34. Menghilang dan Kehilangan

426 58 4
                                        

Aku tidak ingin mencuri hatimu, melainkan kakimu.
Agar tidak ada ruang untukmu melangkah tanpa berpamit.

Rapsberry Latte


"Apa yang maksudmu?" Max berdiri dan menghampiri ibu tirinya.

"Entah." tante Dziwo tersenyum licik. "Mungkin seperti, aku menebus seseorang dari penjara untuk bisa balas dendam dengan anaknya sendiri."

"Apa maksudmu?" Max berdiri dari beranjak dari tempat duduknya dan mendekati ibu tirinya tersebut.

"Jadi kamu gak tau asal-usul mantan kekasihmu sendiri? Menyedihkan."

Max tidak menjawab, matanya tajam menatap ibu tirinya. Ibu tirinya itu masih saja menyiram bunga.

"Gadis kesayanganmu itu semasa kecil, pernah melaporkan ayahnya karna kasus pembunuhan. Sesama orang tua, aku hanya ingin melepaskannya lalu dia bebas melakukan apapun. Ternyata dia memilih menghancurkan anaknya sendiri." lanjut tante Dziwo.

"You are batsh*t crazy!" teriak Max. (Kalimat kasar dari "Kamu sudah gila!")

Max langsung meninggalkan rumah dan pergi ke kos Gadis bersama Eden. Selama di perjalanan Max mencoba menelpon Dame. Sudah melewati setengah perjalanan telpon nya tidak di angkat.

"H-halo, ini Max."

"Ada apa, Max?"

"Apa kamu tau Gadis dimana sekarang?"

"Kalian sudah putus, tolong jangan ganggu dia."

"Aku mohon, aku butuh informasi darimu."

"Aku saja tidak tau keadaan dia sekarang! Sejak putus denganmu ia mematikan ponselnya! Tolong jangan ganggu dia!" sambungan langsung terputus.

Max membanting telponnya dan menutup matanya dengan tangannya. Perasaannya sangat bercampur aduk saat ini.

"Cafenya pasti belum dibangun kembali. Kita coba ke kos nya dulu."

"Tolong sedikit cepat, Den.." rintih Max.

• • •

Sesampainya di depan pintu kos Gadis. Max langsung mengetuk pintu rumah Gadis. Ia memanggil terus-menerus tapi ia tidak mendapat jawaban. Lima belas menit sudah dia melakukan hal itu berulang-ulang.

"Dis .. tolong kasih aku kesempatan untuk lihat kamu. Sekali ini, aku bisa pastikan ini terakhir kalinya kamu lihat muka aku." Max menyandarkan kepalanya ke pintu Gadis.

Tidak lama dari itu, pintu pun terbuka. Max langsung masuk ke kamar Gadis namun ia terkejut melihat Gadis dengan kondisi mulut tertutup dan terikat dengan penuh luka memar di sekujur tubuhnya.

"Gadis!"

Max menghampir Gadis namun Gadis mengisyaratkan untuk segera pergi. Tiba-tiba tancapan pisau menusuk punggung kiri Max.

"Ternyata gadis kesayangan Ayah sudah mengerti cinta. Lalu, kenapa kamu tidak mengenalkan dia pada orang tuamu?!" bentak Ayah Gadis.

Meskipun mulutnya tertutup rapat, namun teriakan bisa terdengar meskipun kecil. Ia menangis histeris melihat sweater putih Max mulai memerah.

"Setelah melihat ayah dan ibumu kamu masih berani untuk jatuh cinta kepada seseorang ya?!"

"Tidak, Tidak ada yang bisa merebut kamu dari tanganku.." ayah Gadis tersenyum lebar, "Siapa yang ingin merebut anakku, akan aku bunuh!" lanjutnya.

Eden langsung memukul kepala ayah Gadis sangat keras, meraih tangannya dengan cepat, membanting tubuhnya ke lantai kayu kamar Gadis dan melepaskan pisau dari tubuh Max. Ia langsung menancapkan pisau itu berhadapan dengan kepala ayah Gadis.

Thanks A Latte [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang