Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Tiga Puluh Dua

2.5K 103 15
                                        

Assalamu'alaikum

Ada yang kangen Hara?

Mohon maap baru bisa update.

Sebelum baca boleh divote dulu.
Monggo.

....

Udah?

...

Happy Reading. ❤

***

Hara tengah duduk di kursi putar saat Agreea menghampirinya. "Mba, Mutiara izin nggak masuk," katanya. Yang tentu membuat Hara mengerutkan kening, sebab Mutiara karyawan yang paling rajin. Bahkan meskipun hujan deras, dia selalu datang paling awal. "Ada musibah, Mba. Kakaknya pergi dari rumah, katanya karena nggak rela suaminya menikah lagi."

Mendengar itu, Hara tertegun.

"Suaminya selingkuh. Tidur dengan perempuan lain," sahut Anggi seraya menopang tumpukan gamis dalam plastik transparan. "Aku kasihan bangat sama kakaknya Muti," sambungnya, lalu menyusun tumpukan itu ke dalam lemari.

Keeyla mencondongkan tubuh, ingin mendengar lebih jelas. Pasalnya dia baru kembali setelah berganti pakaian. "Serius lo, Anggia?" tanyanya dengan bola mata melotot sempurna. "Bukannya Kak Gya lagi hamil, ya? Tega bangat suaminya. Gue pikir laki-laki nggak akan ninggalin kita kalau udah ada anak. Karena salah satu alasan menikah untuk mempunyai keturunan. Tetapi ternyata salah, ya? Kalau emang niatnya mau selingkuh tetap akan nikah lagi meskipun sudah punya anak. Berarti nggak punya anak nggak bisa dijadikan alasan buat selingkuh dong?"

Hara tertohok mendengar itu. Apakah selama ini suaminya memang tidak sebaik yang dia pikir? Apakah pernah terbesit di kepala Mas Dzakki untuk meninggalkan dirinya?

"Namanya juga laki-laki," sahut Elyana, memotong pikiran Hara. Dia menggigit goreng pisang. Meringis pelan saat Hara memergokinya. "Maaf, Mba, aku lapar bangat nggak sempat sarapan tadi. Beli goreng pisang deh di pertigaan depan." Dia menyengir.

Hara tidak berkomentar. Memutuskan untuk meraih tas tangan dan melangkah keluar. Biasanya para karyawannya bisa menjadi obat yang ampuh, tetapi sepertinya tidak berlaku untuk sekarang. Apakah karena Hara sudah muak telah berpura-pura bahagia dan lelah menutupi luka yang semakin hari semakin dalam menyayat dirinya?

Ketika sebuah taksi melintas di depannya, Hara memberhentikan dan masuk. Ya Allah, maafkan Hara yang sekarang sudah tidak semangat lagi menjalani hari. Perempuan itu mengembuskan napas, menyenderkan tubuh ke belakang dan melempar tatapan ke luar kaca. Langit cerah sekali, berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Redup.

Hara memutuskan untuk berhenti di taman kota. Melihat beberapa orang duduk di sana. Ada yang asyik mengobrol, bercanda, bahkan ada pula yang mendorong kereta bayi. Terlihat sangat bahagia. Seorang pasturi yang saling merangkul dan tertawa lepas. Apakah salah jika sekarang dirinya merasa paling menderita? Dulu, Hara yang pernah mengatakan kepada Rayya untuk percaya dengan segala ketetapan Allah, kenapa justru sekarang dirinya yang seolah mengingkari kata-katanya?

Dia mengembuskan napas dan memutuskan untuk pergi dari sana. Kembali memesan taksi.

Seseorang mengetuk kaca mobil saat tengah berhenti di dekat lampu merah. Hingga Hara pun menoleh dan melihat Brahma yang tersenyum kepadanya. Bahkan laki-laki itu memberikan isyarat agar Hara membuka jendela. Akhirnya Hara menurutinya dan mengulas senyum tipis.

Ketika Kau Hadirkan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang