Bertemu denganmu sesering ini,
aku tidak tau ini bisa disebut
sebuah kebetulan atau keberuntungan.
Rapsberry Latte
"Untuk menjadikan dia brand ambassador harus mengeluarkan biaya sebesar ini?" ucap Tante Dziwo.
"Iya. Tapi aku yakin, feedback yang dia berikan kepada kita juga akan dua kali lipat."
"Oke. Coba jelaskan bagaimana kamu bisa meyakinkan kami?" tenang om Marx.
Max mengeluarkan seluruh data yang ia kumpulkan dan mempresentasikannya di meeting pagi menjelang siang hari ini.
Meeting kali ini dihadiri oleh om Marx selaku Direktur Utama, Tante Dziwo selaku Bendahara Direktur Utama, Max selaku Direktur dan para staff lainnya.
Setelah selama dua jam, ujung dari meeting tersebut adalah tetap menjadikan Lula sebagai brand ambassador. Mereka akan melihat feedback yang diberikan model yang sedang naik daun tersebut selama beberapa bulan ke depan.
"Max, mau makan siang bareng?" tanya om Marx kepada anaknya.
Max melihat orang di belakang ayahnya, seorang perempuan yang sangat dibencinya sampai sekarang.
"No. Thanks." singkat Max.
Max langsung meninggalkan mereka berdua dan memasuki lift.
Om Marx menghela nafas, "Sampai kapan anak manisku bersikap dingin seperti itu.."
"Dia sedang dalam tahap mencari jati diri, biarkan dulu."
"Mencari jati diri lima tahun lamanya?" balasnya, "Sampai kapan dia sadar kalau ayahnya ini semakin tua."
Tante Dziwo mengelus punggung suaminya itu, "Ada aku."
Om Marx tersenyum tipis dan memegang tangan istrinya, lalu berjalan bersama.
• • •
Untuk hitungan jalanan ibu kota yang terkenal padat, jalan yang sedang di lalui Max bisa dikatakan cukup renggang. Matahari yang terik namun tetap terasa sejuk karna AC mobil.
Setelah sampai di tempat yang ia tuju, Max langsung menghela nafas melihat kondisi cafe yang ia singgahi.
'Ramai sekali..' gumam Max dalam hati.
Meskipun begitu ia tetap masuk ke dalam cafe. Perlu usaha yang gigih hanya untuk sampai ke kasir. Entah mengapa banyak sekali kerumunan disana. Ketika Max sudah menerima latte hangatnya, badannya terdorong oleh para kerumanan tersebut.
"Maaf!" kata seorang anak muda dengan rambut yang di cat warna warni.
Max mengangguk. Ia kemudian mulai penasaran. Ia mengecilkan matanya untuk melihat apa yang dibalik kerumunan tersebut.
"Lula?" ucap Max cukup keras.
"Paman mengenalnya?!" tanya anak muda tersebut.
Lula pun melihat Max dan segera menghampirinya. Ia meraih tangan Max, "Tolong saya!"
Mereka pun keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobil Max.
"Ada apa ini?" Max panik.
"Sudah jalan saja!" Lula lebih panik.
'Orang ini seperti sudah akrab lama denganku saja.' gumam Max dalam hati.
"Max, cepet!!"
"Pakai seat belt nya."
Lula langsung menarik seat belt dan berusaha untuk menguncinya, namun beberapa kali gagal. Ia terlalu panik karna kejaran kerumunan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks A Latte [END]
RomanceNamanya Allula Gladis, biasa dipanggil Gadis. Seorang barista paruh waktu yang sebetulnya menghabiskan seluruh hidupnya untuk cafe tempat ia bekerja. Suatu hari, cafe nya mendapat pelanggan sekelompok anak muda. Itulah awal dari bertemunya Gadis den...
![Thanks A Latte [END]](https://img.wattpad.com/cover/278335101-64-k823151.jpg)