Kalau dunia ini dipenuhi kekuatan sihir, aku ingin punya kekuatan untuk menukar jiwa. Lalu sering-sering aku tukar jiwa kita agar kamu tau bagaimana kamu dari sudut pandangku.
Rapsberry Latte
Masih dengan kisah Gadis. Setelah beberapa bulan menghemat dan pelit traktir, Gadis akhirnya bisa membeli sebuah apartmen. Ia bekerja menjadi tour guide sambil membuka bisnis online. Pagi, siang, malam kapanpun itu ketika ada waktu senggang dia selau membalas chat pembelinya. Sekarang hasil kerja kerasnya bisa dinikmati buahnya.
"Akhirnya pindah ke apartmen!" seru Gadis.
"Norak."
"Biarin! Harus bangga dengan hasil keringat sendiri. Daripada modal orang tua, angkat lagi." nyinyir Gadis.
"Sial!"
"Hahaha .. ini tanda kalau aku sudah satu langkah untuk bisa sepadan dengan Max."
"Iya, tapi masih ada 999 langkah lagi."
"Itu lebih baik dari tidak sama sekali."
Gadis yang lekat dengan aura negatif dan putus asa sepertinya sudah tumbuh menjadi perempuan penuh semangat dan harapan. Meskipun Max jauh, tapi pengaruh laki-laki itu berdampak pada hidup Gadis sudah seperti selalu ada disisinya.
Dikamar yang masih berantakan dengan barang-barang dan baju, dua sejoli itu tengah sibuk membersihkan kamar baru Gadis yang akan ditinggalinya sekarang ini. Gadis yang menyapu dan mengepel lantai, Lula yang mengelap seluruh perabotan yang terkena debu dan cat. Ruangan itu diramaikan dengan teriakan Gadis yang kakinya terbentur, Lula yang bersin-bersin dan playlist lagu favorite milik Gadis.
"Dulu, Max nembak aku pakai lagu ini." antusias Gadis.
"Oh .."
Lula sudah tidak terkejut lagi. Selama bersama-sama dengannya, Gadis memang hanya membicarkan soal Max dan Max. Tidak ada yang menarik dalam hidupnya kecuali bersama Max. Memang pada kenyataannya begitu, Gadis membenci hidupnya sebelum mengenal Max.
Termasuk sekarang, dia sedang menceritakan detail kejadian Max menyanyikan lagu di bar Iceland kepada Lula. Seperti itulah dia.
"Max itu benci jadi bahan sorotan, tapi dia berani menyanyikan lagu ini ditengah bar. Aku rasa dia sudah kehabisan cara untuk bisa bicara denganku. Padahal saat itu aku sudah siap untuk hidup hampa lagi ketika pulang." ucap Gadis sambil mengepel
"Orang pemalu seperti itu bisa gak nyerah?"
"Menyebalkan bukan? Itu yang buat aku jengkel. Bisa-bisanya aku kalah dengan orang pemalu seperti dia. Sejak saat itu aku gak mau nyerah untuk dapat yang aku inginkan."
Lula tersenyum. Ia bukan sekedar ikut senang mendengar, tapi dia juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan Gadis. Walaupun Lula belum melihat Max, sepertinya dia sudah yakin Max adalah orang yang baik.
"Aku kayaknya kalo nginep di tempat kamu mimpi buruk semaleman deh." Lula mengganti topik.
"Kenapa?"
Lula menunjuk poster penjahat yang sedang dikeluarkan Gadis dari kardus. Sambil menunggu lantai kering, Gadis duduk memikirkan tempat mana yang cocok untuk ditaruh poster miliknya.
"Waktu kecil, aku kagum dengan pahlawan. Mereka baik." Gadis tersenyum.
"Tapi ketika beranjak besar, aku mengerti rasa sakit yang dialami para penjahat. Mereka itu sama baiknya, hanya saja dunia yang jahat kepada mereka." lanjutnya.
"Makanya sekarang banyak film-film yang ceritain latar belakang penjahat ya?" tanya Lula.
"Rasanya gak adil dunia membenci mereka-mereka yang disakiti oleh dunia itu sendiri." ucap Gadis sambil mengangkat poster favoritenya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks A Latte [END]
RomantizmNamanya Allula Gladis, biasa dipanggil Gadis. Seorang barista paruh waktu yang sebetulnya menghabiskan seluruh hidupnya untuk cafe tempat ia bekerja. Suatu hari, cafe nya mendapat pelanggan sekelompok anak muda. Itulah awal dari bertemunya Gadis den...
![Thanks A Latte [END]](https://img.wattpad.com/cover/278335101-64-k823151.jpg)