Theresa merindukan celotehan Bella yang selalu mengisi siang hari nya, tapi semenjak kejadian keracunan Rea, dan di pesta malam itu kini Theresa merasa sendirian, atau lebih tepatnya tidak bisa mengawasi targetnya dengan leluasa.
Lorong academy yang terlampau sepi dengan pilar, dinding, dan lantai yang warna bisa Theresa pastikan berwaran pastel, sekarang berwarna keabu-abuan. Terlihat kotor karena pengaruh suhu, sinar matahari, dan tentunya faktor umurnya.
Dari arah lain Theresa bisa melihat seorang gadis yang memiliki surai pirang dia gerai. Buku yang dia peluk menambah kesan jika dia seorang pelajar yang teladan, dan jangan pernah lupakan netra diamond khas milik keluarga Count Calesthene. Yang kekuasaannya berada di bagian utara kekaisaran.
"Selamat siang Nona Calesthene." Sapa Theresa yang berhenti hanya untuk sekedar menyapa Rea, tapi gadis itu hanya memberinya tatapan dingin dan berjalan melewatinya begitu saja. Begitu dingin berbanding terbalik dari yang Theresa tau. Gadis gugup, dan pemalu yang masih berusaha mengeluarkan suaranya hanya untuk menceritakan kisah klasik yang biasanya manusia lakukan.
"Kebohongan itu terasa manis bukan?" Ujar Theresa yang berhasil membuat Rea berhenti melangkah dan berbalik melihat Theresa yang berbalik juga untuk menatapnya.
"Kebohongan? Kebohongan apa maksud mu Theresa? Aku tidak mengerti."
Theresa tersenyum tipis. "Apa Nona Calesthene yang terkenal pintar, dan selalu aktif ini tidak tau apa yang saya maksud?" Tanyanya dengan nada sedikit mengejek.
Rea balas tersenyum ke arah Theresa. Gadis dari golongan rakyat biasa, tapi parasnya bisa menyaingi para bangsawan.
"Maaf Theresa, ayah ku menyuruh ku untuk menjauhi mu. Dengan berat hati tentunya aku menentangnya, tapi sebagai seorang putri yang baik. Aku tidak bisa menolaknya."
Melihat respon Theresa yang hanya diam menatapnya. Dalam hati Rea tidak suka melihat gadis yang sialnya dia akui cantik itu tersenyum terus. "Jika tidak ada yang ingin Anda katakan lagi. Saya harus pergi mengembalikan buku-buku ini, permisi."
Saat Rea hendak berbalik suara Theresa membuat tubuhnya membeku hanya karena perkataan gadis cantik itu.
"Sungguh permainan yang menarik Nona. Apa ada permainan lain yang bisa saya tonton nanti?"
Rea mengulum bibirnya dalam-dalam. Dia menahan ekspresinya sebisa mungkin. Rea melihat sepanjang lorong ini sepi karena sebagian besar murid di academy sudah kembali pulang untuk menikmati libur semester mereka.
Rea berbalik dengan ekspresi yang dia kendalikan. "Katakan padaku Theresa. Permainan mana yang kau sukai? Petak umpet? Lompat tali? Mana yang kau suka?"
Mereka berdua masih mempertahankan senyuman mereka tertutama untuk Rea harus mempertahankannya.
'Dia pintar ternyata.'
Rea menatap Theresa lebih teliti tidak seperti biasanya dia hanya fokus bagaimana gadis itu berusaha menjadi teman yang baik untuk Bella.
"Aku suka bagaimana Anda bermain warna Nona. Itu sangat menarik."
Alis Rea terangkat. Dia tidak menyangka jika Theresa tau sampai sejauh itu. Padahal dia sudah berusaha hati-hati selama ini.
"Apa Anda menyukai saat saya melukis di tubuh saya sendiri?" Tanya Rea berusaha menyakinkan jika Theresa tau kejadian dia saat keracunan minum teh itu dia sengaja menaruh racun di teh nya sendiri.
Rea yakin rencana nya berjalan sangat baik. Bahkan para profesor dan tim penyelidik percaya jika Bella lah yang meracuninya. Bahkan dia repot-repot mengambil bahan-bahan racun di kelas ramuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku... Tuan Putri?
Fantasy"A-aku... Siapa? Arabella?" Hans, karakter second lead di 'Darah Kaisar' yang aku sukai tidak punya happy ending yang aku inginkan. "Gimana kalau kamu aja yang buat Hans bahagia?" Pertanyaan itu langsung aku iyakan dan siapa sangka aku menjadi putr...
