Happy reading 📖
Nathaniel meregangkan otot-ototnya yang hampir remuk akibat ikut lembur. Ia menatap jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Pemilik perusahaan ini menghukumnya akibat kesalahan dalam membuat proposal penting dengan lembur sampai tengah malam, membuat kembali karena dipakai besok.
Ponselnya tidak diperbolehkan ia sentuh dan harus menonaktifkannya agar tidak mengganggu. Ia menyimpan data proposal yang dari tadi ia buat kembali sebelum mematikan layar komputer itu.
"kenapa perasaan gue nggak enak dari tadi yah?"gumam Nathaniel.
Ia langsung bergegas pulang ke villa bukan ke rumah, mengingat jarak rumah lumayan memakam waktu dibandingkan di villa yang dekat.
Setelah sampai di villa, tanpa banyak wakyu ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur tanpa mengganti pakaiannya. Tubuhnya seharian ini sangat lelah, dari pesta langsung ke kantor hingga baru pulang sekarang. Tak butuh waktu lama, ia sudah menjelajahi alam mimpinya.
Semalam sudah berlalu digantikan dengan pagi yang agak mendung membuat Nathaniel membuka matanya dengan malas. Ia berjalan sambil menutup mata menuju kamar mandi. Pagi ini ia ada kelas.
Setelah beberapa menit bersiap ia mengambil kunci motornya menuju garasi. Ia menghidupkan ponselnya yang masih dalam posisi nonaktif dari semalam.
Ia membulatkan mata melihat jam yang sudah berangka sembilan. Sial, ia telat. Lima belas menit lagi ia masuk. Ia langsung menaiki motornya namun ia segera berhenti saat melihat bunyi notifikasi menyerbu ponselnya. Ia menatap heran saat itu adalah panggilan tak terjawab dari orang tuanya dan teman-temannya.
"gue nggak ada waktu sekarang"ucap Nathaniel mengabaikan langsung melajukan motornya membelah jalanan pagi yang ramai.
Sesampainya di kampus, Nathaniel langsung memakirkan motornya lalu berjalan cepat. Keningnya berkerut saat semua penghuni kampus yang ia temui memakai pakaian serba hitam. Biasanya itu tanda bahwa seseorang mahasiswa atau dosen ada yang meninggal. Ia mengalihkan pandangan pada bendera merah yang berkibar di depan pagar.
"Nathaniel"
Nathaniel berbalik menghadap ke belakang menemukan Pevita dan Belle yang menatapnya iba.
"kenapa? Siapa yang berduka?"tanya tenang Nathaniel membuat kedua gadis di depannya hampir saja jantungan.
"lo! Lo nggak tau apa bagaimana! Jangan becanda"ucap tak percaya Pevita.
Nathaniel menatap mereka bingung.
"lo pada ngomong apa, kalau ngomong yang jelas. Itu lagi, kenapa lo natap gue begitu"kesal Nathaniel saat Belle menatapnya lasihan.
"NATHANIEL SIALAN, lo kemana aja!"teriak Daniell menarik kerah kemeja putih Nathaniel.
"lo apa-apaan sih bego"ucap Nathaniel menarik paksa tangan Daniell dengan kasar.
"lo benar-benar nggak tau?"tanya Belle.
"tau apaan!"balas Nathaniel.
"Elyn sudah meninggal!"ucap Daniell mampu membuat Nathaniel terdiam namun detik berikutnya cowok itu tertawa membuat mereka terheran. Tawa Nathaniel langsung terhenti digantikan wajah datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nathaelyn [END]
Teen FictionEntah merasa sial atau sebaliknya, Elyn harus berhadapan terus-menerus dengan Nathaniel, senior di kampusnya yang begitu menyebalkan di matanya, setelah adanya pertemuan pertama yang begitu disesali gadis itu.
![Nathaelyn [END]](https://img.wattpad.com/cover/280712357-64-k687114.jpg)