Tiga Puluh Tiga

2.4K 116 27
                                        

Assalamu'alaikum....

[Ketika Kau Hadirkan Dia| Tiga Puluh Tiga]

Selamat membaca. ❤

***

Mereka pergi ke Ancol. Menikmati sunset yang tampak indah. Berdiri di jembatan ditemani semilir angin yang bertiup perlahan. Andaikan saja sekarang Mas Dzakki yang berdiri di dekat dirinya, pasti Hara akan sangat bahagia. Dia lantas mengembuskan napas, berusaha melepas sesak.

"Kamu tahu nggak? Waktu kecil aku suka bangat sama senja." Bola mata Hara lurus menatap guratan cahaya pada langit di depannya. Sama sekali tidak menoleh Brahma. "Tapi ... sekarang aku sadar bahwa ternyata sesuatu yang pergi itu menyakitkan. Mungkin, aku lebih memilih untuk menyukai sunrise setelah ini."

"Bukankah memang semua perempuan suka dengan senja?"

"Kamu pikir begitu?" Hara mengerutkan kening.

Brahma mengangguk. "Perempuan ... cenderung menyukai hal yang manis dan romantis. Senja sendiri bisa menjadi lambang keromantisan, bukan?" Laki-laki itu memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku celana.

"Memangnya laki-laki tidak menyukai senja?"

Ada senyum tipis di bibir Brahma. "Entahlah. Tapi aku bukan tipe yang melankonis, Ra. Aku tidak menyukai hal-hal seperti itu. Lebih sibuk dengan menonton kegiatan olahraga atau pun bisnis." Sekarang Brahma menoleh Hara. "Mungkin, laki-laki di luar sana ada yang menyukai senja," sambungnya seraya mengedikkan dagu.

Hara mengangguk. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi sekarang.

"Ra?" Brahma memanggilnya. "Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?"

Tentu Hara tertegun mendengar pertanyaan itu, lalu .... "Ya, aku bahagia. Dia laki-laki baik," katanya seraya membenarkan letak jilbab akibat angin. Perempuan itu kini menundukkan kepala. Merasa canggung.

Brahma seolah tidak yakin. "Kamu lapar, Ra? Mau ke restoran?" Tetapi laki-laki itu tidak mau Hara tersinggung. "Aku tidak bisa menahanmu terlalu lama di sini, bukan?" sambungnya dengan seulas senyum tipis. Laki-laki itu menggerakan tangan, mempersilakan Hara untuk melangkah.

Setelah balas tersenyum, Hara melangkahkan kakinya melewati Brahma. Lalu mengembuskan napas. Ternyata ... berpura-pura bahagia itu berat. Namun, sebagai seorang istri tidak sepatutnya dia membicarakan suaminya sendiri. Apalagi kepada laki-laki lain. Bahkan sekarang dirinya pergi dengan Brahma tanpa sepengetahuan Mas Dzakki sudah merupakan suatu kesalahan.

"Bagaimana dengan gaun Ibu, Ra? Apakah sudah selesai?" tanya Brahma ketika mereka sudah ada di dalam taksi. Brahma duduk di depan dengan Pak Supir, sedangkan Hara sendiri di belakang.

"Aku masih harus merapikan beberapa bagian." Hara tersenyum. "Akan aku selesaikan dengan segera," katanya. "Dan ... titip salam untuk ibumu, ya? Boleh?"

Brahma menatap Hara. Tanpa berkedip. Sampai perempuan di depannya mengerutkan kening. "Ah, ya," kata Brahma akhirnya. "Boleh. Sangat boleh," sambungnya dengan cepat.

Hara hanya mengulas senyum tipis.

***

Dengan perasaan yang lumayan membaik, Hara melangkahkan kakinya memasuki rumah. Namun, baru beberapa langkah diambilnya, ada sesuatu menahannya untuk berhenti. Pemandangan yang berhasil memporak-porandakan perasaan Hara. Tidak, bukan hanya perasaannya saja, tetapi juga seluruh jiwa dan raganya.

Tampak Mas Dzakki yang berdiri menghadap Rayya, sementara tangan istri keduanya itu sibuk membukakan dasi di leher suaminya.

Seharusnya, hanya Hara yang ada di posisi itu.

"Kamu dari mana aja, Ra?" Suara Mas Dzakki membuat langkah Hara yang terayun menuju kamar harus terhenti. "Bahkan ponselmu tidak aktif. Saya cemas sekali denganmu."

"Ah, ya. Ponselku mati, Mas." Hara tersenyum sumbang.

Mas Dzakki menggerakkan tangan ke arah Rayya, memberikan kode. Istri keduanya itu mengangguk dan melangkah menjauh. Meninggalkan mereka berdua sekarang. Dengan perasaan Hara yang semakin kusut setiap harinya.

"Kamu marah dengan saya, Ra?" Bahkan sekarang suaminya itu tidak lagi memanggilnya 'sayang' seperti dulu. Ah, ingin sekali rasanya Hara tertawa keras-keras. Menertawakan takdirnya sendiri. "Saya minta maaf, ya. Kamu jangan menjauhi saya seperti sekarang, Ra."

Hara mengerutkan kening.

"Iya, saya merasa ada yang berbeda dengan sikap kamu sekarang ke saya."

Kamu yang membuat semuanya berubah, Mas. Ingin sekali Hara mengatakan itu, tetapi ditahan olehnya di tenggorokan. Tidak mau bersikap tidak sopan kepada sang suami. Yang dilakukannya saat ini hanya tersenyum kecil.

"Mungkin itu hanya perasaanmu, Mas." Hara mengusap pipi suaminya, tersenyum lagi. "Rayya sudah masak apa untuk kamu? Maaf aku tidak sempat membuatkan masakan untukmu. Aku ada urusan pekerjaan. Jangan marah, ya."

"Saya tidak pernah marah kepadamu, Ra."

Ra. Ra. Ra. Ingin sekali rasanya Hara berteriak sekarang. Ya, mungkin ini hanya masalah sepele. Namun, sungguh hingga detik ini dirinya tidak lagi mendegar panggilan 'sayang' dari sang suami. Bahkan Hara mulai merasa apakah panggilan itu kini Mas Dzakki berikan kepada Rayya? Apakah semua hal yang dia miliki dulu kini beralih kuasa kepada Rayya?

Hara tersenyum sekali lagi. "Aku ke kamar ya, Mas," katanya. "Ingin bersiap-siap mandi. Sudah lelah sekali. Aku mau tidur saja."

"Kamu memangnya sudah makan?"

Diam. Tidak mungkin Hara mengatakan yang sebenarnya bahwa dia makan berdua dengan Brahma. "Aku masih belum lapar," kata Hara akhirnya. Meskipun merasa bersalah telah berkata bohong kepada sang suami.

"Saya ingin tidur di kamarmu malam ini, Ra."

Dulu, suaminya itu tidak perlu mengatakan hal tersebut kepadanya. Sepertinya Hara harus sadar bahwa semuanya benar-benar telah berubah sekarang. Mungkin ... hanya ada satu hal yang akan tetap sama. Kenangan.

"Silakan, Mas," sahut Hara singkat. "Aku masuk." Tanpa menunggu sahutan dari suaminya, Hara melangkahkan kaki menuju kamar. Tubuhnya pun menghilang di balik pintu.

Sesak sekali rasanya. Berapa lama dia bisa bertahan dengan kondisi rumah tangga yang seperti ini? Dengan hubungan yang rasanya semakin hari kian renggang. Bahkan Hara mulai merasa mereka seperti orang asing lagi. Seolah menjadi dua insan yang tidak saling mengenal.

Hara merebahkan tubuhnya ke kasur. Ditariknya napas, lalu mengembuskannya perlahan. Apakah dia harus pergi dari rumahnya sendiri untuk beberapa hari ini agar bisa melupakan semua yang terjadi? Mengapa rasanya terdengar sangat mengenaskan. Dirinya yang pertama kali berada di sini, tetapi harus meninggalkan tempat ini.

Bayangan waktu pertama kali Mas Dzakki datang ke rumahnya, membuat Hara mengembuskan napas lagi. Airmatanya menitik pelan. Sungguh, jika saat itu dirinya tahu bahwa bahtera rumah tangga yang diimpikannya akan terjadi seperti ini, Hara lebih memilih untuk tetap sendiri.

Seandainya Hara bisa memutar kembali waktu yang telah terbuang sia-sia. Seandainya dia bisa membaca apa yang akan terjadi di masa depan.

Perempuan itu bangkit berdiri, melangkah pelan mendekati jendela dan menyibakkan gorden. Langit di luar sudah mengguratkan cahaya oranye, sementara dia berdiri memeluk dirinya sendiri di balik jendela. Menatap dunia yang sedang tidak berbaik hati kepadanya. Ah, andai perempuan itu bisa bernegosiasi dengan takdir, pasti sudah dia lakukan.

"Aku ... sampai kapan aku harus menanggung perih ini, Mas?" batinnya berkata lirih.

***

Halo, apa kabar?
Semoga selalu baik, ya.

Jangan lupa untuk tinggalkan vote dan komentar. Ditunggu!
Bentuk apresiasi dari kalian sangat berarti untuk saya.
Thank you! See you next part ya! ❤

Panda

Ketika Kau Hadirkan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang