Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Empat Puluh Lima

4K 156 33
                                        

Assalamu'alaikum.

Sebelumnya saya mau bilang kalau "Dia Imamku" sekarang ganti judul dan ganti cover, ya. Tapi isinya tetap sama ko.

Semoga suka, ya. ❤

[Ketika Kau Hadirkan Dia| Empat Puluh Lima]

Happy Reading. ❤

***

"Apakah Anda keluarga dari pasien di ruangan Anggrek nomor 4?" Seorang suster berhasil menghentikan lamunan Rayya. Perempuan itu menoleh, lalu mengangguk pelan. "Pasien sudah sadarkan diri." Terdengar suara helaan napas. Seolah Rayya lega sekali mendengarnya. "Tapi  .... ada hal lain yang ingin saya katakan, bahwa pasien menderita gagal ginjal dan harus terapi hemodialisa tiga kali dalam seminggu. Saya akan memberikan jadwal prosedurnya kepada Anda."

Berita itu seolah petir, menyambar perasaan Rayya dengan keras. Yang bisa dia lakukan hanya diam. Bahkan hingga suster itu pergi di tikungan koridor. Lututnya terasa sangat lemas sekarang. Rayya bergerak mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Tidak, bagaimana pun Mba Hara harus tahu hal ini. Jangan sampai mereka tidak bisa bertemu lagi. Sebab Rayya akan merasa sangat bersalah.

Namun, hingga deringan ponsel yang ke-tujuh kali, panggilannya tidak kunjung dijawab. Rayya tertunduk lesu. Menangis. Perempuan itu terisak dengan keras. Tidak peduli dengan beberapa orang yang menatap heran ke arahnya. Lalu, dengan sekali tarikan napas, Rayya berdiri dan melangkah dengan tergesa-gesa ke kamar nomor 4, tempat di mana suaminya terbaring.

"Mas?" Panggil Rayya pelan saat sudah masuk. "Aku senang kamu sudah sadarkan diri." Dia mengulas senyum.

"Saya mau pulang." Nada suara Dzakki terdengar datar. Bahkan juga dengan ekspresinya.

"Tidak, Mas. Dokter belum mengizinkanmu pulang. Masih ada prosedur pengobatan yang harus kamu lakukan."

"Saya tidak peduli, Ray. Sekarang hari pertama persidangan saya dengan Hara. Jika saya tidak datang, maka proses penceraian akan semakin cepat. Saya mau pulang sekarang." Dzakki sudah turun dari tempat tidurnya. "Tolong panggilan suster. Saya mau infus ini dibuka dengan segera," sambungnya.

Rayya menggeleng, menahan lengan suaminya. "Tapi dokter belum mengizinkan, Mas."

"Saya tidak peduli." Dzakki menepis tangan Rayya dan menarik tiang infusnya, melangkah pelan keluar dari kamar. Bahkan tidak menyahut saat Rayya memanggilnya berkali-kali.

Hingga perempuan itu menyusulnya dan menahan tiang infus tersebut. "Kamu harus tetap di sini, Mas. Ada prosedur pengobatan yang harus dilakukan. Jangan membantah."

"Ray?"

"Tetap di sini, Mas."

"Saya mau pulang!"

Diam. Ada sorot marah di dalam bola mata itu. Membuat Rayya tergugu di tempat. Dia lantas melangkah mundur, sementara cairan bening sudah mulai tertampung di bola matanya. Dzakki bergerak maju, lalu meraih bahu Rayya dengan telapak tangannya yang bebas. Meminta maaf tanpa suara.

"Aku akan usahakan supaya kamu dengan Mba Hara kembali bertemu, Mas. Aku akan melalukan apa pun itu. Bahkan aku mau bersujud di telapak kakinya." Dan dengan begitu, airmata mengalir deras ke pipi Rayya. "Ini semua memang salahku. Aku minta maaf kepadamu karena telah membuat rumah tangga kalian hancur. Aku minta maaf."

Dzakki diam. Hanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut istrinya.

"Kamu sangat menyayangi Mba Hara. Aku tahu itu. Bahkan kamu sangat menghargainya dengan selalu tidur di sofa setiap malam. Kamu sangat tidak ingin membuatnya terluka." Dan airmata mengalir kian deras. Menyesakkan sekali. Rayya mengembuskan napas. Dia sudah bertekad untuk mengakhiri semuanya. Sudah cukup. "Aku ingin kamu talak aku, Mas. Aku tidak peduli lagi dengan siapa ayah dari bayi yang kukandung sekarang. Aku ingin hidup tanpa dibebani bayang-bayang rasa bersalah."

"Saya harus pulang sekarang, saya harus bertemu dengan Hara."

