Coffee house, Willy lagi bersantai sambil menyeruput kopi favoritnya. Sekalian cuci mata di sekitar ruangan dia tempati. Pemandangan di Coffee House juga adem dan sejuk. Walau dekorasinya dengan corak warna seperti kopi cokelat susu.
Terdapat salah satu orang yang sangat Willy kenal. Seorang wanita pastinya dong. Sedang mengomel pada pekerja itu. Suaranya sangat jelas didengar oleh Willy. Walau di ruangan ini masih sepi belum begitu banyak pengunjung datang duduk dan bersantai.
"Saya tidak mau tahu, saya mau sesuai dengan pesanan yang saya pilih!" sanggah Rachel pada pelayan yang bekerja di Coffee house ini.
Willy pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian dia ambil cangkir kopinya untuk berpindah ke tempat di mana Rachel berada.
Rachel sungguh bete akhir-akhir ini. Sudah menuju di hari pernikahannya nanti. Malah ada masalah pada dirinya. Bahkan untuk pekerjaan saja, dia sudah malas absen ke kantor ayahnya.
"Selamat pagi Nona Cantik, apa saya boleh ikut bergabung di sini?" sambut Willy meletakkan kopinya dan menarik kursi persilakan dirinya gabung bersama Rachel.
Rachel sedang sibuk sama ponselnya, sekilas mencuri sumber suara itu. Rachel menyipit kedua matanya. Rachel hampir tidak mengenal Willy sama sekali. Penampilan Willy sangat beda, jauh lebih beda pertama kali dia bertemu.
Willy senyum lebar hingga memamerkan gigi yang rapi. Rachel menyudahi ponselnya dan memasukan kembali ponsel itu ke tas miliknya. Meskipun hari ini Rachel dalam keadaan bete, dia tetap harus profesional menyambut seseorang di depannya.
"Selamat pagi juga, Tuan Willy. Senang bisa bertemu dengan Anda lagi," Rachel menyambutnya begitu sopan.
Willy dapat membaca ekspresi Rachel untuk saat ini. Mungkin Willy kurang tepat menemani seorang wanita dalam keadaan tidak baik.
"Apa saya mengganggu tempat bersantaimu?" ucap Willy sekali lagi menyeruput kopi sudah tinggal ampas tersebut.
Rachel hanya berkilah, tentu Willy mengganggu dunia santainya. Tapi Rachel tidak menunjukkan hari ini dia memang bete sekali.
"No! Tidak sama sekali. Anda sendiri? Apa kebiasaan Anda bersantai-santai seperti ini?" balas Rachel dengan ekspresi angkuhnya.
Inilah Rachel bersikap enjoy tapi dalam diri dia sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan seorang pria tampan seperti Willy lagi.
"Begitulah," ucap Willy sembari mengangkat bahunya.
Seorang pelayan Coffee house datang membawa apa yang dipesan oleh Rachel. Dengan hati-hati, pelayan itu bernama Hani meletakkan minuman dan beberapa makan camilan untuk sarapannya.
"Selamat pagi, mohon maaf atas ketidaknyamanan dari kami. Pesanan yang Anda pesan sudah kami ganti dengan topik sesuai selera, Nona. Silakan, ada lagi Nona yang mau dipesan atau ada sesuatu tidak sesuai dengan lidah Nona?" ucap Hani, dengan logat yang sangat lembut memberi maaf kepada Rachel atas perihal makanan dipesan oleh Rachel tadi tidak sesuai.
Rachel yang melihat piring-piring diantar oleh Hani. Serta minuman dia inginkan, Rachel menyeruput sedikit minuman itu, sudah hampir pas dengan selera lidahnya. Hanya saja sedikit manis untuknya. Rachel sangat menjaga pola makan sebelum di hari pernikahan, dia harus terlihat sempurna di depan publik.
Willy perhatikan ekspresi Rachel saat minuman teh dan Hani si pelayan Coffee itu sangat gugup meremas nampan dia pegang.
"Ini ...."
"Mungkin bisa ganti dengan minuman lain seperti kopi Machhiato," potong Willy berbicara.
"Tapi Tuan," Hani ragu untuk menggantikan minuman dari Rachel. Sebab Hani sering berjumpa dengan Rachel beberapa kali bahkan minuman dia pesan juga susah didapatkan.
"Maaf, saya tidak suka minuman berkafe," sambung Rachel datar.
"Tenang saja, minuman ini tidak terlalu mengandung kafe'an. Saya rekomendasi kopi ini sangat bagus. Bisa diganti dengan bahan lain jika Anda memang tidak suka dengan manis, bisa di ganti dengan rasa pahit namun rasa akan sama seperti rasa pilihan Nona," terang Willy memberi penjelasan padanya.
Rachel pun berpikir kembali, dapat dilihat cara ucapan dari Willy. Analisa di otak Rachel, bahwa Willy lebih pintar mengenai segala minuman kopi.
"Baiklah, saya akan mencoba," ucap Rachel akhir memilih saran dari Willy.
Hani pun lega, dia pun akan segera kembali dengan pesanan dari Rachel. "Sepertinya Anda tahu segala tentang minuman kopi?" tanya Rachel.
"Tidak juga, karena saya sering berkunjung di sini, jadi minuman apa pun akan sama saja, hanya bahan dicampur itu saja sedikit beda untuk lidah seperti kita," kata Willy
Suasana pun kembali normal, percakapan antara Rachel dan Willy pun berlangsung hingga melupakan waktu di mana Rachel harus kembali ke kantor.
Sementara Sarah baru saja selesai packing semua barangnya. Dia juga sudah minta Naomi bawa sebagian barangnya ke tempat lain. Tidak akan mencurigai apa yang di bawa Naomi.
Lalu Yuki masuk membawa sarapan untuk putrinya. Sarah dikagetkan oleh ibunya. Dia tidak sempat untuk menyembunyikan barang-barangnya. Yuki tahu, Sarah ingin minggat dari rumah ini. Tapi Yuki berusaha tetap tenang.
"Kau mau berlibur?" Yuki bertanya. Sarah hanya beri senyuman tanpa rasa.
"Mungkin," jawabnya dingin.
Yuki mengerti, tidak akan semudah Sarah kembali ceria lagi. Yuki merasa sangat bersalah tidak bisa membantu dirinya untuk tetap bertahan di rumah ini. Jika dia pertahankan Sarah, hidup Rachel tidak akan bahagia. Perlahan-lahan Sarah akan mengerti semua apa yang di rencanakan oleh suaminya.
Meskipun fasilitas dimiliki Sarah harus ditarik oleh Mario, bahkan hidup Sarah tidak seperti dulu memiliki segalanya. Leon akan tetap mengawasi Sarah, memberi laporan kepada Mario.
"Mama buatkan sarapan kesukaanmu, semoga kamu suka," ucap Yuki merasa pembicaraan ini tidak berarti untuk Sarah lagi. Tapi dia tetap akan bersikap seorang ibu untuk putri-putrinya.
"Mulai besok Mama tidak perlu membawa apa pun untuk Sarah. Sarah bukan anak kecil lagi setiap hari di bawa ke kamar," ucap Sarah dingin.
Yuki senyum getir, dia mengerti. Dia pun keluar dari kamar Sarah tanpa berkata apa pun lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER MY SKIN ( TAMAT)
Romance"Please, Om! Sudah...." Desahan demi desahan yang dilakukan oleh Roy Hartono Putra, semakin memacu mendorong intiman panas dibawah kekuasaannya. Roy tergila-gila dengan kelembutan dari seorang gadis yang masih jauh dibawah umur, namun apa dayanya...
