Di sinilah Brama dan Niken berada, rumah keluarga Budiman Kartasasmita yang tidak lain adalah besannya dan ayah tiri Sekar. Brama ingin melihat sendiri keadaan Sekar setelah perkelahiannya dengan sang mantan menantu. Siapa sangka, dirumah besannya dirinya bertemu Guntur yang juga sahabat Sekar. Sebagai orang tua, Brama ingin menjaga keluarganya terutama anak menantunya. Dia tidak ingin pernikahan Haryo dan Aghni berakhir karena adanya orang ketiga, baik itu dari sisi Haryo ataupun dari sisi Aghni. Ia merasa harus turun tangan untuk menyelesaikan semua permasalahan yang berhubungan dengan orang ketiga dalam rumah tangga anaknya. Bukan meremehkan kekuatan cinta Haryo dan Aghni, tapi cinta yang berlebihan bisa membuat seseorang menjadi bodoh dan mudah terhasut. Menurut penerawangannya, ada banyak pihak yang ingin memisahkan HAryo dan Aghni dengan kepentingan yang berbeda. Ia tidak mau anaknya menjadi duda untuk keempat kalinya. Anaknya bukan artis yang karena kawin cerai malah makin populer dan meraup keuntungan besar karena kasus kawn cerainya.Pernikahan bukan ajang main rumah-rumahan yang kalau sudah bosan bisa dibongkar pasang. Ia sebenarnya menyesal melihat rumah tangga anaknya yang morat marit, bagaimanapun juga ada campur tangan dirinya hingga Haryo sampai kawin empat kali dan cerai tiga kali. Cukup Aghni jadi pelabuhan terakhir sang anak, apalagi ada Eka sebagai pelengkap pernikahan keduanya.
Brama mengamati Sekar dengan seksama, kakak tiri Aghni itu terlihat mendapat beberapa luka kecil dan lebam, meski begitu gadis itu masih ceria dan sama sekali tidak perduli dengan luka-lukanya seolah semua itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Brama merasa salut dengan Sekar yang mau membela Aghni dari Nilam, meski dirinya bermain api dengan kekasih adiknya, tapi solidaritasnya sebagai saudara tidak perlu diragukan. Bukan salah Sekar sepenuhnya jika menggoda Guntur, karena kenyataannya cucunya itu juga yang sudah PHP -in anak gadis orang, memberi harapan palsu dengan kedok persahabatan, lelaki dengan egonya, Guntur kira bisa mendapatkan semuanya, adik dan kakak, keserakahan membuat cucunya itu lupa bahwa hati wanita bukan barang yang bisa digenggam seutuhnya tanpa berontakan, selain itu tidak ada wanita yang suka berbagi, apalagi diduakan. Entah apa yang melatari Sekar bermain api dengan Guntur, padahal jelas-jelas sang kakak tahu bahwa Guntur kekasih adiknya. Memang rumit jika berhubungan dengan harta, tahta dan wanita, karena yang Brama alami dirinyapun tidak mudah hidup dengan gelimangan harta, tahta dan juga wanita. Beruntung dirinya mendapat istri yang pengertian dan tidak banyak bertanya saat dirinya tidak bisa selalu hadir menemani sang istri dan kedua buah hati mereka.
"Bagaimana keadaan kamu, Sekar?"
"Tidak apa-apa, Pak. Hanya lebam dan beberapa luka gores. Sudah diobati dan akan sembuh dalam beberapa hari." Brama mengangguk, lelaki tua itu bisa melihat bekas perkelahian Sekar dengan Nilam yang sudah mulai membiru dan mengering. Brama menghela nafas, tidak habis pikir kenapa kedua wanita itu saling adu otot, bukankah semua permasalahan bisa dibicarakan baik-baik, lalu pandangannya beralih pada Guntur yang juga berada disitu. Cucunya itu entah apa yang ada dipikirannya, memberikan harapan pada anak gadis orang tanpa mau memperjelas status diantara mereka. Mana ada sahabatan antara pria dan wanita tanpa ada rasa apa-apa, salah satunya pasti akan jatuh cinta, dalam hal ini Brama melihat Sekarlah yang jatuh cinta dengan Guntur. Brama pikir setelah Aghni menikah, Guntur akan meresmikan hubungannya dengan Sekar, tapi yang terjadi benar-benar diluar perkiraannya, tidak ada peningkatan dalam hubungan keduanya. Baik Sekar dan Guntur merasa nyaman dengan hubungan friend with benefit dan hal ini benar-benar tidak bisa dibiarkan, dirinya akan mengambil tindakan agar apa yang terjadi pada ibu Guntur tidak terjadi pada Sekar. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, apa yang dilakukan Guntur sama dengan apa yang dilakukan Sigit pada Nastiti dan ibu Nilam.
"Beritahu saya kalau kamu butuh apa-apa untuk kesembuhan kamu, bagaimanapun juga kamu seperti itu kan karena membela menantu saya Kamu yakin tidak perlu pemeriksaan lebih lanjut?"
"Tidak perlu pak. Ini hanya luka kecil. Terima kasih atas perhatian Pak Brama." Brama hanya mengangguk tidak menanggapi. Lelaki tua itu segera beralih kearah Guntur.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARYO (TAMAT)
RomanceCover by @Avavva Aku hanya lelaki biasa yang diberi kelebihan harta dan kedudukan. Dalam keluarga kami, aku adalah satu-satunya anak lelaki yang biasa disebut penerus keluarga. Karena satu-satunya lelaki, maka keluarga besarku menuntut ku untuk memb...
