Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Tujuh Belas

1.7K 107 4
                                        

Assalamu'alaikum
[Ketika Kau Hadirkan Dia| Tujuh Belas]

Happy Reading. ❤

***

Dzakki beserta dua bodyguard berusaha membuka jendela. Cukup susah sampai akhirnya mereka berhasil, serpihan kaca berhamburan. Gelap. Ruangan itu sangat gelap. Dzakki mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menekan layar untuk menghidupkan senter. Di keremangan, nampak siluet tubuh yang sedang meringkuk ketakutan. Mereka semakin mendekat dan terdengar isak tangis. Seorang perempuan dan saat Dzakki mencoba meraih kepalanya, ternyata itu adalah Rayya. Kondisi gadis itu terlihat mengenaskan. Bahkan pakaiannya ada yang sobek.

Di luar pintu, terdengar suara orang bertengkar. Sementara Dzakki menelepon polisi. Para bodyguard membantu Rayya untuk keluar dari sana dengan sangat hati-hati. Dzakki ikut menyusul, dia mempersilakan Rayya untuk masuk ke dalam mobilnya dan meminta para bodyguard untuk tetap menunggu di luar sampai pihak polisi datang. Bagaimana pun, Dzakki kenal dengan beberapa polisi. Seharusnya para penjahat itu tahu mereka tengah bermain api dengan siapa.

"Kamu ... apa yang terjadi sebenarnya, Ray?" Dzakki menunduk, berusaha mengajarkan wajah dengan Rayya yang sepertinya enggan menatap ke arahnya. Namun, bukannya menjawab gadis itu malah kembali terisak. Melihat tubuhnya yang gemetar dan seolah menggigil, Dzakki pun mengecilkan AC sebelum melanjutkan mobilnya. Perasaannya sekarang sangat tidak karuan. Dzakki merasa gagal. Dia tidak bisa melindungi gadis itu.

Hening yang cukup lama. Hanya terdengar isak tangis Rayya. Jujur saja, Dzakki merasa ngilu melihat gadis itu dalam kondisi seperti ini. Bahkan separuh dari dirinya merasa sangat bersalah. Sampai beberapa meter terlalu, gadis di sebelah dirinya mengusap air mata dan mengangkat wajah. Rayya menoleh ke samping, menatap Dzakki yang tengah menyetir dengan pikiran tidak tenang.

"Berhenti, Mas!" teriak Rayya.

Dzakki menoleh. Dia menatap bingung ke arah gadis itu.

"Aku bilang berhenti!"

"Ray .... "

"Berhenti atau aku pecahin kaca ini," ancam Rayya. Gadis itu melepaskan sebelah high heels-nya.

Akhirnya Dzakki pun menghentikan mobil itu. Dia menggerakkan tubuh untuk menghadap ke arah Rayya yang kini menatapnya dengan tajam. Sesuatu yang fatal pasti telah terjadi.

"Buka pintunya," perintah Rayya lagi. Gadis itu bahkan berani menantang Dzakki lewat tatapan di bola matanya. Menyaksikan Dzakki yang hanya diam, Rayya mendengkus. "Buka atau aku pecahin kacanya, Mas. Aku nggak main-main!"

"Tapi kamu mau ngapain, Ray? Seharusnya sekarang kamu cepat sampai ke rumah." Kalimat itu tentu diucapkan dengan sangat hati-hati. "Saya sudah meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan salinan dan makanan. Kamu harus istirahat, Rayya."

Gigi gadis itu bergemeletuk. "Kamu pikir aku bisa tidur dengan tenang setelah ini, Mas?" tanyanya. Sekuat apa pun dia berusaha, ternyata getar dalam suaranya tetap sulit untuk disembunyikan. "Aku bahkan rasanya ingin hilang dari Bumi. Ini semua nggak adil bagi aku. Kenapa orang di Bumi jahat-jahat, Mas?"

"Rayya .... "

"Apa? Mas mau aku harus sabar? Iya?" Gadis itu mengangkat dagunya. "Aku bahkan merasa nggak ada gunanya terus menghirup udara. Semakin banyak udara yang aku hirup, malah semakin aku menderita."

"Ada apa sebenarnya, Rayya?" Dzakki tidak ingin menghakimi. Dia berkata dengan sangat lembut. "Saya benar-benar panik saat tahu kamu belum pulang ke rumah."

Rayya, yang merasakan bahwa airmatanya sudah menetes, segera menghapus cairan bening itu. Dia mengibaskan telapak tangan, enggan menjawab pertanyaan Dzakki. Bagaimana pun, tekadnya sudah bulat sekarang. Satu hal yang Rayya tahu. Bahwa Bumi bahkan tidak mengharapkan kehadiran dirinya. Lalu, untuk apa memaksakan diri tetap berpijak pada tempat yang salah?

"Buka pintunya, Mas." Sekali lagi Rayya meminta. Namun, kali ini sorotan matanya berubah. Mungkin, dia sendiri sudah merasa lelah dan pasrah. "Aku mohon buka pintunya, Mas," sambungnya.

Dzakki menggeleng, lalu mengembuskan napas. "Kita pulang, ya," katanya, menyejajarkan wajah dengan Rayya. Suaranya sangat manis, seolah tengah berusaha membujuk anak kecil yang sedang merajuk ingin dibelikan mainan.

"Aku pecahin kacanya sekarang juga, Mas!" Rayya sudah mengangkat telapak tangannya.

Setelah berpikir sebentar, akhirnya Dzakki pun membukakan pintu mobil. Rayya segera turun setelah mengenakan kembali high heels-nya. Dzakki juga ikut keluar dari mobil. Gadis di depan dirinya terus melangkah dengan lebar. Sekarang Rayya sudah berdiri di tengah jalan, menghadap ke salah satu arah dan menatap lurus ke depan.

Gadis itu ingin bunuh diri!

Sebuah mobil melintas. Dzakki segera berlari, dia meraih tubuh gadis dengan rambut curly itu dari belakang. Mereka berguling ke aspal, saling tindih dan menatap satu sama lain. Punggungnya terasa sakit, tetapi Dzakki mengembuskan napas sebab dirinya berhasil menyelamatkan nyawa Rayya.

"Kenapa sih kamu nggak biarin aku mati?!" Rayya berteriak. Dia memukul dada Dzakki berkali-kali. Gadis itu menangis.

Dengan perlahan Dzakki membangunkan tubuh gadis itu. Sekarang mereka duduk bersisian di pinggir aspal. Rayya sudah menekuk lututnya. Bahunya bergerak tidak beraturan. Sedangkan Dzakki diam, ikut meresapi isak tangis gadis di sebalahnya. Ingin mengelus kepala gadis itu, tetapi dia sendiri merasa sungkan.

"Aku mau mati!" Rayya menoleh Dzakki. "Aku mau mati?!" sambungnya.

Masih tidak ada sahutan. Laki-laki yang duduk di sebelahnya hanya diam. Wajahnya kelihatan lelah.

"Agam sudah hancurin aku! Dia ambil keperawananku!"

Kali ini, bola mata Dzakki membulat. Terkejut oleh apa yang didengar telinganya. Bahkan tanpa sadar telapak tangannya terkepal.

"Biarin aku mati sekarang!" Rayya mengembuskan napas dan bergerak berdiri. "Aku udah nggak percaya sama harapan di dalam hidup, Mas. Tolong kamu jangan halangin aku lagi." Dia kembali melangkah, tetapi Dzakki mencekal pergelangan tangannya.

Saat Rayya menoleh, dengan perlahan Dzakki menghapus sisa air mata gadis itu yang belum mengering. Dia menatap Rayya dengan sorot mata yang lembut. Dzakki menggeleng kecil, meraih kepala gadis itu dan mendekatkannya ke dada.

Rayya mematung. Tubuhnya tidak bisa merespon dengan baik sekarang. Namun, bagaimana pun dia tidak boleh goyah lagi. Keputusannya untuk mengakhiri hidup sudah bulat. Tidak ada gunanya lagi berharap. Semakin berharap, dia malah semakin tersiksa. Rayya memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan Dzakki yang entah sejak kapan sudah melingkari keoalanya.

"Lepasin aku, Mas!" teriak Rayya, padahal dia merasa nyaman dalam pelukan itu. Seolah Rayya bisa melepaskan segala beban beratnya. "Kamu tahu, Mas? Aku semakin menderita. Aku nggak kuat seperti ini terus, Mas. Aku mau menyusul Papa saja." Telapak tangan rapuh itu bergerak memukul.

"Aku nggak akan lepasin kamu, Ray."

"Kamu tega lihat aku semakin menderita setiap harinya? Iya?"

Entah kenapa, saat itu Rayya merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipinya. Ternyata Dzakki menangis. Laki-laki itu mengusap kepala Rayya dengan lembut. Namun, bagaimana pun laki-laki itu sangat menyayangi istrinya. Rayya tidak mau merusak hubungan mereka. Sekarang, rasanya Rayya ingin pergi saja dari dunia. Dia tidak mau menjadi benalu dalam hidup orang lain.

"Aku mohon biarkan aku mati," bisik Rayya dengan suara bergetar. "Aku ingin bertemu dengan Papa. Aku ingin dipeluk Papa." Dan tangis gadis itu semakin pecah. Tubuhnya bahkan kini menggigil.

Hati Dzakki terasa sangat ngilu. Laki-laki itu memejamkan kelopak mata, bayangan wajah Hara berkelebat di dalam kepalanya. Ini pilihan yang sangat sulit untuknya. Demi Allah, sebagai seorang suami, sedikit pun dia tidak pernah ada niat untuk mengkhianati sang istri. Hara adalah cinta pertamanya, kekasih halal yang sangat dia dambakan dan Allah berikan. Namun, kini ada hati lain yang perlu ditolongnya, sangat sulit bagi Dzakki untuk bersikap tidak peduli.

Dengan sangat pelan dan tenang, laki-laki itu pun berbisik, "Aku akan menikahimu karena Allah."

Dan Malaikat mencatat kalimat itu.

***

Panda

Ketika Kau Hadirkan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang