Happy reading📖
Hembusan angin pelan menyelimuti keheningan dua orang wanita berbeda umur. Wanita paruh baya menyesap kopi dengan pelan lalu menatap tenang ke arah gadis muda yang duduk tenang memperhatikannya.
"jadi kapan kamu mendapatkan harta mereka?"tanya wanita itu sambil meletakkan kopinya di atas meja bundar kaca kecil.
"ibu pikir semudah itu!"ucap ketus gadis muda.
"kamu sudah banyak mengulur waktu, ibu sudah tidak tahan berdiam di sini bagai buronan, ibu sudah bersembunyi cukup lama tanpa menghirup udara segar!"balas meninggi wanita itu.
"ibu pikir melakukannya seperti mudahnya berkata? Aku sudah berusaha dan ibu tunggulah sebentar lagi, tak semudah itu menjinakkan hewan buas. Tidak lama lagi semua akan selasai. Huft, aku juga lelah ibu, kenapa ibu tak pernah memikirkan aku! Aku sebenarnya sedikit kasihan"ucap gadis muda itu melirih.
Tak
Gadis itu terlonjar kaget saat wanita paruh baya yang ia sebut ibu itu melempar gelas kopinya di samping dinding tempat ia duduk. Mata ibunya berapi murka.
"anak sialan! Mati saja kau! Kamu pikir harta itu cuman untuk ibu?! Itu juga untuk kebaikan mu sialan! Kamu bilang apa tadi?! Kasihan!? kasihan sama siapa?!"murka sang ibu.
"ibu tenanglah, aku kasihan pada ibu yang selalu menunggu anak kebanggaannya ini belum membuat ia puas. Tinggal duduk manis saja bu, karena aku akan segera memulai permainan sesungguhnya"balas gadis itu dengan senyum licik terpampang jelas.
***
Malan semakin larut membuat jalan sepi. Elyn beberapa kali mengumpat tak jelas saat menatap layar ponselnya yang mati akibat kehabisan daya. Benar-benar sial.
Gadis itu berdiri di atas jembatan khusus pejalan kaki. Elyn memegang pagar pembatas lalu melihat ke bawah di mana beberapa kendaraan yang masih berlalu-lalang.
Sepulang dari kampus pukul setengah tujuh tadi, Nathaniel berjanji akan menjemputnya. Namun sudah jam sembilan malam namun cowok itu tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Ia berpikir jika Nathaniel belum pulang dari magangnya atau ia lembur. Nathaniel memang sudah memulai magangnya minggu lalu di salah satu perusahaan swasta. Jadi ia memilih pulang saja, tapi tak menemukan bus.
"hay cantik, sendiri aja"
Elyn menatap bingung pada tiga pria berwajah galak dan bertubuh besar menghampirinya lalu menatap centil ke arahnya.
Elyn duduk di salah satu kursi yang memang tersedia.
Elyn menatap mereka bertiga bergantian.
"nggak kok, Elyn nggak sendiri, uncle uncle ini kan lagi sama Elyn"balas Elyn.
"jadi mau dong bersenang-senang sama om"ucap genit salah satu dari mereka yang paling tinggi.
"heihh, Elyn lagi nggak bisa senang-senang uncle, Elyn kan lagi kesusahan, gimana sih"ketus Elyn.
Ketiga preman itu melongo lalu menatap satu sama lain.
"yaudah ikut om, pasti kamu suka deh nantinya. Kami akan muasin kamu, gimana?"tawar menggoda preman berperut buncit.
Elyn menatap mereka tak mengerti, mari kita selami jika kadang-kadang sifat begonya kumat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nathaelyn [END]
Teen FictionEntah merasa sial atau sebaliknya, Elyn harus berhadapan terus-menerus dengan Nathaniel, senior di kampusnya yang begitu menyebalkan di matanya, setelah adanya pertemuan pertama yang begitu disesali gadis itu.
![Nathaelyn [END]](https://img.wattpad.com/cover/280712357-64-k687114.jpg)