Menyesakkan sekali. Sungguh. Bahkan di saat sakit seperti ini, hanya ada nama Hara di dalam pikiran laki-laki itu. Rayya mengembuskan napas, entah untuk yang ke berapa kali. Sudah tidak terhitung lagi. "Tetaplah di sini, suster akan datang sebentar lagi untuk mengecek keadaanmu. Biar aku yang pulang, Mas. Aku akan datang ke rumah Mba Hara." Tanpa disadari, ada nada memohon dalam suara itu.

Dzakki menggeleng. "Saya akan pergi sendiri. Tolong mengerti bahwa ini sangat berati untuk hidup saya." Laki-laki itu balik memohon.

Dengan pelan, Rayya meraih telapak tangan suaminya yang bebas. "Suster bilang kamu menderita gagal ginjal, Mas," katanya. Mendapati Mas Dzakki yang tampak terkejut. "Dan kamu harus melakukan cuci darah tiga kali dalam seminggu. Saat ini, kondisi kesehatanmu sedang buruk. Tetaplah di sini. Aku mohon, Mas."

"Ray?" Suara itu terdengar sangat pelan. Rayya menatap suaminya. Hening, lalu, "Jika hari ini terkahir kali saya bernapas, orang terakhir yang sangat ingin saya lihat adalah Hara. Saya ingin dia ada di samping saya. Demi Allah, saya sangat ingin bertemu dengan dia sekarang."

Rayya menangguk pelan. Kehabisan kata-kata. Lantas dia bergerak ke arah ruangan suster.

***

"Apakah kamu tidak tertarik dengan Brahma, Ra?"

Suara Ayah memecahkan sunyi sekali lagi. Mereka tengah makan malam sekarang. Seharusnya, topik yang mereka bicarakan tidak boleh sesensitif ini. Sungguh nafsu makan Hara menguap dengan segera. Dia bahkan belum resmi bercerai. Apakah harus secepat itu mencari pengganti? Sungguh, Hara bahkan masih enggan membuka hati untuk siapa pun. Dia ingin sendiri.

"Belakangan ini Ayah sadar bahwa ternyata dia laki-laki yang baik."

Hampir Hara ingin membanting sendok dan berdiri dari kursinya. Namun, hal itu tentu tidak dilakukannya. Dia hanya diam. Entah sampai kapan. Ibunya yang sepertinya menyadari akan perubahan raut wajah Hara, segera menepuk bahu suaminya.

"Ayah ingin kamu lupakan laki-laki pecundang itu. Kalau kamu mau, Ayah bisa carikan laki-laki mana pun. Pengusaha. Selebriti. Kamu tinggal bilang ke Ayah, Ra."

Tetapi pengusaha itu, selebriti itu, mereka bukan Mas Dzakki. Bukan seseorang yang telah berhasil membuat Hara jatuh cinta teramat sangat. Orang yang berhasil menjadi isi doa Hara dalam diam. Mengapa Ayah tidak mengerti bahwa tidak mudah untuk melupakan semuanya? Mas Dzakki adalah kenangan indah untuk Hara. Sekalipun juga menjadi kenangan yang buruk.

"Aku kenyang." Hara meletakkan sendoknya. Berdiri dengan pelan. "Aku pamit ke kamar," katanya kepada orangtuanya.

"Dengar baik-baik perkataan Ayah, Ra!" Namun, Ayah kembali membuat langkah Hara terhenti. "Bahwa sampai kapan pun, Ayah tidak akan merestuimu lagi dengan laki-laki itu! Ayah tidak akan sudi! Kamu ingat itu!"

Dan airmata mengalir ke pipi Hara dengan segera. Perempuan itu menunduk. Mengambil langkah pergi dari ruang makan. Sesak sekali rasanya. Sungguh. Dengan cepat dia masuk ke dalam kamar. Menguncinya. Biarlah dia sendiri sekarang. Hara ingin menenangkan diri.

Sialnya, perkataan Ayah kembali terputar di dalam kepala. Seolah dengan sengaja menghantui pikirannya. Perempuan itu melangkah ke kasur. Lantas menangis pelan di sana. Sesak. Mengapa sesakit itu merelakan orang yang kita cintai?

Dan Hara sadar. Meskipun tekadnya sudah hampir bulat untuk melupakan Mas Dzakki, masih ada cinta di hatinya. Itulah kenyataan pahitnya.

***

Selamat bertemu di bab selanjutnya.
Yang belum follow akun wattpad saya, follow sekarang yuk^^

Terima kasih atas dukungan kalian untuk cerita ini. Semoga suka dengan judul dan cover yang baru, ya.

Salam Hangat,
Novita

Ketika Kau Hadirkan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang