«Meat and Bone»

1.4K 326 51
                                        

××Author POV××

Asap mengepul yang menimbulkan aroma sedap daging panggang.

Asap yang mengepul dari mangkuk sup yang panas.

Dan suara renyah tulang yang dikunyah.

"[Y/n], tidak perlu sampai tulang iganya kau makan"

"Eh? Aku kebiasaan"

Giginya sekuat apa sampai begitu?, Na Hwajin sweatdrop melihat rekannya.

Sekuat baja pak :v

Tidak banyak pasang mata yang menatapmu memakan daging setulangnya.

"Pantas kau kuat berenang pulau Jeju kemari bolak-balik", gumamnya. "Jadi benar yang dikatakan sersan Lim soal dia makan ayam sampai ke tulangnya"

"Sayang tidak makan?"

"I-iya!", pria itu baru sadar panggilannya. "He-hei, kau sengaja memanghilku begitu?"

"Aku bingung memanggilmu apa"

Na Hwajin shock :v

Jadi setelah sekian lama...bingung memanggilku dengan apa!?, rasanya percuma mengerjaimu.

"Hwajin, panggil saja begitu, tidak perlu lengkap"

"Aku mengerti"

"Nih tambah lagi, sengaja kupisahkan tulangnya"

"Tapi enak"

"Pokoknya, tidak ada makan tulang! Pencernaanmu itu bagaimana sih?"

Teman makannya menurut dan memakan daging saja setelah menghabiskan sup.

Pipi keduanya menggembung karena makanan yang dilahap.

Mirip Shinchan :v//plak

"Kaki palsuku yang lama benar-benar rusak?"

"Iya, sempat aku perbaiki tapi percuma"

"Telpon saja aku jika kau butuh sesuatu"

"Tapi kan sebelum ini kita marahan"

"Kau ini kelewat jujur atau polos sih?"

Kau tidak menghiraukan dan lanjut makan.

Kaki kananmu yangbhanya tinggal paha atas menjadi sororan banyak mata ketika tidak sengaja melihatmu.

"Cantik ya"

"Tapi sayang cacat"

"Kasihan"

Bisik-bisik tetangga :v

Bisik-bisik itu terdnegar oleh kalian berdua.

Kau terlihat tidak peduli karena memang begitu adanya dirimu.

Tidak dengan teman makanmu yang sedang menebar tatapan maut ke mana-mana.

"Matamu sakit?", tanyamu.

"Oh, iya sakit, sakit karena melihat orang munafik"

Yang curi-curi pandang merasa tertohok hatinya.

"Aku bawa obat tetes mata"

"Itu tidak akan mempan", kata Na Hwajin.

"Oh, mau cuci muka?"

"Nggak kok, sakitnya akan hilang kalau aku lihat senyummu"

Manikmu menatapnya lurus.

Bulu mata lentikmu megerjap cantik bagai angsa.

DollTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang