Assalamu'alaikum
[Ketika Kau Hadirkan Dia| Lima Puluh]
Selamat membaca. ❤
***
Sebuah kabut.
Putih. Sunyi. Seolah dia ada di dimensi lain.
Ada yang aneh dengan dirinya. Entah kenapa, Hara merasakan bahwa tubuhnya begitu ringan. Dia melangkah pelan, melihat bahwa telapak kakinya tidak beralas apa pun. Belum lagi, tubuhnya yang seolah seperti asap. Ada perasaan takut yang tiba-tiba datang menghampiri. Menyergapnya.
Namun, Hara terus melangkah, mencoba mencari jalan keluar. Hingga akhirnya dia merasa lelah. "Di mana aku?" lirihnya kepada diri sendiri. Lalu menoleh ke kanan dan kiri dengan bingung, sekaligus takut. "Assalamu'alaikum. Apakah di sini ada orang?" tanyanya. Sayangnya, tidak ada sahutan sama sekali.
Dan Hara memutuskan untuk berlari. Dengan kencang. Dia berusaha keras memaksakan diri. Sekaligus berdoa di dalam hati. Juga melafalkan Istighfar berkali-kali. Hingga, tiba di sebuah lorong yang memantulkan semburat cahaya.
Hara menyipitkan kelopak mata, muncul seseorang yang sangat dikenalnya. Seorang lelaki dengan pakaian rapi. Ada senyum di wajahnya. Itu ... suaminya. Itu Mas Dzakki!
Sayangnya, saat Hara ingin melangkah mendekat, mendadak seolah ada sekat di antara mereka. Yang menahan tubuhnya dan membuatnya tidak bisa melangkah lebih jauh. Hanya saling pandang. Sekarang, rasanya Hara ingin menangis. Dia harus keluar dari sini. Perempuan itu lantas bersimpuh, memeluk dirinya sendiri dengan erat.
"Ra?" Suara itu tiba-tiba memanggil, membuat kepala Hara terangkat, kembali memandangnya. "Saya ingin mengatakan beberapa hal. Tolong, ingat semuanya baik-baik. Dan saya berharap kamu bisa mengerti semua ini. Saya berharap kamu bisa ikhlas setelahnya."
Apa maksudnya ini? Mengapa Mas Dzakki berkata seperti itu? Di mana mereka sekarang? Hara tidak tahu harus melakukan apa. Dia hanya bisa pasrah seraya menekuk lutut. Memandang suaminya yang justru malah tersenyum lembut. Mengapa Mas Dzakki bisa tersenyum di saat Hara ketakutan?
"Ada sebuah surat wasiat dari Pak Muntaz untuk saya dan tolonglah baca surat itu. Maka dengan begitu kamu akan mengerti mengapa saya melakukan semua ini." Mas Dzakki bersuara. "Saya sangat mencintaimu, Ra. Namun, mungkin takdir berkata lain. Selama ini, saya berusaha untuk tidak melukis luka dihatimu. Tetapi sulit. Sekuat apa pun saya berusaha. Sebab datangnya orang ketiga memang selalu menimbulkan luka."
"Saya tersiksa dengan diri saya sendiri, Ra. Saya tahu bahwa saya akan menyakiti Rayya, sebab selama ini tidak mau menyentuhnya. Hal itu saya lakukan bukan tanpa alasan. Pertama, karena saya tidak mau melukaimu. Dan kedua, saya tidak tahu mengapa setiap kali saya mendekatinya, kamu yang selalu ada di dalam pikiran saya. Akan lebih menyakitkan lagi saat saya sedang bersama dengannya, tetapi kamu yang saya bayangkan."
"Ra, terima kasih sudah mau memaafkan saya. Terima kasih sudah mau memaafkan Rayya. Dan tolong katakan kepada Rayya, tidak perlu lagi mencari tahu siapa Ayah dari bayi itu. Mungkin, suatu saat Allah akan menjawabnya sendiri."
Dingin, menggigil. Hara memandang suaminya dengan penuh. Meskipun kini bibirnya mulai bergetar pelan. Seolah suhu di sekitar tengah menusuknya dengan perlahan. Airmatanya pun mulai menetes. Hingga Hara menggigit bibirnya demi menahan rasa dingin.
"Ra?" Suara itu kembali memanggilnya. "Saya sangat mencintaimu. Bahkan saat pertama kali kita bertemu, saya sudah jatuh hati dengan segala keanggunan dan kerendahan hatimu."
"Saya mencintaimu dengan begitu sangat, Ra. Tetapi, mungkin takdir sudah berhenti melukis kisah kita. Cukup simpan saya sebagai kenangan. Dan jangan kamu bebankan kenangan ini kepada takdir di masa depan."
"Ra, kamu perempuan yang sangat baik yang pernah saya kenal."
