Bab 41

680 87 4
                                        

Menjelang empat hari sebelum pesta pernikahan dan penobatanku, aku kembali mendapatkan hadiah berisi bangkai burung serta sebuah surat kecil yang berisi ujaran kebencian dari sosok pengirim hadiah mengerikan tersebut.

'Aku akan membunuhmu!'

Aku meremas kertas surat tersebut dan membuangnya kembali kedalam kotak berisi bangkai burung. Aku lantas memerintahkan seorang kasim untuk membuang dan membakarnya.

Hari ini aku memberanikan diriku melawan rasa takutku, tapi sepeninggalan kasim yang membawa pergi kotak berisi teror itu, seketika aku kembali jatuh dan terduduk lemas. Beruntungnya aku langsung mendudukan diriku pada sebuah kursi panjang yang ada di kamarku, sehingga hari ini aku tak perlu merasakan dinginnya permukaan lantai marmer kamarku.

"Yang mulia anda telah berjuang dengan keras" puji seorang dayang muda yang kini tengah menyeduhkan sebuah teh penenang untukku.

"Semua ini berkat bantuan kalian" kataku yang berhasil membuat dayang itu tampak merona malu.

Dayang muda itu lantas memberiku secangkir teh, aku pun menerimanya tanpa lupa mengucapkan terima kasih. Setelah menyerahkan secangkir teh padaku, dayang tersebut lantas undur diri dan kembali berbaris bersama para dayang muda lainnya di pinggir ruangan.

"Kurasa tiga hari mendatang pun aku akan kembali mendapat teror dari orang yang sama. Jika orang tersebut sungguh berniat ingin membunuhku, tampaknya aku harus segera melakukan sesuatu" kataku sembari mulai memikirkan langkah pencegahan apa yang akan aku ambil.

Dalam surat peringatannya ia berkata akan membunuhku. Kata membunuh jelas terdengar sangat mengerikan, namun hal yang kupikirkan saat ini ialah bagaimana cara ia membunuhku. Apakah ia akan menikam, menembak panah dari jauh, atau menggunakan sihir. Terlalu banyak hal yang kupikirkan hingga kepalaku mulai terasa sakit memikirkan cara untuk mengatasi masalah yang akan kuhadapi.

Di saat aku tengah bingung memikirkan cara dan langkah pencegahan apa yang akan kuambil agar nyawaku tak terancam, ekor mataku tak sengaja menangkap sosok Guang Li yang baru saja memasuki halaman istana barat. Pengawal pribadiku itu tampak baru saja pulang berlatih di barak prajurit kerajaan Feng, saat ini ia mengenakan pakaian lengkap berlatih.

"Pakaian lengkap?"Seketika mataku membulat saat menemukan jawaban dari keresahanku.

"Ah, tampaknya aku mendapat ide cemerlang!" Seruku yang tentu saja mengagetkan para kasim dan dayang yang saat ini menemaniku.

Aku lantas berdehem dan kembali bersikap normal. Aku lupa saat ini tengah berada di tempat di mana aku harus menunjukan etika kebangsawanan, sopan santu serta selalu bersikap tenang dan elegan secara bersamaan.

'Hah, menjadi bangsawan sungguh melelahkan' desahku dalam hati.

.
.
.

Setelah melakukan latihan ritual penghormatan pasca pernikahan, aku lantas meminta seorang kasim muda untuk memanggil Guang Li. Saat aku baru saja tiba di kamarku, ruangan tersebut tampak kosong. Padahal biasanya Guang Li akan menunggu di kamarku hingga aku menyelesaikan latihan rutinku selama satu bulan ini.

"Yang mulia apakah anda memanggil hamba?" Tanya Guang Li yang baru saja tiba.

Saat ini aku tengah duduk di salah satu kursi yang ada di tengah kamarku, sembari menunggu Guang Li datang, aku menghistirahatkan tubuhku yang terasa lelah. Penampilanku saat ini jelas berantakan ditambah keringat yang terus membasahi tubuhku membuatku jelas merasa tidak nyaman, beruntung saat ini di dalam kamarku hanya ada aku, Guang Li dan beberapa kasim serta dayang, sehingga aku tidak merasa malu menunjukan sisi berantakanku saat ini.

"Guang Li aku memanggilmu untuk memintamu mencarikanku seorang pengrajin handal" kataku tanpa basa basih.

"Yang mulia mengapa anda ingin mencari seorang pengrajin?" Tanya Guang Li tampak bingung dengan permintaannya.

