Assalamu'alaikum.
[Ketika Kau Hadirkan Dia| Tiga Puluh Lima]
Happy Reading. ❤
***
Mereka sampai di rumah Brahma dan ibunya menyambut dengan sangat hangat. Bahkan beliau mengecup pipi Hara berkali-kali. Sebuah senyum bahagia terulas di wajahnya yang mulai keriput. Hara menjadi teringat dengan ibunya.
"Terima kasih banyak, Menantu." Ibunya Brahma menggenggam telapak tangan Hara dengan erat.
Hara hanya tersenyum sungkan. Sungguh kata 'menantu' yang diucapkan oleh wanita itu cukup mengusik indra pendengarannya. Brahma juga terlihat tidak nyaman, laki-laki itu mengusap tengkuknya.
"Brahma, kapan kamu akan menikahinya?" Ibunya memandang Brahma dengan penuh harap.
Membuat kedua orang di dekatnya terdiam. Brahma sendiri merasa sangat bersalah tidak berkata jujur sebelumnya kepada sang Ibu. Dan sekarang, apa yang harus dilakukannya? Belum lagi, Hara pasti merasa tidak nyaman dengan ini semua. Oh, Tuhan. Betapa bodohnya Brahma. Jika sudah seperti ini bagaimana?
Brahma tersenyum kepada sang Ibu. Memutar kursi roda wanita itu. "Sekarang saatnya Ibu makan siang. Bik Kulsyah sudah menyiapkan makanan untuk Ibu." Didorongnya kursi roda itu dengan pelan.
Ibunya menahan tangan Brahma, memintanya untuk berhenti mendorong. "Ibu sedang bertanya kepadamu, Nak. Tidak baik mengganti topik tanpa persetujuan lawan bicara."
"Hara masih belum siap, Bu." Brahma sendiri tidak percaya bahwa kalimat itu keluar dari mulutnya.
Hara mengerutkan kening. Menatap Brahma dengan wajah keheranan. Apakah laki-laki itu serius tidak mau mengatakan yang sejujurnya kepada sang Ibu? Bukankah setelah ini mereka akan kembali menjauh? Di dalam lubuk hatinya, Hara sendiri merasa tidak tega dengan ibunya Brahma. Bahkan saat kini wanita itu menatap ke arahnya dengan pandangan sendu, berhasil menahan kalimat yang ingin keluar dari mulutnya.
"Kenapa kamu belum siap, Sayang? Ibu yakin Brahma pasti akan menyayangimu dengan tulus." Wanita itu kembali menarik tangan Hara. "Mungkin, dia terlihat galak di luar. Tetapi anakku sosok laki-laki yang baik. Dia penyayang, selalu ada untukku kapan pun. Dia juga pasti akan selalu menyayangimu."
"Aku .... " Hara tidak tahu harus mengatakan apa. Dia mengembuskan napas pelan. Mencari kalimat yang tidak menyinggung perasaan wanita itu. "Ya, aku meminta maaf, Bu. Tetapi orangtuaku ingin supaya aku meraih cita-citaku dulu. Aku tidak bisa memaksa Ayah, dia keras kepala omong-omong."
Brahma melirik Hara. Ya, ayahnya perempuan itu memang keras kepala. Namun, dia tidak menyangka bahwa Hara akan mengatakan hal tersebut. Apakah perempuan itu tidak marah?
"Kalau begitu Ibu yang akan mengatakan hal ini kepada ayahmu. Bagaimana, Sayang?"
Hara meringis. Oh, rasanya dia semakin terpojok sekarang. Sulit juga mencoba membohongi orang lain. "Baik, Bu. Tetapi sekarang Ayah sedang ada di luar kota. Ada urusan pekerjaan. Bundaku ikut ke sana. Mungkin, lain kali kalian bisa bertemu." Dan sepertinya Hara lupa bahwa setiap perkataan itu adalah doa.
Brahma memandang Hara. Menatap dengan rasa bersalah yang rasanya sudah menggunung di dada. Laki-laki itu lantas menepuk bahu ibunya dengan lembut. "Ayo, Ibu harus minum obat," katanya, kembali mengganti topik pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Kau Hadirkan Dia
Storie d'AmoreNamanya Hara Azzahra, perempuan cantik nan shalehah yang rela melepas tawaran bekerja keluar negeri saat melihat keseriusan seorang laki-laki. Sebab bagi Hara, kodrat seorang istri lebih baik di rumah. Laki-laki itu bernama Dzakki Asla Muyassar. Dia...
