Pagi menjelang siang, Max tengah serius melihat hasil photoshoot Lula kemarin. Entah dia sungguhan serius atau hanya berpura-pura agar tidak diganggu Lula. Rasa kesalnya masih belum redah sejak semalam, tapi karna profesionalitasnya yang tinggi ia masih bisa bertahan melihat Lula yang ada di depan matanya.
"Gimana? Cucok?" ucap Willy usai Max melihat seluruh hasil.
Max mengangkat kedua alisnya, "Good. Gak ada masalah untuk saya."
Lula tersenyum sombong, "Tentu saj .."
"Kalau begitu saya akan pergi menemui tim marketing. Terima kasih untuk kerja kerasnya." potong Max dingin.
Mengerti maksud Max, Lula dan Willy pun pergi dari ruangan. Dari cara bicaranya, dia seperti sedang tidak punya waktu untuk bicara banyak.
"Indang si Pak Max kenapose?" (Itu si Pak Max kenapa sih?)
Lula mengangkat kedua bahunya. Reaksi Max tadi cukup membuatnya terkejut bahkan kalau boleh jujur, Lula merasa sakit seperti ditusuk. Tapi Lula tidak mau memusingkan hal semacam itu, lebih tepatnya ia berusaha untuk tidak memusingkan.
"Lula." seorang memanggilnya dari belakang.
Lula menengok dan langsung memberi ciuman pipi kanan dan kiri.
"Mau ikut saya?"
"Kemana?"
"Saya ajarkan ilmu dasar untuk menjadi istri yang baik." senyum tante Dziwo.
"Yaulii, Lula hamidah? Kok gak info-info ke eike!" Willy terkejut sambil memegang perut Lula.
"Ssstt " Lula langsung mengisyaratkan untuk diam. "Aku pergi dulu. Kamu bawa aja mobil." lanjutnya.
"Bawa, bawa. Eike loakin!"
Lula mengabaikan Willy dan membawa tante Dziwo untuk pergi. Dia tidak mau Willy terlibat dengan wanita berbahaya ini. Bisa-bisa Willy minta kenaikan gaji karna merasa pekerjaannya semakin berat. Sesampainya di dalam mobil ..
"Kita mau kemana?" tanya Lula sekali lagi.
"Kita mau urus IMB."
"Apa hubungannya dengan menjadi istri?"
Tante Dziwo tertawa kecil, "Istri yang baik itu mendukung suaminya, Lula."
"Ada beberapa dukungan yang harus terlihat. Dan beberapa dukungan lainnya lebih baik jika tidak diperlihatkan." lanjutnya.
"Lalu sekarang kamu akan melakukan dukungan yang kedua itu?"
Tante Dziwo melihat ke arah Lula, "Dibanding perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan Max, memang kamu yang paling pantas jadi mantuku."
Lula hanya membalasnya dengan senyuman. Semakin hari, senyumnya semakin hari semakin mirip dengan tante Dziwo. Penuh angkuh dan kemunafikan.
• • •
Sesampainya mereka di tempat yang dituju ..
Tante Dziwo dan Lula masuk ke salah satu ruangan. Mereka berdua pun duduk, tante Dziwo sempat berbasa-basi dengan orang tersebut. Tidak biasanya tante Dziwo bersikap seperti itu, sepertinya orang itu baru dikenalnya hari ini.
"Jadi, apa bisa dipercepat prosesnya?"
"Maaf ibu, memang prosedurnya sudah seperti ini." jawab orang itu dengan lembut.
Tante Dziwo menghela nafas sebentar dan tersenyum kembali. Ia mengeluarkan amplop coklat tebal dan menaruhnya tepat di depan orang itu.
"Kalau sekarang, apa bisa dipercepat?" tante Dziwo percaya diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks A Latte [END]
Roman d'amourNamanya Allula Gladis, biasa dipanggil Gadis. Seorang barista paruh waktu yang sebetulnya menghabiskan seluruh hidupnya untuk cafe tempat ia bekerja. Suatu hari, cafe nya mendapat pelanggan sekelompok anak muda. Itulah awal dari bertemunya Gadis den...
![Thanks A Latte [END]](https://img.wattpad.com/cover/278335101-64-k823151.jpg)