Lisa bersiul sembari memainkan sneakernya pada lantai lift yang dinaiki.
Sehun menatap gadis di sebelahnya itu dalam diam.
Beberapa jam lalu Lisa masih gemetar dan ketakutan hebat. Bahkan gadis itu sempat menangis hingga tertidur di mobilnya karena baru saja bertengkar dengan sang ibu.
Tapi lihat sekarang, Lisa sudah bersenandung seakan ia tak pernah menangis dan ketakutan disana.
Entah karena Lisa yang terlalu hebat menyembunyikan perasaannya, atau memang pikiran gadis puber itu yang masih belum stabil.
Ting.
Pintu lift terbuka dan Lisa memimpin langkah mereka disana seakan ia yang paling tahu kemana arah tujuannya.
"Nomor berapa?" Kata Lisa tanpa menoleh ke arah Sehun.
"301. Unit paling ujung."
Dengan segera Lisa berjalan cepat dan memastikan angka yang tertera pada tiap pintu.
Angka 301 dengan plat berwarna gold mengilap itu telah terpampang gagah di hadapan Lisa. Pun gadis itu segera menekan tombol bel yang ada di sana.
Beberapa menit berlalu, dan Lisa melihat seseorang sudah membukakan pintu untuk mereka.
Suho dengan wajah mengantuk dan raut muka terganggu itu mengernyit saat melihat dua insan dihadapannya.
"Mimpi macam apa ini." Kata lelaki itu sembari hendak menutup pintunya kembali.
Tentu saja Lisa berhasil menghadangnya untuk menerobos masuk ke dalam sana tanpa permisi.
"Selamat malam Suho oppa. Merindukanku tidak?" Lisa tertawa dihadapan Suho dengan rentetan giginya yang rapi.
Pun yang disapa berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih belum terkumpul sampai ia menyadari sesuatu.
Suho membuka lebar tangannya di hadapan Lisa.
Untuk beberapa saat Lisa dan Sehun memandang lelaki itu dengan penuh tanya, namun Lisa segera menghambur ke pelukan Suho kemudian.
"Kenapa matamu selalu bengkak saat bertemu denganku?" Suho meletakkan telapak tangannya di atas mata Lisa seakan telapaknya bisa berfungsi sebagai kompres dadakan. "Apa Sehun membuatmu menangis lagi?"
"Cih, untuk apa. Aku sudah bertekad takkan menangis lagi untuk lelaki di belakangmu."
"Pintar." Kata Suho sembari menarik Lisa yang masih ada di pelukannya ke ruang tengah.
"Ngomong-ngomong apa kalian tidak punya jam? Atau sudah tidak mengenal waktu? Jam berapa ini???" Suho segera melepas pelukannya dari Lisa dan duduk di atas sofa dengan malas.
Bagaimana tidak? lelaki itu baru saja pulang dari shift siang. Pun Suho baru saja tertidur satu jam ketika bel apartmennya berbunyi untuk mengganggu.
"Oppa, izinkan aku menginap disini." Kata Lisa yang sudah mengambil bantal dan membaringkan tubuhnya pada sofa di seberang Suho. Sementara Sehun yang kembali bisu itu hanya bersandar pada dinding sembari melipat kedua tangannya.
"Apa."
"Izinkan aku meng-"
"Apa kau sudah gila?" Suho memotong kalimat Lisa sembari memijit kepalanya yang sedikit pusing. "Sehun tolong bawa pulang gadis cilik ini."
Lisa segera duduk ditempatnya dan memandang Suho sembari membuat pose memohon disana, "Oppa, kau adalah lelaki terbaik di Korea. Aku sangat menyayangimu. Aku mohon izinkan aku menginap satu malam disini jika kau tak ingin melihat berita kematianku di sungai Han esok pagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Enchanted By You
FanfictionLisa merasa jika Sehun sudah memiliki hatinya sejak lama. Walau Sehun hanya menganggapnya sebagai anak kecil. Walau Sehun hanya memanggil Lisa sebagai 'teman adikku' tanpa pernah menyebut namanya. Walau usia memberi jarak diantara mereka. Walau lel...
