44

5.6K 721 51
                                        

Cio masih berada di rumah Ara, tempat ini yang paling aman menurutnya, Setelah apa yang sudah ia katakan pada Gito, ia yakin kakak nya itu bisa membuka pikiran nya dan kembali ke jalan yang benar.
Tapi tidak dengan Ayahnya, Ia tahu sekejam apa Ayahnya, semenjak pernah bangkrut Ayahnya menjadi pribadi yang licik dan sangat ambisius.

"Kak Cio"

Cio menoleh dan mendapati Chika yang sudah berdiri di samping nya dengan membawa kotak P3K

Chika duduk di samping Cio, keduanya saat ini tengah berada di teras rumah, menunggu Shani dan Ara yang belum juga pulang.

"Aku obatin dulu luka kak Cio" ucap Chika yang langsung membuka kotak P3K tadi.

Cio masih memperhatikan Chika, ia bahkan hanya diam saja saat Chika mulai mengobati luka-luka di wajahnya.

"Aku seneng deh kamu udah ga trauma lagi" ucap Cio.

"berkat kak Beby, ya walaupun aku masih lebih waspada terhadap laki-laki"

"Waspada itu perlu Chik, bahkan dengan laki-laki yang kamu cintai sekalipun, apa yang terjadi antara aku dan Shani cukup jadi pelajaran buat kalian"

Chika menganggukan kepalanya, mungkin inilah salah satu sebab nya ia lebih bisa merasa nyaman saat dekat dengan Ara, ia percaya jika Ara tak akan pernah melukai nya.

"Mulai buka hati kamu untuk laki-laki ya Chik"

Kalimat dari Cio tadi langsung membuat Chika terdiam.

"Aku tau kamu dan Ara punya perasaan lebih dari sekedar adik kakak, tapi itu ga boleh Chika"

Chika menutup kembali kotak P3K nya, lalu bersandar pada senderan kursi dan menatap kosong ke arah depan, Cio tau Chika sedang memikirkan perkataan nya barusan.

"Kalau kamu tetap memilih mengikuti perasaan yang salah, coba pikirin juga masa depan Ara, masa depan seperti apa yang bisa seorang perempuan kasih untuk perempuan lagi?"

Nasehat Cio terhenti saat mobil yang membawa Shani juga Ara masuk ke halaman rumah.

Shani keluar dengan wajah berseri sementara Ara yang masih menggunakan seragam security terlihat kelelahan terlebih lagi di tangan nya membawa banyak kantung belanjaan Shani.

"Waah jadi belanja?" Tanya Cio

"Wiih Jidi belinji" Ara mencibir perkataan Cio, ia masih kesal karena ide Cio, ia harus menanggung malu pergi dengan pakaian seperti ini.

"kenape lu? seneng dong jalan-jalan sama bidadari"

"ish, udah ga usah ngeledek lagi, bantuin nih"

Walaupun masih puas dengan tawanya, Cio langsung saja mengambil alih beberapa belanjaan Shani diikuti oleh Shani di belakang nya, sementara Chika masih saja terdiam.

"Duh Cape nih kak" Ara memijat-mijat bahunya yang terasa pegal, namun ia terlihat heran karena Chika seperti tengah melamun.

Ara pun memutuskan untuk duduk di tempat Cio tadi, ia meraih tangan Chika dan menggenggam nya. Chika tersentak kaget brarti benar sejak tadi Chika melamun.

"kenapa?" tanya Ara dengan lembut. Sejujurnya ada rasa khawatir saat melihat Chika duduk berdua dengan Cio tadi, ia tau betul Cio sangat menentang hubungan nya dengan Chika.

"gapapa, ayok masuk" Chika berjalan begitu saja, sementara Ara hanya bisa menatap heran kearahnya.

Di dalam rumah Shani tengah mengeluarkan beberapa belanjaan nya. Ia tersenyum saat Chika menghampiri nya lalu memberikan sebuah jaket yang ia beli tadi untuk Chika.

Pelangi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang