18. [PERASAAN NATHANIEL]

3.6K 312 0
                                        

Happy reading 📖

"lo kalau ngomong jangan setengah-setengah, gue buang juga yah lo"ucap Rakan.

Namun karena cowok yang diajak bicara terlalu santai dan tak pedulian, ia malah dengan santainya menarik selimut memejamkan mata tanpa menghiraukan celotehan keduanya.

Daniell situkang fackboy mencari akal supaya cowok menyebalkan di depannya mau berbicara saking keponya. Ia memikirkan kira-kira siapa cewek yang membuat cowok itu uring-uringan. Hingga matanya yang tadi berkeliaran kini berbinar seakan punya suatu akal yang dapat membangunkan cowok itu.

"Rak, kalau dipikir-pikir Elyn junior kampus itu lumayan juga yahh"ucap Daniell pada Rakan, cowok yang disebut menatap Daniell heran, kenapa saat keadan ini cewek lain dibawa-bawa. Namun, setelah Daniell mengedipkan matanya sebelah seolah memberi suatu informasi lewat mata yang langsung dapat ia saring, dirinya dan Daniell tidak mungkin tidak tau kelakuan aneh Nathaniel beberapa hari ini. Walaupun Nathaniel tidak terang-terangan akan kelakuan mengganjalnya, namun mereka cukup peka melalui pergerakkan mata Nathaniel yang tidak dapat berbohong.

Yang mereka tau, akhir-akhir ini Nathaniel sering melamun sendiri sesekali mengacak rambutnya, mata cowok itu selalu menatap Elyn dari kejauhan dengan ekspresi kagum bahkan lebih. Tapi jika saat berpapasan atau tak sengaja bertemu, cowok itu akan cuek dengan wajah datarnya, dan yang terakhir adalah kejadian tadi siang di mana mereka melihat langsung bagaimana mata elang cowok itu menajam dengan kepalan tangan mengeras dengan pandangan mata mengarah pada dua orang yang saling asik mengobrol di tribun lapangan basket. Itu sudah menjadi bukti kuat bagi mereka.

Rakan menatap Nathaniel yang masih memejamkan mata membuat ia dan Daniell saling pandang sambil tersenyum licik.

"iya juga yah, tuh cewek cantik benar, bodynya goals"nibrung Rakan.

"lo tau nggak Rak, gue rasa gue jatuh cinta sama Elyn, bagaimana menurut lo? Klo gue tembak dia besok pasti dia mau secarakan dia itu belum punya pacar"ucap Daniell memanas-manasi.

"gue dukung deh lo, gue yakin dia pasti suka juga sama lo, pasti lo diterima, nggak sabar liat kalian uwuan"ucap Rakan.

Dan benar saja, Nathaniel bangun dengan wajah mengeras menatap mereka berdua.

"loh Nat, nggak lanjut tidur. Jadi gimana menurut lo kalau gue dengan Elyn, cocok nggak"ucap Daniell dengan wajah polos tak berdosa.

Nathaniel berdiri melangkah menuju pada Nathaniel dengan wajah yang masih mengeras.

Nathaniel mengangkat kerah baju Daniell.

"lo jangan berani deketin Elyn ataupun semacamnya kalau lo masih mau bernapas, gue nggak pernah main-main dengan itu"ucap Nathaniel menatap tajam Daniell membuat cowok itu bergidik ngeri. Namun sedeti kemudian Rakan dan Daniell tertawa lepas membuat Nathaniel bingung.

Daniell melepaskan kerah bajunya yang berada di tangan Nathaniel.
"wahh rencana kita berhasil Rak"ucap Daniell bertos ria ala cowok pada Rakan.

"maksud lo apa"ucap Nathaniel.

"kita cuman becanda soal Elyn, kita cuman ingin membangunkan lo karena kita masih kepo, eh malah langsung dapat jawabannya, yekan Daniell"ucap Rakan.

"yoi, jadi lo kapan nembak Elyn"ucap Daniell to the point.

Nathaniel tergelak sendiri, bagaiman cecurut itu tau.

"gue nggak tau"lirih Nathaniel.

***

"abang ganteng"ucap Elyn dengan suara lembut selembut-lembutnya.

Elyn yang sudah rapi dengan baju putih laboratorium mendatangi Alaska yang sedang duduk di ruang tengah.

"tumben bilang gue ganteng, pasti ada apa-apanya nih"selidik Alaska pada Elyn yang sedang menyengir memperlihatkan susunan gigi putihnya.