"Aku ingin dibuatkan sebuah rompi khusus. Aku takut teror dan surat ancaman yang selama ini kuterima akan menjadi kenyataan. Untuk itu aku butuh pengrajin untuk membuatkanku rompi khusus yang akan menyelamatkanku dari tikaman ataupun anak panah" jawabku yang membuat Guang Li sedikit tercengan.

"Aku sama sekali tidak mengaanggap teror dan ancaman yang kuterima dua hari berturut-turut hanya sebagai candaan, sejak awal aku sudah merasakan firasat buruk menjelang pesta pernikahan dan penobatanku. Maka dari itu untuk mengantisipasi rencana pembuhan musuhku, aku ingin membuat sebuah rompi khusus. Aku tahu kaisar Feng Rui jelas mampu mengatasinya, baik kau dan prajurit lainnya tentu saja tidak akan tinggal diam, tapi aku hanya ingin berjaga-jaga kalau-kalau ada hal yang tak terduga menimpaku di hari pernikahan dan penobatan" tambahku.

"Hamba akan mencarikan anda seorang pengrajin, tapi rompi seperti apa yang hendak anda ingin pinta buat?" Tanya Guang Li.

"Aku ingin sebuah rompi di mana lapisan luarnya terbuat dari kulit hewan, aku ingin pengrajin itu membuat kulit tersebut menyerupai rompi yang di kenakan seorang prajurit sebelum mengenakan zirah. Sebelumnya lapisan luar yakni kulit hewan tersebut harus dibuat menjadi dua lapis, sehingga bagian tengahnya bisa diisi kapas atau bantal yang telah di rendam darah hewan, lalu lapisan bagian dalamnya adalah besi dengan begitu baik tikaman ataupun anak panah tidak akan melukaiku" jelasku.

"Yang mulia anda mengatakan isian lapisan dua kulit hewan akan di isi jerami yang telah di rendam darah, apa maksudnya?" Tanya Guang Li.

"Tentu saja itu hanyalah tipu muslihat. Aku sengaja meminta untuk mengisi lapisan kulit dengan kapas atau bantal yang di rendam darah agar pelaku percaya bahwa ia berhasil melukaiku. Coba bayangkan pelaku menikamku atau menembakan anak panah di bagian vital seperti jantung, apa yang akan terjadi jika saat itu aku mengenakan rompi khususu yang ku minta?" Tanyaku yang lantas membuat Guang Li berpikir

"Darah hewan yang di serap kapas atau bantal akan merembes keluar. Itu berarti anda akan pura-pura terluka?" Tanya Guang Li.

"Benar sekali" kataku. "Jadi bisakah kau mencarikan pengrajin untukku sekarang? Aku ingin rompi itu selesai sehari sebelum pesta pernikahan dan penobatanku".

"Baik yang mulia, hamba akan mencarikan pengrajin handal dan dapat anda percaya" kata Guang Li pamit undur diri.

Sepeninggalan Guang Li, aku pun lantas beranjak dari dudukku. Saat ini aku merasa tubuhku terasa lengket dan aku ingin segera membersihkan diri. Aku lantas meminta para kasim dan dayang menyiapkan air untukku berendam. Sembari menunggu bak mandi terisi penuh, aku merebahkan tubuhku di atas peraduan sembari menatap langit-langit kamarku.

"Aku telah menemukan cara untuk mencegah pelaku dalam rencananya untuk membunuhku? Sekarang hal apa lagi yang akan aku lakukan?" Tanyaku pada diri sendiri.

"Mengatasi masalah yang akan kuhadapi tampaknya aku sudah mulai ada kemajuan, tapi hal itu tak lantas membuatku telah menjadi gadis yang kuat. Tampaknya aku akan meminta Guang Li atau pangeran Feng Lang untuk mengajariku sedikit tentang berpedang" putusku.

.
.
.
.
.

TBC

Rabu, 1 September 2021

[Author note :

Aku nggak PHP loh masalah update 🙈. Alhamdulillah meski belum balik seperti aku yang dulu (sehari bisa buat 3 bab) aku tetap bersyukur setidaknya masih mampu buat 2 bab sehari. Semoga kedepannya makin meningkat sehingga aku bisa balik nulis kek dulu 🙏🏻

Teruntuk orang-orang baik makasih atas dukungan kalian selama ini, tetap bersamaku yah, meski aku kadang ngeselin 🙈

Feng Na Na [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang