23. Cerita Iceland : Hari Ketujuh

545 70 15
                                        

"Ada apa?" Gadis to the point.

"Ada hal yang mau kamu tanya ke aku?"

"Sorry, tapi kamu yang panggil aku." jawab Gadis seadanya

"Kalau aku jadi kamu, mungkin aku akan bertanya seperti : Apa yang kalian lakukan semalam? Kenapa kalian hanya pergi berdua? Lalu setelah itu, mengapa Max justru mengajak aku pacaran? Apa ia sedang mempermainkanku?" Quin masih tersenyum.

Gadis diam. Memang benar dia bahagia bisa berpacaran dengan Max, tapi sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan dikepalanya.

"Kalau pertanyaan itu terus menghantuimu, hubunganmu nanti penuh dengan kecurigaan, lho.." Quin memasang muka polos.

"Kalau emang mau jelasin, gak perlu tunggu aku nanya."

"Baiklah. Kemarin saat aku bangun, Max memeluk ku, aku menciumnya." Quin mulai bercerita.

Gadis menyimak dengan muka datar tapi tangannya sebetulnya terkepal. Pacar mana yang tidak kesal mendengar seperti itu?

"Kamu tau? Ibu tiri Max itu, wanita mengerikan. Ia bisa membuat dunia menuruti apa yang ia sudah tetapkan. Salah satu ketetapannya adalah Max menikah denganku."

"Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan yang ia inginkan, orang itu akan menjadi targetnya yang tidak pernah ia lepas." lanjut Quin.

"Aku gak peduli." jawab Gadis.

Quin tersenyum, "Max juga mengatakan itu semalam. Apa kamu yang membuat dia jadi pemberani bodoh seperti itu?"

Gadis jengkel, ucapan Quin sama saja dengan Dame. Wajah yang penuh senyuman tulus dan kalimat yang menusuk. Itulah kesamaan dari mereka berdua yang dibenci Gadis.

"Aku tidak akan mengganggu kalian. Tapi, jika kamu sudah tidak kuat berdiri di sisinya tolong beri tau aku." tegas Quin.

"Jangan mimpi!" ucap Gadis seperti anak kecil.

Quin hanya tertawa, ia memang selalu anggun dan punya kharisma.

"Dis."

"Apa lagi?!" Gadis masih dengan nada kesal.

"Aku mencintai Max, sama seperti kamu mencintainya." Quin menahan air mata.

Gadis diam sejenak, ia bisa melihat perempuan itu menahan sedihnya. Persis seperti dirinya yang selalu terlihat kuat di depan orang, padahal perasaan sesungguhnya sangat berantakan.

"Aku rasa cintamu ke Max lebih besar ketimbang punyaku." ucap Gadis cuek.

Quin terkejut mendengar ucapan Gadis. Apa maksud ucapannya itu? Apa Gadis tidak mencintai Max? Apa ia hanya main-main?

"Level tertinggi dari mencintai seseorang adalah mengikhlaskannya pergi. Melepaskan juga bagian dari perjuangan Quin." Gadis langsung masuk kedalam restaurant.

Mendengar itu, Quin langsung tersenyum. Ia seperti sedikit yakin kalau Gadis adalah perempuan baik.

"Aku rasa kita bisa berteman!" teriak Quin agar terdengar Gadis.

"GAK MAU!"

Diwaktu yang sama saat Gadis dan Quin berbicara, di lain sisi ..

"Ada hal yang harus gua tegasin ke lo."

Thanks A Latte [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang