"Ketika Kau Hadirkan Dia"
Happy Reading 💜
***
Hara melangkah dengan tergesa menyusuri koridor rumah sakit. Hatinya sangat gelisah. Pikirannya tidak karuan sekarang. Dia bahkan menghiraukan panggilan masuk dari ayahnya. Sepertinya lelaki paruh baya itu tahu kalau dirinya tengah pergi menemui Mas Dzakki. Namun, untuk kali ini, Hara merasa dia harus tegas. Demi mempertahankan rumah tangganya. Dia tidak ingin semuanya hancur. Dia tidak ingin kehilangan segalanya secepat itu.
Ketika dia melangkah masuk ke dalam ruangan, terlihat Rayya yang tengah menunduk seraya menggenggam telapak tangan Mas Dzakki. Ada suara isak tangis yang terdengar. Hara ingin melangkah mundur, tetapi sayangnya Rayya sudah mengetahui keberadaannya. Perempuan itu menoleh dan menghapus airmata dengan segera.
"Mba Hara sudah datang," katanya seraya bangkit berdiri. Rayya dengan cepat menghampirinya dan mempersilakannya masuk. "Ayo sini Mba duduk di kursi," sambungnya, mengulas senyum tipis.
"Terima kasih, Ray." Hara mengangguk, lalu menurut duduk di sana. "Kamu mengantuk? Kecapaian? Kalau capai nggak apa-apa kamu pulang aja. Biar sekarang Mba yang nunggu Mas Dzakki di sini. Kamu istirahat di rumah, ya."
Namun, Rayya menggeleng. Masih ada senyum di wajahnya. "Aku nggak capai kok Mba," katanya. "Tapi kalau Mba perlu waktu berdua dengan Mas Dzakki, aku akan keluar sekarang." Rayya berusaha mengalah.
"Nggak apa-apa, Ray. Nggak usah pergi."
"Tadi Mas Dzakki terus-menerus manggil nama Mba."
Hara terdiam. Dia memandang Rayya, lalu beralih ke suaminya sendiri. Mengamati wajah pucat itu. Apakah benar yang dikatakan oleh Rayya? Apakah Mas Dzakki memang benar hanya mencintainya? Hara meraih telapak tangan itu, rasanya dingin sekali. Dia menggenggam dengan erat. Berusaha memberikan kekuatan. Namun, tidak ada respon yang berarti dari suaminya.
Apakah benar Mas Dzakki merindukan Hara? Sekarang dia sudah berada di sini, tepat di sebelahnya. Mengapa lelaki itu belum mau membuka kelopak mata juga?
"Mas," kata Hara dengan pelan. "Sekarang aku sudah ada di sini. Aku di sampingmu, Mas. Aku akan menemanimu." Dia mencium telapak tangan itu dengan pelan. "Ayo buka matamu sekarang, Mas. Apakah kamu tidak merindukanku?"
Rayya, yang berdiri di belakang, hanya bisa terdiam. Perempuan itu menarik napas dalam-dalam.
"Mas, aku sangat menyayangimu."
"Mas, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."
"Mas, sungguh, aku tidak akan mau bercerai denganmu. Aku tetap akan mempertahankan rumah tangga kita sampai kapan pun. Aku akan tetap berdiri tegar. Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku sangat mencintaimu."
Dan di akhir kalimat itu, terdengar isakan pelan. Rayya merasakan dadanya ditekan dengan kuat sekarang. Dia merasa cemburu, sekaligus merasa sangat bersalah.
Perlahan, langkah kakinya terayun mundur. Tidak, dia harus pergi dari sini dengan segera. Dia tidak ingin perasaan bersalah terus menekannya dengan kuat.
"Aku akan berusaha membujuk Ayah, Mas." Suara Hara terdengar lagi. "Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu."
Sebelum Rayya berhasil keluar dari ruangan, gerakan kecil di jemari Mas Dzakki berhasil membuat Hara sontak berseru. Lalu, perlahan kelopak mata lelaki itu pun terbuka. Dan Rayya yang masih ada di sana, ikut mematung di tempat. Kakinya sulit untuk digerakan. Sungguh, ternyata memang benar Mas Dzakki hanya menunggu Mba Hara. Mereka mungkin memang ditakdirkan untuk tetap bersama sampai kapan pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Kau Hadirkan Dia
RomanceNamanya Hara Azzahra, perempuan cantik nan shalehah yang rela melepas tawaran bekerja keluar negeri saat melihat keseriusan seorang laki-laki. Sebab bagi Hara, kodrat seorang istri lebih baik di rumah. Laki-laki itu bernama Dzakki Asla Muyassar. Dia...