"hehehe tau aja, adek mau abang anterin adek ke kampus dong, pasti papah lagi buru-buru, ia kan pah?"tanya Elyn pada Carlos yang keluar bersama Selenia yang bersiap pergi ke rumah sakit.

"ia, abang anterin adek sekalian juga bareng Willna"ucap Carlos membuat senyum Elyn memudar digantikan wajah datarnya.

Willna yang sejak tadi diam di anak tangga menunduk takut saat Alaska menatapnya, ia masih mengingat saat dengan tidak berperasaan Alaska mencekik lehernya.

Elyn menarik tangan Alaska tanpa banyak bicara menuju depan rumah di ikuti Willna.

Elyn menatap Alaska yang sedang memasang sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin mobil. Ia menatap dari kaca depan Willna yang mulai masuk dan duduk sambil menunduk.

Elyn turun melambaikan tangannya pada mobil Alaska yang mulai menjauh dari kampusnya. Dengan langkah ringan, ia mulai melangkah menuju kelasnya sekarang ini.

Ia meletakkan tasnya dibangku depan lalu mulai membukan ponselnya.

"hoyy cantik"

Elyn mengalihkan pandangannya dari ponselnya ke arah suara itu. Seorang cewek dengan potongan rambut seleher dengan tubuh agak pendek. Cewek bernama Monica, salah satu teman sekelasnya itu meletakkan sesuatu di meja Elyn yang ternyata adalah party card.

"hari ini gue birthday, jadi malam ini gue mau adain pesta dan lo harus ikut, gue nggak nerima penolakan. Lo boleh ajak teman-teman lo yang lain, okey! Awas aja kalau nggak ikut, gue mutilasi lo"ucap monica ngegas meninggalkan Elyn yang melongo melihat sikap luar biasa gadis itu.

Elyn meraih kartu berdominasi warna pink lalu membukanya.

"what the hell, bar?"monolog Elyn saat membaca tempat pelaksanaan pesta milik Monica yang ternyata di bar.

Cewek itu takut pergi ke sana apalagi ia tak pernah melangkahkan kakinya ke tempat keramat itu. Ia yakin Alaska maupun papah mamahnya tidak akan membiarkannya pergi ke sana tapi ia nggak enak kalau menolak pergi. Lalu bagaimana sekarang?.

"Thania sama Grace"gumam Elyn mengirin chat pada kedua temannya untuk menemaninya.

***

Malamnya Elyn berjalan menuruni tangga dengan pakaian sweater biru dan jeans putih miliknya.

"adek mau kemana?"tanya Selenia.

Elyn gugup, untuk kali pertama ia berbohong. Tidak ada cara lain selain opsi yang ini.

"Elyn mau ke rumah teman mah, katanya dia sendirian di rumah, boleh yahh?"ucap Elyn.

"perempuan atau lelaki?"tanya Alaska.

"yah perempuan dong dia udah sampai di depan"ucap Elyn.

"yaudah boleh, hati-hati di jalan. Jangan ngebut"pesan Carlos membuat Elyn tersenyum lebar walau dalam hati merasa bersalah.

"Elyn pamit pah, mah, bang"ucap Elyn menyalim mereka bertiga lalu berjalan diikuti Alaska yang mau memastikan perkataan Elyn.

Grace dan Thania melambaikan tangan di gerbang membuat Alaska bernapas lega, ia tak mau adiknya yang sangat ia sayangi dan ia jaga kenapa-napa.

Alaska tetap mengikuti Elyn hingga sampai ke hadapan Thania dan Grace.

"jagain Elyn, jangan sampai dia kenapa-napa, gue tunggu di rumah paling lambat jam setengah sebelas di ruang tamu"ucap Alaska mulai mengeluarkan sifat overprotektifnya.

Elyn mengangguk patuh seentara kedua sohibnya tersenyum kaku.

"iya, kita bakal jagain Elyn"ucap Thania.

Mereka bertiga memasuki mobil meninggalkan Alaska di gerbang.

Elyn membuka kaca mobil lalu melambaikan tangan pada Alaska.
"ingat, gue nunggu lo di ruang tamu paling lambat setengah sebelas"pesan kembali Alaska mengingatkan Elyn dibalas kedua jempol oleh Elyn, mobil milik mereka mulai melaju.

"El, lo kok nggak bilang punya abang, ganteng lagi. Jadi nggak enak kita bohongin"ucap Thania yang sedang fokus mengemudi.

"ia, mau bagaimana lagi yekan, si El kan nggak bebas kayak lo"ucap Grace.

Nathaelyn [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang