Hai semua, maaf jarang up dikarenakan author sibuk ngerjain tugas yah... Tiba-tiba muncul tugasnya kek tsunami hehe
Cuss langsung baca^^
Yang belum baca chapter sebelumnya, kebiasaan nih langsung main baca epilog aja...
Dah baca belum scene gimana Bella berpisah sama keluarganya?
~~~
Lima tahun kemudian...
Seorang gadis yang masih mempertahankan rambut pendeknya itu berdiri di sebrang jalan sembari menunggu lampu berubah warna. Memainkan ponselnya dengan earphone yang terpasang disalah satu telinganya.
Ding!
Satu pesan baru saja masuk dan itu salah pemberian naskah yang baru saja dia kirim tertolak hari ini.
Wanita itu menghela napas berat. Lampu sudah berubah warna dan itu artinya pejalan kaki boleh menyebarang.
Kepadatan penduduk yang sangat besar disini dengan gedung-gedung pencakar langit yang bisa dia lihat disepanjang jalan sudah menjadi pemandangan setiap hari. Dihari nya sebagai anak rantau dia harus bekerja keras di kota besar.
Wanita yang masih memiliki ciri khas dua tahi lalat di salah satu dibawah matanya itu berhenti sejenak karena merasa harinya semakin buruk.
Dia lelah bekerja di cafe hari ini. Pelanggan malam ini membeludak dan juga dia juga harus berlari kesana kemari agar pesanan cepat diantar. Padahal itu bukan tugasnya.
"Huft, capek." Keluhnya memijat bahunya sebentar dan melanjutkan jalannya. Dia harus menaiki kereta malam ini untuk pulang.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya dia sudah sampai di dalam kereta dan sialnya tidak ada bangku yang tersisa. Alhasil dia harus berdiri.
Laras berpegangan sebelum kereta melaju. Virus covid-19 memang sudah berkurang tapi dalam artinya setelah lima tahun berlalu virus itu masih ada dan masih kemungkinan besar tertular. Di seluruh dunia saat ini masih berwaspada dan masih berusaha menyembuhkan semua pasien yang tersisa dan melacak yang masih terkena virus.
Berita yang dia lihat tidak ada yang bagus malam ini. Hanya perkembangan zaman yang lebih cepat dari lima tahun yang lalu dan pekerjaan yang semakin terasa sulit.
Laras merasa pusing malam ini. Dia ingin lekas kembali ke kosannya dan beristirahat. Ada tugas menumpuk sedang menunggunya saat ini.
Tapi, setelah dia berkedip beberapa kali gerbong kereta cepat ini tiba-tiba kosong. Semua orang menghilang. Laras menatap pantulan dirinya di kaca dan melihat dari pantulan itu di belakangnya ada seseorang yang berdiri membelakangi dengan pakaian hitamnya.
Laras terbeku diam. Kakinya gemetar tak berdaya dan bayangan hal buruk yang akan menimpanya terus berputar dikepalanya.
Laras menelan salivanya kepayan dan memilih menunjuk saja dan merapatkan matanya rapat-rapat dan berdoa jika semua ini hanya ilusi dan tidak nyata.
Setelah membuka matanya dia melihat semua orang sudah kembali ditempatnya. Kereta ini kembali penuh dan dibelakangnya juga tidak ada sosok berpakaian serba hitam itu.
"A-apa itu tadi?" Busuknya kepada dirinya sendiri mengusap dadanya yang terasa berdetak lebih keras dari biasanya.
Setelah pemberhentian selanjutnya Laras turun dan berjalan melewati gedung-gedung rukuh dan setelah menyebrang dia akhirnya sampai di tempat kos nya, tapi ketika menyebrang dia ditarik kebelakang oleh seseorang.
Laras menoleh tidak percaya dan mendengar klakson mobil yang begitu memekak telinga dari jalan raya.
"Awas!" Pekik lelaki itu menarik Laras dari jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku... Tuan Putri?
Fantasi"A-aku... Siapa? Arabella?" Hans, karakter second lead di 'Darah Kaisar' yang aku sukai tidak punya happy ending yang aku inginkan. "Gimana kalau kamu aja yang buat Hans bahagia?" Pertanyaan itu langsung aku iyakan dan siapa sangka aku menjadi putr...