"Ra, terima kasih. Terima kasih untuk semuanya."
"Ra, saya mencintaimu. Semoga kamu bahagia."
"Ra?"
Sekarang suara itu terdengar sangat sayup. Hara mengusap airmata dan bergerak berdiri, lantas mengangkat tangan ke arah suaminya. Melihat bahwa secara perlahan kabut semakin menebal, menutupi penglihatannya.
"Ra ...."
Suara Mas Dzakki semakin sayup terdengar. Dan kabut semakin tebal menutupi pandangannya.
"Selamat tinggal."
Dan ... semuanya gelap. Total.
***
Hara terbangun dengan peluh menetes di pelipis. Seorang suster baru saja menepuk bahunya. Dia menoleh dan mendapati bahwa sudah ada banyak perawat di sekitarnya. Ada apa sebenarnya? Dan ... saat dia menoleh ke arah suaminya, bola mata itu tertutup rapat. Namun, satu hal yang baru Hara sadari. Mesin pendeteksi detak jantung itu berhenti.
Terkesiap, Hara menatap salah seorang suster. Salah satu di antara mereka lantas menepuknya. "Mohon maaf, Bu. Tolong keluar dari ruangan ini. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan suami Anda."
"Apa yang terjadi dengan suami saya, Suster?"
Hara panik sekali sekarang. Dia melihat para petugas medis lalu-lalang di sekitarnya. Kemudian dirinya diajak keluar dari ruangan itu. Dipersilakan untuk duduk di sebuah kursi.
"Saya mohon Ibu tenang sekarang. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
"Suster?" Hara mencekal lengan wanita dalam balutan seragam itu. "Ada apa sebenarnya. Mengapa tiba-tiba seperti ini? Sebelum saya tidur, suami saya baik-baik saja."
"Ibu, mohon tenanglah." Suster menarik napas. Menuntun Hara agar duduk di kursi. "Sekarang Ibu tunggu di sini. Saya akan memberikan kabar secepatnya mengenai kondisi suami Ibu."
Hara hanya mengangguk pelan, tidak tahu harus merespon apa. Sedangkan airmatanya sudah mengalir dengan deras. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dan apakah sebelumnya dia tangah bermimpi? Tentang surat wasiat itu? Tentang ucapan selamat tinggal dari Mas Dzakki? Apakah itu pertanda buruk? Hara dengan cepat mengeluarkan ponsel dari saku. Menghubungi Rayya dengan airmata yang terus mengalir ke pipi.
"Assalamu'alaikum." Suara Rayya terdengar lirih di ujung sana, seperti orang bangun tidur. "Halo? Mba? Ada apa, Mba?" tanyanya secara beruntun setelah tidak mendapatkan jawaban.
"Ray?" Satu kalimat singkat, tetapi rasanya sangat sulit untuk dia ucapkan sekarang. "Tolong ke sini sekarang," sambungnya lirih.
Dan setelah itu, telapak tangannya terlukai lemas. Hara menyandarkan tubuh ke belakang. Rasanya sekarang dia sangat tidak berdaya. Perempuan itu menggigit bibir, berdoa di dalam hati. Mengingat Allah dan memohon pertolongan.
Hingga ... seoang suster kembali menemuinya. Ada sorot sendu di bola matanya. Membuat hati Hara terasa seperti teriris. Tidak, Mas Dzakki pasti baik-baik saja. Dia laki-laki yang kuat.
Hara dengan segera berdiri, menatap penuh ke arah suster yang kini berada tepat di hadapannya. Apakah mereka berhasil melakukan yang terbaik dan menyelamatkan nyawa Mas Dzakki?
"Bagaimana keadaan suami saya, Suster?" tanya Hara, airmatanya terus mengalir ke pipi.
Suster itu menyentuh pundaknya, mengusap pelan. "Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi suami Anda tidak bisa kami selamatkan," katanya dengan pelan.
Deg!
Tubuh Hara terjatuh saat itu juga. Harapannya sudah pupus sekarang. Sesak sekali rasanya. Mengapa takdir mengambil kebahagiaan itu lagi?
"Mas," lirihnya pelan. "Mengapa kamu meninggalkanku?" sambungnya dengan pandangan kosong.
***
Hmmmm:(
Gak tau mau bilang apa lagi.
Saya sedih nulisnya.
Setelah ini masih ada bab lagi.
Sampai jumpa ya. 💜❤
Salah Hangat,
Novita
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Kau Hadirkan Dia
RomanceNamanya Hara Azzahra, perempuan cantik nan shalehah yang rela melepas tawaran bekerja keluar negeri saat melihat keseriusan seorang laki-laki. Sebab bagi Hara, kodrat seorang istri lebih baik di rumah. Laki-laki itu bernama Dzakki Asla Muyassar. Dia...
