Begitulah kisah Gadis yang diceritakan Lula kepada Max di cafe dekat sana. Usai bercerita, Lula memberikan selembar kertas kepada Max. Sesuai permintaan Gadis, Lula boleh bercerita dan memberi surat disaat Max sudah siap dan kuat untuk berdiri.
"Maaf. Padahal yang diinginkan Gadis hanya mendapat restu orang tuamu. Tapi yang kulakukan justru memenjarakan ibu tirimu."
"Tapi aku gak bisa nahan rasa benci setiap aku melihat penyebab saudaraku meninggal." lanjutnya.
"Gak usah minta maaf. Aku yang harusnya minta maaf. Kamu pasti sangat terpukul."
"Kurasa yang paling hancur disini kamu, Max."
Max hanya tersenyum dengan hidung yang sudah memerah, "I'm not fine. But, it's okay."
"Apartmen Gadis sudah waktunya untuk dirubuhkan. Mungkin ada barang yang ingin kamu ambil."
Max berusaha waras dan menahan tangisnya, "Iya."
Mereka bertiga akhirnya pergi ke apartmen Gadis. Langit terlihat gelap, udara mulai mendingin. Semesta yang ikut merahasiakan kebenaran Gadis sepertinya sekarang ikut berduka bersama Max. Sesampainya didepan apartmen, Lula memberikan kunci kamar kepada Max dan pergi memberi Max waktu sendiri untuk menikmati rasa sedih.
Ketika pintu dibuka, segala peralatan dan ruangan terlihat rapih layaknya dihuni. Sepertinya Lula sering mampir kesini ketika dia merindukan Gadis. Max melihat sekeliling, ia tersenyum.
"Ini mah kosan kamu versi lebih elite aja." ucapnya sendiri.
Ia menaruh plastik belanjaan di dekat kompor. Sebelum naik kelantai kamar Gadis, Max mampir dulu ke supermarket apartmen untuk membeli indomie. Semenjak dikenalkan Gadis, sudah jadi kebiasaanya makan indomie setiap hujan turun.
Selesai memasak, ia duduk disofa yang terletak didekat jendela. Sepertinya Gadis ingin kamarnya dibuat semirip mungkin dengan kamar Max. Max menikmati indomie dan hujan kota Bali. Usai makan dia mulai mencari gitar kesayangan Gadis, dan justru menemukan kumpulan bunga matahari kering yang tersimpan rapih divas.
Max juga menemukan beberapa potongan kertas kecil yang tertempel di depan meja kerja Gadis. Seperti ini kira-kira :
"Laporan!"
"Hari ini, genap 6 bulan setelah perjanjian aku dan Max. Aku berhasil lepas dari rokok!"
"Gak sempat minum alkohol karna udah capek kerja :("
"TOEFL 500!"
"Berhasil jadi selayaknya manusia. Makan 3 hari sekali!"
"Mau riya. Habis traktir Lula dan Wiki makanan mahal!"
Max tertawa kecil melihat pencapaian-pencapaian Gadis semasa tidak bersamanya. Dia sangat bangga bisa memiliki perempuan semandiri Gadis. Sudah puas membaca, ia kembali ke sofa dengan membawa gitar. Ia memperhatikan senar dan gitarnya pun masih bagus seperti dulu.
"Makasih Lula udah rawat selama ini." ucap Max.
Ia mulai memetik gitar. Alunan nada menghidupkan ruangan yang sudah lama mati itu. Tanpa sadar, mata Max kembali meneteskan air mata. Ia masih bersikeras untuk tidak menangis, mengalihkan pikirannya dengan memainkan gitar. Namun rasa sedihnya sudah tidak bisa terbendung lagi. Air mata justru semakin mengalir membasahi pipinya. Max pun berhenti bermain sejenak dan menarik nafas dalam-dalam.
"Dimana letak surga itu .."
Max bernyanyi penuh kesakitan. Suaranya serak lebih parah dari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks A Latte [END]
RomanceNamanya Allula Gladis, biasa dipanggil Gadis. Seorang barista paruh waktu yang sebetulnya menghabiskan seluruh hidupnya untuk cafe tempat ia bekerja. Suatu hari, cafe nya mendapat pelanggan sekelompok anak muda. Itulah awal dari bertemunya Gadis den...
![Thanks A Latte [END]](https://img.wattpad.com/cover/278335101-64-k823151.jpg)