14. Malam yang Panjang

1K 120 18
                                        

Kamu adalah wujud dari segala harapan yang ku doakan maupun mimpi yang sekedar ku halusinasikan.

Rapsberry Latte

Usai mengisi perut dan tertawa ria, Max pun mengantar Gadis pulang ke kosan. Mereka menemukan seorang perempuan berdiri didepan pintu kamar Gadis.

"Max, ya?"

"Iya."

Max memperhatikan perempuan ini dari atas sampai bawah. Perempuan itu tampaknya seperti baru saja pulang kerja. Yang menarik perhatiannya hanya kantong plastik yang berisikan empat botol bir.

"Aku Dame, teman kerja Gadis."

"Max." canggung Max.

"Iya, udah tau. Kan tadi aku udah tebak namamu." goda Dame yang tidak melepas salamannya.

"Max, bawa hand sanitizernya?" saut Gadis.

"Ah, iya. Bawa."

Ia langsung mengambil botol mungil itu dari saku nya dan menyemprotkan tangan kanan yang sehabis bersalaman dengan Dame. Dame tidak tersinggung, ia sudah paham betul isi kepala Gadis. Justru ia semakin ingin menggoda Max agar bisa melihat respon lucu Gadis.

"Mau ikut?" tanya Dame kepada Max.

"Tuan rumahnya aku." sindir Gadis.

"Max, masuk." lanjutnya.

"Gak perlu, aku pulang aja."

Setelah pintu dibuka, Dame pun masuk ke dalam kamar duluan. Mungkin ia berdiri sudah cukup lama dan ingin segera merebahkan tubuh, atau mungkin sengaja memberi waktu temannya lebih lama berdua dengan laki-laki.

"Thankyou, Max."

Max membalas senyum Gadis. Sebenarnya pikirannya masih mengganjal dengan temannya yang datang malam-malam dengan membawa bir itu. Tapi ia tidak ingin menunjukan kekhawatirannya, ia tidak ingin Gadis menambah beban pikiran hanya karna rasa khawatir yang dimilikinya.

"Jangan lupa kunci pintunya, jangan biarin malem ini siapapun masuk." pinta Max.

"Iya. Kalau udah sampai rumah, bilang."
senyum Gadis semringah.

Max mengangguk, ia pergi meninggalkan Gadis.

• • •

Setelah Max sudah tidak terihat dari jarak pandang Gadis, ia pun masuk kedalam kamar. Mengunci pintu kamar.

"Kenapa tiba-tiba ajak aku nginep. Gak biasanya kamu butuh teman." Dame membuka obrolan.

Gadis hanya diam, ia tidak memperdulikan ucapan Dame. Yang ia lakukan hanya duduk dan menuangkan bir yang dibawa Dame.

"Whats wrong?"

"GUA UDAH GAK PERAWAN LAGI, BANGSAT!" teriak Gadis meramaikan seluruh ruangan.

"KENAPA GAK BILANG, BIAR AKU INJEK SI MAX ITU TADI!" Dame ikut menggila.

"BUKAN DIA!"

"ASTAGA GADIS, DASAR WANITA JALANG!"

Gadis mengatur nafas. Sepertinya amarah yang ia sudah pendam dari siang tadi akhirnya terlepas malam ini. Ia mulai menceritakan apa yang Dame tidak ketahui. Mulai dari Kelvin memberinya makan siang sampai terjadinya tragedi itu.

"Terus? Kenapa?" tanya Dame.

"Gadis kita itu bukan wanita yang dipilih Tuhan untuk menangis karna ciuman." lanjutnya.

Thanks A Latte [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang