheren agar dia percaya semua akan baik-baik saja.
Dengan perintah dari Billy, Sheren beranjak dan mencari persembunyian. Setelah aman, Billy pun membuka pintu itu dan di sana terdapat seseorang berdiri sembari menelepon seseorang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Billy tertuju pada seorang wanita dengan pakaian cukup seksi. Tapi sepertinya dia terlihat aneh.
"Kenapa lama sekali buka pintu-nya." Billy langsung menangkap tubuh wanita itu. Dan tercium aroma beralkohol dimulutnya.
"Nona? Hei!" Billy dengan cepat mengangkat tubuh wanita itu, dan bawa ke ruangannya. Di sana Sheren melihat sekilas, Billy membaringkan seseorang di sofa tersebut.
Sheren keluar dari persembunyian, dia tidak menyangka wanita itu berani datang ke rumah Billy dengan pakaian seperti ini. Billy mendengus, sembari bergumam tidak jelas. Billy menoleh, melihat sikap Sheren beda.
"Jadi, Om juga berhubungan dengan wanita itu?" Sheren merasa tidak ada yang beres.
Billy mengelak, dia tidak mungkin berhubungan dengan wanita ini. "Tidak! Jangan salah paham dulu, aku tidak tau tujuan dia ke sini untuk apa?" Billy mencoba menenangkan Sheren.
Billy sangat kenal bagaimana sifat Sheren suka menuduh sembarangan, dan asal berpikir hal negatif.
"Lepas! Aku tidak percaya! Aku tadi tanya sama Om kenal putri Pratama. Tapi Om ..."
Sheren melebar dua matanya, dia mencoba untuk menjauh dari ciuman Billy. Tapi Billy tidak akan melepasnya. Billy tidak ingin meneruskan semua masalah mengenai Pratama. Dia cukup stres dengan semua berhubungan bisnis.
Billy mendorong Sheren hingga punggung Sheren menabrak tembok yang kokoh itu. Sheren terus berontak untuk lepas. Tapi melihat wanita di sofa itu terlihat pingsan tak berdaya.
"O-om!" Sheren kehabisan napas, Billy terlalu memaksa dirinya. Billy melepas setelah Sheren tidak berontak lagi.
"Percaya, aku tidak pernah berhubungan dengan wanita itu. Wanita yang berhak menjadi status pernikahanku adalah kau, Sheren," ucap Billy menyelipkan sisa rambut Sheren di telinganya.
Sheren percaya Billy tidak akan selingkuh, bahkan untuk selingkuh dengan wanita itu, Rachel.
****
Update ya. Sory ya. Lama. Yg rindu silakan. Oh ya, aku gk bisa up terus, aku mau rayain sederhana sama mamaku dulu hari ini.. Seenggaknya uda bikin kalian lepas rindu ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER MY SKIN ( TAMAT)
Romance"Please, Om! Sudah...." Desahan demi desahan yang dilakukan oleh Roy Hartono Putra, semakin memacu mendorong intiman panas dibawah kekuasaannya. Roy tergila-gila dengan kelembutan dari seorang gadis yang masih jauh dibawah umur, namun apa dayanya...
