45. Situasi Panas

395 64 11
                                        

Gadis
Max, apa kabar?

Tidak lebih dari dua detik, Max dengan cepat langsung menelpon Gadis. Sedikit lama tersambung sampai akhirnya diangkat.

"Halo?"

"Kamu dimana sekarang?" Max terburu-buru.

Max menjaga jarak dengan teman-temannya. Sam, Nathan dan lain-lainnya tengah asik bermain dengan adik Max. Yang menyadari kepergian Max hanyalah Quin seorang.

"Aku ingin bertemu kamu dan om Marx."

"Iya aku jug.." pembicaraan Max berhenti sebentar "Papa? Untuk apa?"

"Haha .." Gadis tertawa kecil, "Kangen."

"Kamu gak kangen aku?"

"Lebih kangen kalo kamu mah."

"Yaudah aku jemput kamu sekarang dulu, baru kita ketemu papa."

"Gak mau. Aku maunya kamu kesini bareng om Marx!" pinta Gadis seperti anak kecil.

"Astaga Gadis .. kita baru kontak-kontakan lagi loh." lembut Max.

"Yaudah aku matiin telfonnya."

Max menghela nafas, "Yaudah iya. Aku ajak papa. Sekarang kamu dimana."

Setelah mengucapkan itu, telepon langsung terputus.

'Pulsanya abis? Masa sih?' tanya Max dalam hati.

Max mengecheck pulsan teleponnya, tapi masih tersisah banyak. Ia menelpon Gadis lagi tapi ditolak beberapa kali. Baru ia ingin menelpon lagi, sebuah notifikasi pesan masuk lagi ke layar telponnya.

'Mau bareng papa atau enggak, ujung-ujungnya tetep aja dimatiin telponnya ama dia.' gumamnya dalam hati.

Max menggelengkan kepalanya. Sudah 5 tahun berlalu, tetap saja dia masih kewalahan dan tidak bisa menang dari tingkah Gadis. Ketika ia membuka pesan, raut muka Max tampak kebingungan. Max langsung menemui ayahnya yang sedang bercakap dengan tamu lainnya.

"Pa, maaf menganggu. Bisa bicara sebentar?" Max memotong dengan sopan dan elegan.

"Bentar ya, biasa, lagi mau baikin papanya" om Marx mengedipkan sebelah mata dan meninggalkan tamu.

"Ada apa? Kamu pasti lagi kesenengan .."

"Gadis ada disini. Dia mau bicara dengan kita."

Om Marx terkejut, dia melihat kesekitar pesta. "Dimana dia?" om Marx bingung.

"In my room."

- - -

Sementara di waktu yang sama namun disisi lainnya ..  Disebuah kamar besar dan hening, suara jam dinding dan debaran jantung saling bertabrakan.

Seorang wanita yang duduk dikursi mewah sambil menggigit beberapa kuku manisnya. Ia sedang menunggu kehadiran seseorang. Seorang yang setia disampingnya selama ini. Dengan pistol yang ia sembunyikan ditangan satunya, ia siap untuk membunuh satu-satunya teman yang ia percaya dengan tangannya  sendiri.

20 menit kemudian ..

*Duk! Duk! Duk!*

Suara pintu memecahkan keheningan. Tidak lama pintu terbuka perlahan, benturan lantai dan langkah kaki terdengar. Nyonya Dziwo sudah siap mengangkat pistolnya dan ..

"Maaf menunggu lama, nyonya."

Niat membunuhnya terurungkan seketika.

"Kemana Lula?"

Thanks A Latte [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang