49. Derita dan Cerita

374 55 20
                                        

Dari ribuan kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ada satupun kata bisa mewakilkan rasa hancurku saat kehilangan dirimu.

Rapsberry Latte

"Dis."

Perempuan itu terkejut mendengar suara yang tak asing dikupingnya. Sekuat tenaga ia meyakinkan dirinya bahwa suara itu bukan pemilik yang ia kira, tapi benar nyatanya bahwa Max ada di depannya sekarang.

"Dimana Willy?" mengalihkan topik.

Ia sudah tau siapa yang membawa Max kesini. Ia adalah manusia setengah kuman. Iya, Willy. Hanya Willy satu-satunya yang mengetahui tempat  ini.

Max menelan ludahnya dengan nafas yang terhenti, "Di mobil."

Tanpa berpikir panjang, ia langsung pergi menemui Willy. Tidak peduli seberapa jauh Max sudah menyusulnya, ia rasanya harus mencubit Willy seribu kali.

Willy yang sudah mendeteksi radar keberadaan makhluk halus, yang bisa ia lakukan hanya menutup seluruh wajah dengan kedua tangannya. Kaca mobil pun terketuk, Willy membuka kaca mobil tidak penuh. Hanya separuh lebih sedikit.

"Kenapa kamu ajak orang lain ke sini?!"

"D-dia jauh-jauh dari Jakarta untuk nyamperin kamu."

"Tapi gak perlu ketemuan di sini, kan?!"

"I-iy .." ucap Willy terhenti sejenak, "Ih aposeh marah-marah! Dia kan pasangan kamu. Apa salahnya dia tau soal sahabat kamu?!"

"Ck! Wiki! Orang yang kamu bawa itu mantannya Gadis!"

Willy tak berkutik maupun berkata. Ia tidak menduga benar adanya kalimat 'dunia sekecil itu'. Dari 136 juta laki-laki di Indonesia ini kenapa orang yang dia bawa itu harus orang yang sangat kenal dengan sahabat Lula.

"Dan orang itu belum tau soal ini." panik Lula.

"Kenapa kamu gak ngomong sama eike?"

"Aku mau ngomong, tapi kamu gak angkat telpon."

"Yah eike kira kan mau ngomongin kerjaan. Hari ini kan eike cuti!"

Lula menyandarkan kepalanya kekaca mobil. Ia menarik nafas dan menggaruk rambutnya berulang-ulang.

"Terus gimana dong .." sesal Willy.

Lula menarik nafas panjang, "Ayo. Balik ke dia."

Lula dan Willy pun kembali ke tempat Max berada. Mereka berdua melihat Max sedang mengelus nisan dan memperhatikan setiap detailnya.

Pagi itu, Max bukanlah Max yang dingin dan bisa menutupi seluruh emosinya. Laki-laki itu terlihat geram meremas tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau segar tersebut. Badannya seketika lemas seperti terpukul balok besar. Matanya begitu jujur mengeluarkan air mata. Max betul-betul kesakitan.

"Enggak. Enggak mungkin .."

Lula ikut berlutut disisi Max, mengelus pundak laki-laki penuh kelemahan itu. Sedangkan Willy hanya berdiri di belakang mereka.

"Tolong bilang sama saya kalau ini bukan dia."

"Max .. ini semu .."

"Kalau gitu, tolong bohong sama saya kalau ini bukan dia!" Max berteriak.

Ia menatap Lula dengan tajam. Mata merahnya menunjukan sedih, kecewa dana marah secara bersamaan.

"Tolong bohong seperti biasanya .." rintih Max.

***************

Mulai dari sini, kita akan memulai cerita tentang Gadis. Perempuan yang sudah lama hilang dicerita ini dan dirindukan keberadaannya.

Thanks A Latte [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang